Hahay… akhirnya saya comeback lagi niy. Pasti udah pada kangenkan sama cerita-cerita saya kan?! Hehe, ^///^
Ya udah ga usah pedulikan ocehan saya yang rada narsis itu. Kali ini saya nulis cerita dengan sudut pandang utamanya adalah Yano.
Cerita ini tercipta sudah lama di otak saya, Cuma baru bisa ngetiknya sekarang. Kali ini sad end lagi. Maaf kalau ga suka.
Sekali lagi ini cuma imajinasi saya *yang mungkin terlalu berlebihan* hehehe.
Oke. Lets read! AND LEAVE COMMENT PLEASE. Tolong JANGAN jadi SILENCE READER. Ini demi memompa semangat saya juga, hehe…
--------------------------------------------------------------
Title: Kesedihan
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: murni imajinasi saya
KESEDIHAN
Aku Yuno. Leader dari grup Pearl Blue. Ah, kurasa hal ini tidak perlu ku tulis bukan?
Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para Pearl lady (fans kami) yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.
Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terulang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.
Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis cerita untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.
“Rain in my heart… mou yamanai…”
Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Surya. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Ryo.
Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenandung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.
Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasti akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.
Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.
***
Hari itu…
Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Ryo tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.
“Terima kasih kamu berada di sisiku… jantungku berdebar-debar…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.
Air mata crying baby kami deras berjatuhan.
Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.
Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.
“Ryo?” panggilku.
Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.
Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.
“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya.
“Kau tahu? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”
Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.
“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.
Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.
“Kenapa…??” bisiknya.
Apa yang harus ku katakan?
“Kenapa, Yan…?” isakannya kembali terdengar. “Kenapa…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.
“Sudahlah, Yo…” kudengar suara Celvin. Sejak kapan dia di sini?
Surya juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Ryo. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.
“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.
Angga menyeka air matanya yang jatuh.
“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Ryo menjadi.
“Yo..” Angga mencoba bersuara tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.
“Katakan itu mimpi.” Suara Ryo makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.
Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.
“Jangan pergi, Ma…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.
***
Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.
Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menangis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.
Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!
Ryo mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Ryo kami ini.
***
Waktu itu…
Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Celvin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.
“Kenapa?” Bukannya menjawab, si bungsu di grup kami ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.
Aku menatapnya bingung.
“Dengar!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…
“Kak..” suara seorang gadis. Aku memandang Celvin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Kakak sendiri? Baik-baik saja kan?”
“Siapa?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.
Celvin mengakat bahunya. “Ini milik Ryo. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isinya suara gadis ini!” Wajah Celvin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.
“Benarkah?” aku segera mengeceknya. Benar! Suara itu lagi!
“Hey kak… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat kakak lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa kak, di sini ada aku yang mencemaskanmu. I love you kak Ryo..”
Kupandang Celvin. “Menurutmu siapa dia?”
“Aku curiga dia…” Celvin menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.
“Coba dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.
Aku mengarkan dengan seksama. “Kakak… tenanglah. Aku percaya pada kakak. Jika image kakak harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyataannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati kakak, setelah Tuhan dan orang tua kakak. Aku mencintaimu, Kak….”
Mulutku membulat. Terkejut.
Celvin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya.
“Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.
“Kak… aku sudah lihat mini FTV kalian. Whaa~ kakak keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Umm, Kak, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Maaf…. Tapi perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... Bagaimana ini?”
Kepala Celvin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-Yan.
“Jadi… gadis ini…”
Celvin mengangguk cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Kurasa dia kekasih Ryo. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.
Aku dan Celvin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.
Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Surya dan Angga yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sedang mencari sesuatu dengan cemas.
“Mencari apa?” tanyaku.
“Apa kau melihat hpku? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”
Aku melirik Celvin.
Ryo menatap Celvin. “Vin?”
Celvin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. maaf... aku dan Yano tadi membuka isinya.”
Wajah Ryo berubah. Diraihnya HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.
“Hampir…” ujer Celvin sambil cengengesan.
Ryo terduduk di sofa. Syok mungkin.
“Eh? Ada apa?” Angga dan Surya yang baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.
“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Ryo. Ryo tersenyum malu. Ia menggeleng.
“Rasanya sudah tidak bisa lagi. Maaf, karena merahasiakannya selama ini.”
“Soal apa?” Tanya Surya antusias.
“Jadi, ceritakan pada kami sekarang. Tetang cintamu itu.” Pinta Celvin dengan mata puppy eyes-nya.
Ryo menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Rianti,” mulainya sambil menatap HPnya. Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.
Kami mengangguk.
“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak bisa menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi aku malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”
Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.
“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”
“Hmm….” Gumam Surya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Ryo ini.
“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?” tanya Angga semangat.
Ryo tertawa kecil sambil mengangguk. “Iya.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.
“Sudah berapa lama kau dengannya?” tanya Celvin menyelidik.
“Tujuh tahun…”
“Hah???” kami terkejut bersamaan.
“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan.
“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”
“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Angga sambil memajukan wajahnya ke depan Ryo.
“Tidak.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”
“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.
“Bu-bukan.” Ryo tampak gugup. “Aku tak bermaksud begitu. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”
“Tapi apa?” Celvin tak sabar.
“Umm.. tapi… manajer melarangku.”
“Eh??” aku terkejut.
“Manajer??” Tanya Surya. “Jadi dia tahu??”
Ryo mengangguk.
“Sejak kapan?” tanyaku lambat.
“Dua tahun lalu.”
Kami mengangguk.
“Hmm..” gumamku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.
“Kau… serius dengannya?” tanya Angga.
Ryo mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.”
“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju.
Ryo menatap kami bergantian dan cerita tentang hubungannya dengan Rianti pun di mulai. “Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?
Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Rianti. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.
Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada laki—laki yang mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.
Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.
Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.
Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti, ‘Aku juga…’
Aku mendongak. ‘Eh?’
‘Aku juga menyukaimu…’ katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.
‘Sungguh?’
Dia mengangguk sambil tersenyum malu.
‘Yayyy~~~.’ aku berteriak gembira. Rianti pacarku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.
Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…
‘Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,’ ia menatapku, ‘Kita putus.’
‘Eh?’
Rianti menunduk.
Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?
‘A-aku mengerti…,’ ujerku terbata.
Rianti mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.
Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.
Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta, kan?
Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.
Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.
Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyenangkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya.
Ketika aku memutuskan ikut audisi M Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.
‘Benarkah?’ tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. ‘Kakak pasti lolos,’ ujernya riang.
‘Thanks… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.’
Ia menggeleng. ‘Tidak apa-apa. Jika itu impian kakak, maka impian kakak menjadi impianku juga.’
‘Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?’
‘Kakak cemas?’
Aku mengangguk gamang.
‘Bukankah aku yang harusnya cemas.’ Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. ‘Kekasihku akan semakin banyak punya fans.’ Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak wanita yang cantik. Kakak… pasti akan berpaling..’ sambungnya setengah berbisik.
‘Tidak~,’ tegasku segera. ‘Kau satu-satunya!’
‘Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan, Kak?’
‘Hei!!! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.’
Ia tersenyum dan mengangguk.
Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.
Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku, yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…
Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, Kak. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua kakak.’
Senyumku mengembang seketika.
Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?
Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,
‘Kakak… aku sudah lihat mini FTV kalian. Whaa~ kakak kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Kakak, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Maaf…. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... bagaimana ini?’
Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.”
“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan mendengar cerita Ryo barusan.
“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”
“O! yang waktu itu,” pekik Angga.
“Iya. Kau bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”
“O~” koor kami berkumandang lagi.
“Waktu itu aku menemui Rianti di tempat rahasia kami.
‘Kakak… apa kalimatku tadi membuat kakak cemas?’ ujernya takut.
Aku mendekat.
‘Ma-‘
Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.
‘Kakak…?’ ia terkejut.
Aku memeluknya erat. ‘Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar,’ ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.
‘Eh?’
‘Ternyata itu hatimu ya…’
‘Kakak…’ ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu.
‘Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?’
‘Um..Ya…’
Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?
‘Bukankah itu bunyi debaran hati kakak?’ lanjutnya.
Ah, ternyata dia tahu!! ‘Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.’
Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang.
‘Terima kasih…’ ujerku.
‘Eh?’
‘Terima kasih karena selalu mencemaskanku.’
Kurasakan dia mengangguk.
‘Terima kasih… karena sudah cemburu untukku.’ *gyaaa~~~~*
‘Kakak~’ ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.
‘Itu melegakanku, Ria…’ bisikku.
Rianti tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.
‘Aku mencintaimu, Kak…’ bisiknya pelan.
Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.
‘Kau di mana?’ tanyaku usai menanyakan kabarnya.
‘Kakak tidak tahu?’ ia balik bertanya.
‘Maksudmu?’
‘Bukankah selama ini aku ada di hati kakak?’ Dia menggodaku.
‘Hei!!’ Senyum bahagiaku merekah seketika.
‘Aku sedang di kamar, Kak.’ ujernya usai tergelak.
‘Sedang mengerjakan apa?’
‘Umm… tugas rutin.’
‘Tugas rutin?’ ulangku.
‘Hm-mm. Tugas memikirkan kakak sepanjang waktu.’
‘Hei!!’
Rianti tertawa lagi.
‘Kenapa justru kau yang menggodaku.’ ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Rianti makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.”
“Wowww….” Ujer Surya. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Ryo.
“Suit-suit!” Celvin bersuit heboh.
Kulihat wajah Ryo memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.
“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika Celvin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”
“Jangan-jangan…” Celvin menduga-duga.
Ryo tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.
“Whoaa.. Ryo… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Surya takjub.
Bugh!
Pukulan pelan mendarat di kepala Surya.
“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Angga. “Itu sudah tentu kan?!!”
Ryo tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.
“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.
Ryo mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.
“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Kekasihku’.
Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami.
“Cantik,” komentar Celvin.
Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.
“Hm-mm,” Surya ikut mendukung komentar Celvin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.
Ryo tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”
***
Hari yang bahagia setelah itu. Ryo selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Rianti usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Ryo bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.
***
“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Ryo bilang dia mau melamar Rianti.
“Iya.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.”
“HAH???” kami terkejut bersamaan.
Ryo mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”
“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yo,” ujerku.
“Semangat!” Celvin semangat mengatakannya.
“Kabari kami segera apa jawaban Rianti, ya?” pinta Angga.
Ryo mengangguk.
Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’.
Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.
Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.
Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Ryo yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Ryo dengan Rianti.
Semua berjalan lancar. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Ryo. Bahkan ada yang langsung memanggil Rianti dengan sebutan ‘Kakak terbaik’. Kami lega.
***
Kami bahagia. Hingga membuat kami lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.
Hari itu, seminggu sebelum pesta.
Ryo dan Rianti mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Ryo dan Rianti lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.
Merasa kehausan, Rianti pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Ryo masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas.
“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.
“Tidak usah. Fans diluar cukup banyak. Nanti Kakak malah tidak bisa lewat.”
“Tapi-“
“Tidak apa-apa,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.
Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Rianti dengan sebutan ‘Kakak’ aku lega. Kulihat Rianti membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.
Rianti menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.
Ryo menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi uman di tangannya.
“RIANTI??!!” teriakan Ryo mengagetkan kami.
“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.
Ryo dan kami berempat keluar.
RIanti tampak tak bergerak.
Ambulan membawa Rianti ke rumah sakit. Ryo ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.
Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.
Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.
“RIA!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Jangan pergi~” suaranya pilu sekali.
Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?
“Jawab aku, Ria?!!” Ryo tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Rianti yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Rianti, gadis yang begitu dicintai Ryo, telah tiada.
“Kenapa…?” lirih Ryo ketika upaca pemakaman usai. “Kenapa…?” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makam Rianti dan kembali menangis hebat.
Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan.
***
Kami mengetahui pelaku tabrak lari Rianti adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Ryo menikah dengan orang lain.
Apa kalian tahu, Ryo pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Rianti, maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola.”
Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi pearl lady. Menjaga hati pearl lady agar tidak terluka.
Rianti yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Ryo. Mendukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.
Lalu kenapa? KENAPA??
Kalian bilang mencintai Ryo. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?
Ah, maaf… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu.
Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.
Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Ryo?
“Apa dengan menerima maafmu, Rianti-ku kembali?”
Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Ryo langsung. Jawaban Ryo masih sama.
“Apa dengan memaafkan, Rainti-ku kembali?”
Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja.
***
“Yan?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Ryo memanggilku.
Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.
“Apa dengan memaafkan orang itu, Rianti-ku bisa kembali?”
Apa yang harus kujawab?
--End--
Hehehe… thanks udah baca…. Di tunggu komentarnya lho.
Bagi yang kena tag, WAJIB KOMENTAR lho~ ^^
Silahkan lanjut ke ceritaku yang lain ya~ XDXD
Monday, August 30, 2010
cerpen: Perasaan Tak Enak
Hm… kali ini ceritanya lebih panjang. Tapi rada bingung untuk judulnya nih.. apa yang cocok ya, hehe…
Langsung baca aja ya. Maaf kalau ceritanya gak jelas, hahaha…
--------------------------------------------------------------------------------------
Title: Perasaan Tak Enak
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: Diambil dari cerpen buatanku saat aku SMA (tepatnya tanggal 30 Oktober 2007) yang setelah kubuka lagi ternyata belum pernah ku publish, hehe…
PERASAAN TAK ENAK
Kutatap sosok di seberang sana yang tengah melambaikan tangannya padaku. Senyumnya mengembang tulus. Matanya berbinar penuh perasaan kasih. Namun, hatiku lagi-lagi menjerit. Jeritan yang sama dengan yang kurasa ketika dia jadian dengan Janu, sahabatku. Padahal, seharusnya aku merasa senang karena dia kini telah menjadi kekasihku. Bukankah ini yang kuinginkan?
Hfff… senang? Pantaskah?
Aku balas senyum Lena. Lantas kulajukan motorku meninggalkan sosoknya yang masih menatapku di teras rumahnya.
Rentetan peristiwa beberapa waktu lalu terungkap diingatanku. Buku kenangan di otakku tak mempedulikan perintahku yang melarangnya terbuka lebih lebar lagi.
Waktu itu…
***
Siswa-siswi di SMA Island sudah pulang. Tanpa sengaja aku melihat Janu menarik tangan Lena dengan keras. Ada satu rasa yang tak bisa kuartikan tampak di retina sahabatku itu.
Kubuntuti mereka yang melangkah ke taman samping sekolah
“Ada apa?” Tanya Lena sedikit takut.
Janu menatap Lena dengan tatapan sedih. Kilat perih ada di matanya. “Maaf…” lirih Janu sambil menjatuhkan pandangannya ke tanah.
“Maaf untuk apa?” Lena tampak bingung.
“Tolong… maafkan aku…”
“Tapi, maaf untuk apa, Nu?” Lena tenang.
“Hubungan kita.”
“Eh?” Lena manatap lekat Janu yang masih memandang tanah.
“Aku rasa… jauh lebih baik kalau kita akhiri saja.”
“A-apa?” Lena tak percaya dengan pendengarannya barusan. “Kamu bercanda kan, Nu?” ia menatap penuh harap.
“Maafkan aku…” lirih Janu berat.
Seketika wajah Lena berubah pucat. “Kenapa…?” lirinya. “Apa aku punya salah padamu?”
Janu menggeleng pelan.
Lena menatap sosok Janu lekat-lekat. Seolah mencari jawaban sesungguhnya yang disembunyikan laki-laki di depannya itu.
“Kau…jatuh cinta pada yang lain?” Tanya Lena lambat dan pelan.
“Eh?” kepala Janu mendongak. Kaget. “Ti-tidak. Bukan begitu. Tapi…”
“Aku mengerti…” potong Lena cepat. “Tidak apa-apa, Nu… Aku paham…” Lena berbalik. Melangkah meninggalkan Jany dengan mata basah.
“Bukan begitu, Len…” bisik Janu pelan, membuat Lena tak mendengarnya.
Aku kepal tanganku kuat-kuat. Menahan emosiku terhadap sahabatku itu yang telah tega melukai Lena, gadis yang kucintai.
Kulayangkan pandanganku pada sosok Janu yang membuang napas berkali-kali. Matanya tampak memerah. Apa… dia juga ingin menangis?
Ah, tidak ada waktu memikirkan orang seperti dia! Yang harus segera kutemani adalah Lena. Aku segera mencarinya.
Aku memenukan gadis berambut sebahu itu duduk sambil menangis di kursi taman kota tak begitu jauh dari sekolah. Kudekati dia perlahan.
“Hendra?” katanya kaget saat sadar aku sudah di depannya. Disekanya air matanya dengan segera.
“Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik,” ucapku lalu duduk di sampingnya.
Ia diam. Aku tahu dia sedang menatapku sekarang.
“Anggap aku pohon yang siap mendengar keluh-kesahmu.” kataku sambil mengalihkan pandanganku padanya.
Lena tertunduk. Air matanya jatuh lagi.
“Dia tiba-tiba memutus hubungan kami,” lirihnya di sela isakannya. “Andai dia memberi sinyal lebih dulu, aku mungkin…” kata-kata Lena tertahan. Air mata membanjiri pipinya. Kuulurkan sapu tanganku padanya.
“Thanks…” ucapnya setengah berbisik.
Setelah mengantar Lena pulang, aku segera menuju ke rumah Janu. Pas sekali dia ada di sana.
Tanpa permisi lagi, aku masuk ke kamarnya.
“Hen? Tumben tidak ketuk pintu dulu seperti biasanya. Ada apa?”
Bugh! Kutampar wajah Janu yang kelihatan tanpa dosa. Dia seolah tak menanggapi apa yang baru kulakukan. Dia duduk dan bersandar di dinding kamar sambil menusap pipinya yang memar. Pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka.
“Itu imbalan bagimu karena sudah menyakiti Lena!” bentakku.
Janu diam. Tak melakukan pembelaan. Biasanya dia akan bilang padaku, ‘Sikapmu menunjukkan kalau kau juga mencintainya!’ Tapi ini….
“Kau tahu perasaanku! Kau juga tahu Lena bahagia bersamamu! Bukankah sudah pernah kubilang, kalau kau menyakitinya, aku akan merebutnya darimu?!!”
Janu tersenyum tipis. Sangat tipis. “Karena itu… jaga dia.” Ucapnya pelan.
“Apa?” aku menatapnya bingung.
“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan membuat Lena terluka…” ia menatapku dengan wajah memohon.
“Apa yang kau katakana?!”
“Aku percaya padamu, Hen…” Ia berkata penuh keyakinan. Tak ada tanda-tanda dia sedang bercanda. Ada apa dengannya?
Beberapa hari setelah Lena putus dengan Janu…
Lena mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dirinya kehilangan ingatannya. Janu bukannya membantu Lena mengingat semuanya lagi tapi justru bertingkah tak peduli.
“Apa-apaan kau ini??” bentakku padanya. Dia masih dengan wajah tak peduli yang memuakkan itu. “Lena kehilangan ingatannya! Apa kau tak merasa bersalah sama sekali??” Aku mencengkram kerah bajunya. “Apa kau benar-benar tak peduli lagi dengannya??”
Janu membuang muka. Tapi, dengan jelas kulihat nanar di matanya. Apa yang dia sembunyikan?
“Aku tak bisa menjaganya lagi. Bukahkah dia sudah kuserahkan padamu?”
Aku tersenyum sinis. “Serahkan? Kau pikir dia barang?!!”
“Pokoknya aku tidak bisa.” Janu mencoba melepas cengkramanku.
“APA KAU BILANG?” aku melotot padanya.
“Kau punya foto bersamanya kan? Mengakulah kalau kau kekasihnya. Bawa foto itu agar dia percaya. Aku lebih rela jika dia bersamamu. Setidaknya aku sudah kenal betul siapa dirimu…”
“KAU?!!“ aku mengencangkan cengramanku.
“Hanya itu yang bias kulakukan untuknya. Maafkan aku…” Dia melepas paksa cengkramanku.
Aku berdecak kesal.
“Lagipula kau mencintainya kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mumpung aku merestui, hehe…”
Bugh!! Habis sudah sabarku. Kutampar dia sekuat tenaga. Pukulan ketigaku terhenti ketika kulihat dia ingin menangis. Kenapa??
“Kenapa harus dia… Dia yang sangat cinta menari, kenapa??” isak mamanya Janu. “Kanker tulang itu, kenapa memilih tubuh anak kita? Padahal dia belum mewujudkan cita-citanya. Satupun!”
Aku membeku. Terkejut. Benarkah yang ku dengar?
“Kau melamun?” tiba-tiba Janu menegurku dari belakang.
Kutatap dia. Kutanyakan tentang perkataan mamanya barusan.
“O~, sekarang kau sudah bisa menguping ya?” dia merangkul bahuku penuh rasa persahabatan. “Gawat!” dia memberikan cengiran khasnya padaku.
“Jangan sembunyikan apapun dariku!” kataku tajam.
Mata Janu berubah sayu. Jauh berbeda dari sebelumnya.
“Kau tahu kanker tulang tidak?” Katanya sambil menyeretku duduk di sofa di ruang tengah.
Aku menggeleng.
Wajah Janu mengguratkan luka yang sangat dalam. Ia mengehla napas berat. “Bulan depan, usai ujian… aku akan di kemoterapi…” lirihnya. Ia mencoba tersenyum tegar padaku. Tapi di mataku, justru senyum perih yang terbentuk.
“Tak lama lagi… aku… tak akan bisa berdiri dan berjalan dengan kedua kakiku…” ditatapnya kakinya. Ngilu menghantam hatiku. Janu yang senang sekali menari hip hop dan bercita-cita menjadi penari dan pelatih tari professional itu membuatku tak mampu berkata-kata.
“Jadi… karena ini…” kataku pelan.
“Eh?” dia mendongak.
“Karena ini kau putus dengan Lena?”
Dia diam tak mejawab. Tapi sorot matanya sudah menjawab dengan jujur.
Aku menarik napas. Merasa bersalah sudah berburuk sangka padanya. “Maafkan aku…” pintaku.
“Kau tak perlu minta maaf,” sahutnya tenang.
***
Aku menghela napas. Pasti. Ya, pasti, di hati Lena masih ada cinta untuk Janu. Aku yakin itu karena dua hari lalu kulihat gurat kecemasan pada wajahnya ketika Janu jatuh saat berjalan dan tak mampu bangkit lagi.
Waktu itu…
“Tidak apa-apa?” Tanya Lena. Janu mengangguk. Mencoba berdiri tapi gagal. Ia meringis kesakitan. Wajahnya memucat.
Aku segera mendekat dan memapahnya. Ia meringis. Aku berhenti dan menunduk. Menyuruhnya ke punggungku. Lena di samping Janu, mengelap keringat dingin laki-laki itu.
Aku membawanya ke rumah sakit. Lena ikut.
Di sana, guratan cemas Lena makin menjadi. Hatiku terguris. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega.
--
Sejak hari itu Lena lebih senang kalau ku ajak ke rumah sakit menjenguk Janu dari pada jalan-jalan. Kurasa, lebih baik aku mengatakan semua kebenarannya. Jika nanti dia ingat dan… Janu tiada (semoga tidak), Lena akan sangat membenciku. Lebih menyakitkan lagi kalau sampai dia tak tahu-menahu lagi padaku.
***
“Benar-benar maaf, Len… tapi itulah yang sebenarnya. Aku bukan kekasihmu baik sekarang maupun dulu. Maaf sudah berbohong padamu.” aku menunduk dalam. Tak berani melihat ekspresi Lena.
Kudengar Lena menghela napas berat. Dadaku sesak. Cemas dan ketakutan melandaku.
Ketika langkah pelannya makin menjauh, aku sadar dia tak memaafkanku.
Aku memutuskan menjenguk Janu. Kukatakan padanya bahwa aku sudah jujur tentang segala hal pada Lena. Janu berusaha memukul pundakku.
“Payah!” desisnya.
Aku tersenyum tipis. Karena sudah terlalu lama berkunjung, aku berpamitan.
Deg!
Aku baru keluar dan kakiku terkunci seketika saat melihat sosok Lena berjalan mendekat ke kamar rawat Janu.
Dia meraih gagang pintu tanpa melirik sedikitpun pada aku yang membeku.
Clek!
Gagang pintu diputarnya, bersamaan dengan itu kudengar….
“Terima kasih banyak, Hen…” katanya pelan.
“Eh?” Aku memandangnya.
Perlahan kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. Seulas senyum lembutnya terukir. “Terima kasih karena sudah jujur padaku.” Katanya lagi.
“Eh?! Y-Ya.” Sahutku gagap. Kupikir dia tak akan tahu-menahu lagi padaku.
Sekali lagi Lena memberikan senyum lembutnya. Kemudian dia masuk ke dalam.
Di depan pintu aku melihat dia mendekat ke ranjang Janu.
Janu mendongak dan matanya membulat. Tampak sekali dia terkejut.
Bugh!! Bugh!! Lena memukul Janu dengan tasnya beberapa kali. Membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
“Keterlaluan!!” desis Lena.
“Maaf…”
“Tsk! Kau menyebalkan!!” ujer Lena cemberut.
“Maaf…”
“Boleh… aku mencintaimu lagi, Nu?” tanya Lena pelan.
“EH?” jelas Janu terkejut.
“Aku memang belum ingat semuanya. Tapi aku janji aku akan berusaha mengingat semuanya. Aku… ingin di sisimu lagi.”
“Tapi aku… sudah tak seperti dulu lagi.” Janu menatap perih kedua kakinya.
“Aku tahu, karena itu biarkan aku di sisimu.”
Janu kembali menatap Lena. Senyum gadis itu berhasil membuat Janu mengangguk.
Selamat, Nu, Len… ^_^
Ah… Rasanya, keepingan-kepingan perasaan tak enak yang selama ini menggangguku perlahan mulai terangkat…
-End-
Bagaimana? Bagus tidak? Hehe ^^ Komen dunk… XDD
Langsung baca aja ya. Maaf kalau ceritanya gak jelas, hahaha…
--------------------------------------------------------------------------------------
Title: Perasaan Tak Enak
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: Diambil dari cerpen buatanku saat aku SMA (tepatnya tanggal 30 Oktober 2007) yang setelah kubuka lagi ternyata belum pernah ku publish, hehe…
PERASAAN TAK ENAK
Kutatap sosok di seberang sana yang tengah melambaikan tangannya padaku. Senyumnya mengembang tulus. Matanya berbinar penuh perasaan kasih. Namun, hatiku lagi-lagi menjerit. Jeritan yang sama dengan yang kurasa ketika dia jadian dengan Janu, sahabatku. Padahal, seharusnya aku merasa senang karena dia kini telah menjadi kekasihku. Bukankah ini yang kuinginkan?
Hfff… senang? Pantaskah?
Aku balas senyum Lena. Lantas kulajukan motorku meninggalkan sosoknya yang masih menatapku di teras rumahnya.
Rentetan peristiwa beberapa waktu lalu terungkap diingatanku. Buku kenangan di otakku tak mempedulikan perintahku yang melarangnya terbuka lebih lebar lagi.
Waktu itu…
***
Siswa-siswi di SMA Island sudah pulang. Tanpa sengaja aku melihat Janu menarik tangan Lena dengan keras. Ada satu rasa yang tak bisa kuartikan tampak di retina sahabatku itu.
Kubuntuti mereka yang melangkah ke taman samping sekolah
“Ada apa?” Tanya Lena sedikit takut.
Janu menatap Lena dengan tatapan sedih. Kilat perih ada di matanya. “Maaf…” lirih Janu sambil menjatuhkan pandangannya ke tanah.
“Maaf untuk apa?” Lena tampak bingung.
“Tolong… maafkan aku…”
“Tapi, maaf untuk apa, Nu?” Lena tenang.
“Hubungan kita.”
“Eh?” Lena manatap lekat Janu yang masih memandang tanah.
“Aku rasa… jauh lebih baik kalau kita akhiri saja.”
“A-apa?” Lena tak percaya dengan pendengarannya barusan. “Kamu bercanda kan, Nu?” ia menatap penuh harap.
“Maafkan aku…” lirih Janu berat.
Seketika wajah Lena berubah pucat. “Kenapa…?” lirinya. “Apa aku punya salah padamu?”
Janu menggeleng pelan.
Lena menatap sosok Janu lekat-lekat. Seolah mencari jawaban sesungguhnya yang disembunyikan laki-laki di depannya itu.
“Kau…jatuh cinta pada yang lain?” Tanya Lena lambat dan pelan.
“Eh?” kepala Janu mendongak. Kaget. “Ti-tidak. Bukan begitu. Tapi…”
“Aku mengerti…” potong Lena cepat. “Tidak apa-apa, Nu… Aku paham…” Lena berbalik. Melangkah meninggalkan Jany dengan mata basah.
“Bukan begitu, Len…” bisik Janu pelan, membuat Lena tak mendengarnya.
Aku kepal tanganku kuat-kuat. Menahan emosiku terhadap sahabatku itu yang telah tega melukai Lena, gadis yang kucintai.
Kulayangkan pandanganku pada sosok Janu yang membuang napas berkali-kali. Matanya tampak memerah. Apa… dia juga ingin menangis?
Ah, tidak ada waktu memikirkan orang seperti dia! Yang harus segera kutemani adalah Lena. Aku segera mencarinya.
Aku memenukan gadis berambut sebahu itu duduk sambil menangis di kursi taman kota tak begitu jauh dari sekolah. Kudekati dia perlahan.
“Hendra?” katanya kaget saat sadar aku sudah di depannya. Disekanya air matanya dengan segera.
“Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik,” ucapku lalu duduk di sampingnya.
Ia diam. Aku tahu dia sedang menatapku sekarang.
“Anggap aku pohon yang siap mendengar keluh-kesahmu.” kataku sambil mengalihkan pandanganku padanya.
Lena tertunduk. Air matanya jatuh lagi.
“Dia tiba-tiba memutus hubungan kami,” lirihnya di sela isakannya. “Andai dia memberi sinyal lebih dulu, aku mungkin…” kata-kata Lena tertahan. Air mata membanjiri pipinya. Kuulurkan sapu tanganku padanya.
“Thanks…” ucapnya setengah berbisik.
Setelah mengantar Lena pulang, aku segera menuju ke rumah Janu. Pas sekali dia ada di sana.
Tanpa permisi lagi, aku masuk ke kamarnya.
“Hen? Tumben tidak ketuk pintu dulu seperti biasanya. Ada apa?”
Bugh! Kutampar wajah Janu yang kelihatan tanpa dosa. Dia seolah tak menanggapi apa yang baru kulakukan. Dia duduk dan bersandar di dinding kamar sambil menusap pipinya yang memar. Pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka.
“Itu imbalan bagimu karena sudah menyakiti Lena!” bentakku.
Janu diam. Tak melakukan pembelaan. Biasanya dia akan bilang padaku, ‘Sikapmu menunjukkan kalau kau juga mencintainya!’ Tapi ini….
“Kau tahu perasaanku! Kau juga tahu Lena bahagia bersamamu! Bukankah sudah pernah kubilang, kalau kau menyakitinya, aku akan merebutnya darimu?!!”
Janu tersenyum tipis. Sangat tipis. “Karena itu… jaga dia.” Ucapnya pelan.
“Apa?” aku menatapnya bingung.
“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan membuat Lena terluka…” ia menatapku dengan wajah memohon.
“Apa yang kau katakana?!”
“Aku percaya padamu, Hen…” Ia berkata penuh keyakinan. Tak ada tanda-tanda dia sedang bercanda. Ada apa dengannya?
Beberapa hari setelah Lena putus dengan Janu…
Lena mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dirinya kehilangan ingatannya. Janu bukannya membantu Lena mengingat semuanya lagi tapi justru bertingkah tak peduli.
“Apa-apaan kau ini??” bentakku padanya. Dia masih dengan wajah tak peduli yang memuakkan itu. “Lena kehilangan ingatannya! Apa kau tak merasa bersalah sama sekali??” Aku mencengkram kerah bajunya. “Apa kau benar-benar tak peduli lagi dengannya??”
Janu membuang muka. Tapi, dengan jelas kulihat nanar di matanya. Apa yang dia sembunyikan?
“Aku tak bisa menjaganya lagi. Bukahkah dia sudah kuserahkan padamu?”
Aku tersenyum sinis. “Serahkan? Kau pikir dia barang?!!”
“Pokoknya aku tidak bisa.” Janu mencoba melepas cengkramanku.
“APA KAU BILANG?” aku melotot padanya.
“Kau punya foto bersamanya kan? Mengakulah kalau kau kekasihnya. Bawa foto itu agar dia percaya. Aku lebih rela jika dia bersamamu. Setidaknya aku sudah kenal betul siapa dirimu…”
“KAU?!!“ aku mengencangkan cengramanku.
“Hanya itu yang bias kulakukan untuknya. Maafkan aku…” Dia melepas paksa cengkramanku.
Aku berdecak kesal.
“Lagipula kau mencintainya kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mumpung aku merestui, hehe…”
Bugh!! Habis sudah sabarku. Kutampar dia sekuat tenaga. Pukulan ketigaku terhenti ketika kulihat dia ingin menangis. Kenapa??
“Kenapa harus dia… Dia yang sangat cinta menari, kenapa??” isak mamanya Janu. “Kanker tulang itu, kenapa memilih tubuh anak kita? Padahal dia belum mewujudkan cita-citanya. Satupun!”
Aku membeku. Terkejut. Benarkah yang ku dengar?
“Kau melamun?” tiba-tiba Janu menegurku dari belakang.
Kutatap dia. Kutanyakan tentang perkataan mamanya barusan.
“O~, sekarang kau sudah bisa menguping ya?” dia merangkul bahuku penuh rasa persahabatan. “Gawat!” dia memberikan cengiran khasnya padaku.
“Jangan sembunyikan apapun dariku!” kataku tajam.
Mata Janu berubah sayu. Jauh berbeda dari sebelumnya.
“Kau tahu kanker tulang tidak?” Katanya sambil menyeretku duduk di sofa di ruang tengah.
Aku menggeleng.
Wajah Janu mengguratkan luka yang sangat dalam. Ia mengehla napas berat. “Bulan depan, usai ujian… aku akan di kemoterapi…” lirihnya. Ia mencoba tersenyum tegar padaku. Tapi di mataku, justru senyum perih yang terbentuk.
“Tak lama lagi… aku… tak akan bisa berdiri dan berjalan dengan kedua kakiku…” ditatapnya kakinya. Ngilu menghantam hatiku. Janu yang senang sekali menari hip hop dan bercita-cita menjadi penari dan pelatih tari professional itu membuatku tak mampu berkata-kata.
“Jadi… karena ini…” kataku pelan.
“Eh?” dia mendongak.
“Karena ini kau putus dengan Lena?”
Dia diam tak mejawab. Tapi sorot matanya sudah menjawab dengan jujur.
Aku menarik napas. Merasa bersalah sudah berburuk sangka padanya. “Maafkan aku…” pintaku.
“Kau tak perlu minta maaf,” sahutnya tenang.
***
Aku menghela napas. Pasti. Ya, pasti, di hati Lena masih ada cinta untuk Janu. Aku yakin itu karena dua hari lalu kulihat gurat kecemasan pada wajahnya ketika Janu jatuh saat berjalan dan tak mampu bangkit lagi.
Waktu itu…
“Tidak apa-apa?” Tanya Lena. Janu mengangguk. Mencoba berdiri tapi gagal. Ia meringis kesakitan. Wajahnya memucat.
Aku segera mendekat dan memapahnya. Ia meringis. Aku berhenti dan menunduk. Menyuruhnya ke punggungku. Lena di samping Janu, mengelap keringat dingin laki-laki itu.
Aku membawanya ke rumah sakit. Lena ikut.
Di sana, guratan cemas Lena makin menjadi. Hatiku terguris. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega.
--
Sejak hari itu Lena lebih senang kalau ku ajak ke rumah sakit menjenguk Janu dari pada jalan-jalan. Kurasa, lebih baik aku mengatakan semua kebenarannya. Jika nanti dia ingat dan… Janu tiada (semoga tidak), Lena akan sangat membenciku. Lebih menyakitkan lagi kalau sampai dia tak tahu-menahu lagi padaku.
***
“Benar-benar maaf, Len… tapi itulah yang sebenarnya. Aku bukan kekasihmu baik sekarang maupun dulu. Maaf sudah berbohong padamu.” aku menunduk dalam. Tak berani melihat ekspresi Lena.
Kudengar Lena menghela napas berat. Dadaku sesak. Cemas dan ketakutan melandaku.
Ketika langkah pelannya makin menjauh, aku sadar dia tak memaafkanku.
Aku memutuskan menjenguk Janu. Kukatakan padanya bahwa aku sudah jujur tentang segala hal pada Lena. Janu berusaha memukul pundakku.
“Payah!” desisnya.
Aku tersenyum tipis. Karena sudah terlalu lama berkunjung, aku berpamitan.
Deg!
Aku baru keluar dan kakiku terkunci seketika saat melihat sosok Lena berjalan mendekat ke kamar rawat Janu.
Dia meraih gagang pintu tanpa melirik sedikitpun pada aku yang membeku.
Clek!
Gagang pintu diputarnya, bersamaan dengan itu kudengar….
“Terima kasih banyak, Hen…” katanya pelan.
“Eh?” Aku memandangnya.
Perlahan kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. Seulas senyum lembutnya terukir. “Terima kasih karena sudah jujur padaku.” Katanya lagi.
“Eh?! Y-Ya.” Sahutku gagap. Kupikir dia tak akan tahu-menahu lagi padaku.
Sekali lagi Lena memberikan senyum lembutnya. Kemudian dia masuk ke dalam.
Di depan pintu aku melihat dia mendekat ke ranjang Janu.
Janu mendongak dan matanya membulat. Tampak sekali dia terkejut.
Bugh!! Bugh!! Lena memukul Janu dengan tasnya beberapa kali. Membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
“Keterlaluan!!” desis Lena.
“Maaf…”
“Tsk! Kau menyebalkan!!” ujer Lena cemberut.
“Maaf…”
“Boleh… aku mencintaimu lagi, Nu?” tanya Lena pelan.
“EH?” jelas Janu terkejut.
“Aku memang belum ingat semuanya. Tapi aku janji aku akan berusaha mengingat semuanya. Aku… ingin di sisimu lagi.”
“Tapi aku… sudah tak seperti dulu lagi.” Janu menatap perih kedua kakinya.
“Aku tahu, karena itu biarkan aku di sisimu.”
Janu kembali menatap Lena. Senyum gadis itu berhasil membuat Janu mengangguk.
Selamat, Nu, Len… ^_^
Ah… Rasanya, keepingan-kepingan perasaan tak enak yang selama ini menggangguku perlahan mulai terangkat…
-End-
Bagaimana? Bagus tidak? Hehe ^^ Komen dunk… XDD
cerpen: Memories of Heart
Kali ini lebih panjang, hehehe…
Sad end lagi ga ya??? Menurut kalian?
Temukan jawabannya dengan membaca cerita pendek ini, hehehe ^___^
---------------------------------------------------------
Title: Memories of Heart
Penulis: Imah Hyun Ae
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD
MEMORIES OF HEART
~Celvin~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Aku terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Sungguh…Aku sungguh merindukanmu…
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Justin.”
“Lalu?” ujer Justin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Justin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Mia’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Justin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***
~Justin~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Celvin. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Mia.
Jika Celvin mengenang Mia, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, Bella.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Nicholas melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Bella, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Aku sungguh mencintaimu…
***
~Nicholas~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dengan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Nicholas!! Cepat!” teriak Justin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Celvin saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Robert menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***
~Robert~
Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Kau, senior bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu, pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Sungguh aku merindukanmu…” bisikku.
“Hei, Robert!!!” aku terkejut. Seseorang melongokan kepalanya dai jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… senior itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini. John.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bisa menasehati, John!” tegurku.
“Apa?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Sandara sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“A-apa? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, John!”
John langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Senior… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***
~John~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Sandara.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untukmu, kok.”
Kata itu menyakitiku, Sandara…
“Sungguh? Thanks…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang John yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Sandara…?
***
--------------------------------------------------------
Tamat ^^
Gimana?? Sebenarnya kalau di perpanjang lebih bagus lagi kan? Mau sih… namun setelah aku melihat semua catatanku, aku shok!!! Ada banyak judul yang belum kutulis dan ku tamatkan! Jadinya… sampai di sini saja dulu. Kalau ada ilham lagi, akan kusambung lagi. Hahaha XDXD
Maaf… kalau kalian kecewa, m(_ _)m
Sad end lagi ga ya??? Menurut kalian?
Temukan jawabannya dengan membaca cerita pendek ini, hehehe ^___^
---------------------------------------------------------
Title: Memories of Heart
Penulis: Imah Hyun Ae
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD
MEMORIES OF HEART
~Celvin~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Aku terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Sungguh…Aku sungguh merindukanmu…
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Justin.”
“Lalu?” ujer Justin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Justin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Mia’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Justin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***
~Justin~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Celvin. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Mia.
Jika Celvin mengenang Mia, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, Bella.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Nicholas melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Bella, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Aku sungguh mencintaimu…
***
~Nicholas~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dengan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Nicholas!! Cepat!” teriak Justin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Celvin saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Robert menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***
~Robert~
Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Kau, senior bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu, pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Sungguh aku merindukanmu…” bisikku.
“Hei, Robert!!!” aku terkejut. Seseorang melongokan kepalanya dai jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… senior itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini. John.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bisa menasehati, John!” tegurku.
“Apa?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Sandara sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“A-apa? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, John!”
John langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Senior… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***
~John~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Sandara.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untukmu, kok.”
Kata itu menyakitiku, Sandara…
“Sungguh? Thanks…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang John yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Sandara…?
***
--------------------------------------------------------
Tamat ^^
Gimana?? Sebenarnya kalau di perpanjang lebih bagus lagi kan? Mau sih… namun setelah aku melihat semua catatanku, aku shok!!! Ada banyak judul yang belum kutulis dan ku tamatkan! Jadinya… sampai di sini saja dulu. Kalau ada ilham lagi, akan kusambung lagi. Hahaha XDXD
Maaf… kalau kalian kecewa, m(_ _)m
cerpen: Hujan di Hati Kita
Ini dari Short FF-ku. Kuharap kalian menyukainya ^^
And mohon beri komentarmu my dear reader XD
Let read! XD
--------------------------------------------------------------
Title: Hujan di Hati Kita
Disclaimer: dapat inspirasi ketika merenungi HP yang rusak, hehe
Music: *pilih sendiri aja music apa yang cocok untuk cerita ini, hehe*
HUJAN DI HATI KITA
Dia diam-diam memperhatikan sosok tinggi dan tampan di sana. Selalu. Sosok yang seumuran denganku. Sosok yang bahkan suara tingginya tidak dapat kusaingi. Sosok yang amat sangat cocok menjadi seorang idola.
“Kau sibuk?” kutegur dia yang sejak tadi bersembunyi di balik sebuah pintu ruang latihan grup boy band Prince. Dia terperanjat.
“Aldo?” tegurnya sambil mengurut dadanya. “Kenapa?” tanyanya. Dia asisten penata busana kami. Kabarnya sih, keponakannya. Anehnya dia tidak selalu mengikuti ke manapun penata busana kami pergi.
“Tolong belikan minuman dingin.” Aku menyerahkan uang padanya.
“Minuman seperti biasa?”
Aku mengangguk. Aku memang sering memintanya membelikanku minuman. Bukan apa-apa. Aku… hanya ingin ada alasan untuk menegurnya. Hanya ingin menatap lebih dekat. Hanya ingin mendengar suaranya meski sedikit. “Ku tunggu di ruang latihan kami ya?”
Dia mengangguk lagi dan berlalu usai mengambil uang dari tanganku.
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Sebenarnya, alasan aku memintanya membelikan minuman adalah karena tidak tahan melihatnya menatap Irwan diam-diam seperti tadi. Hatiku sakit. Dadaku sesak!
Sering hatiku bertanya, kenapa dia tidak melihat ke arahku? Aku benar-benar ingin bilang padanya ‘Ada aku yang memperhatikanmu, Tya.’
***
Di lain waktu.
Aku menuju atap gedung. Latihan untuk show kami baru saja berakhir. Aku meregangkan otot di sana dan melihat satu sosok yang amat kukenal. Tya.
Sengaja aku duduk di sampingnya. Jarak kami sekitar tiga puluh centimeter.
Dia menoleh ketika aku duduk.
“Tidak apa-apa kan?”
“Ah, ya…” ujermya sambil mengangguk ragu. Kami terdiam cukup lama. Hanya angin musim gugur yang sesekali menyapa kulit kami.
“Kau Prince holic?” tanyaku mendadak. Bukan awal perbincangan yang baik kan?
Dia diam sesaat lalu mengangguk. “Tapi fans kalian juga.” Senyumnya mengembang. Membuat dadaku kembali berdebar.
Melihat reaksiku yang diam, dia berguman tak jelas. Terlihat cemas.
“Sebenarnya…” aku menelan ludah ketika dia menoleh. Haruskah kutanyakan? Bukankah terlihat sangat jelas? “… inti pertanyaanku bukan itu,” sambungku berat. Hatiku melawan pikiranku.
“Eh?” ia bingung.
Aku menghela napas. “Apa… kau mencintainya?”
“Si..Siapa?”
“Irwan dari grup Prince. Kau mencintainya kan?” tenggorokanku sakit mengatakan hal itu.
“Ti… Tidak!” jawabnya gugup. “A..aku… cuma fansnya. Iya, fansnya, hehe…” tawanya terdengar aneh
“Kenapa memilih tidak mengaku?” paksaku.
Dia menggigit bibir bawahnya. “Apa perasaanku terlihat begitu jelas?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk lambat. Secara tidak langsung dia sudah mengakuinya.“Buatku, sangat jelas terlihat.”
Dia menundukkan kepalanya. “Padahal aku sudah snagat hati-hati menutupi perasaanku.” Lirihnya. Dia kembali menatapku, tapi kali ini dengan mata penuh harap. “Tolong, rahasiakan ini ya?”
“Kenapa di rahasiakan?” padahal, tanpa dia minta, aku pasti merahasiakannya. Aku tak mau dia bersama dengan laki-laki bersuara tinggi itu.
“Peraturan management, kau tentu tahu kan?”
A~ peraturan tidak boleh pacaran itu. Apa dia yakin akan diterima Irwan ketika menyatakan perasaannya?
“Tidak boleh ada yang tahu.” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
“Mencintai seseorang tidak salah kan?” kataku.
Dia mengangguk lemah. “Mungkin…” dia berdehem sekali. “Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya.”
Aku tersenyum sinis. Alasan apa itu?
“Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku. Seharusnya perasaan ini berhenti. Tapi aku tak bisa.” Wajahnya terlihat sedih.
“Aku tahu dia penyuka wanita yang lebih tua, sama denganmu dan yang lain kan?” sambungnya pelan sambil memainkan jemarinya. Dia memang lebih muda dua tahun dariku.
“Meski begitu, karena cinta itu buta, ia akan jatuh pada siapa saja tanpa peduli dengan kriteria kita kan?” aku terdengar membelanya. Tapi sebenarnya itu adalah kejujuranku. Walau dia buka wanita idamanku, hatiku memilihnya.
Dia tersenyum tipis. Diambilnya ipodnya dan memasang headsetnya. “Mau ikut dengar?” tawarnya.
Aku menggeleng. Aku paham. Dia tak mau membahas hal itu lagi.
Kupandangi jalanan di bawah. Waktu serasa berhenti ketika kudengar senandungnya. Suaranya merdu sekali. Seperti mendengar nyanyian bidadari surga. Kurasa dia pantas jadi penyanyi
***
Aku terpaku di tempatku berdiri. Satu sosok dengan aksinya yang memukau. Dengan tariannya yang indah dan suaranya yang mempesona. Dan penghayatan yang dalam. Senyum bahagia seperti kebahagiaan di lagu itu. Dia… Tya.
Aku segera ke tempat ini ketika manajer bilang ternyata Tya adalah salah satu trainee rahasia yang di siapkan untuk sebuah grup girl band ‘Miracle’ beranggotakan enam orang. Dia disiapkan sebagai senjata utama. Vocal utama dan dancer utama. Ia bahkan di latih khusus dalam sebuah teater agar bisa mengeluarkan penjiwaan dan ekspresi yang pas untuk menegaskan makna lagu itu.
Aku teringat kata-katanya di atap manajemen waktu itu: ‘Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya. Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku.’ Jadi, maksud kalimatnya adalah keberadaannya dan kemampuannya di grup ini.
Host memintanya menyanyi lagu yang paling disukainya. Dia tersenyum sesaat dan lagu Matahriku yang dinyanyikan oleh Agnes Monica menegaskan karakter suaranya. Menegaskan perasaannya.
Aku tercenung. Sadar… kesempatanku berbicara padanya tak akan seperti dulu lagi. Sejak awal, memang cinta ini hanya bisa diteriakan di dalam hati. Cintanya pada Irwan dan cintaku padanya, tak akan pernah tersampaikan. Ini harus jadi rahasia di hati kami sendiri.
Sekarang, sepertinya, akulah yang harus menatapnya diam-diam di sudut ini. Tak boleh ada yang tahu.
-End-
Bagaimana? Bagus tidak? Hehehe….
And mohon beri komentarmu my dear reader XD
Let read! XD
--------------------------------------------------------------
Title: Hujan di Hati Kita
Disclaimer: dapat inspirasi ketika merenungi HP yang rusak, hehe
Music: *pilih sendiri aja music apa yang cocok untuk cerita ini, hehe*
HUJAN DI HATI KITA
Dia diam-diam memperhatikan sosok tinggi dan tampan di sana. Selalu. Sosok yang seumuran denganku. Sosok yang bahkan suara tingginya tidak dapat kusaingi. Sosok yang amat sangat cocok menjadi seorang idola.
“Kau sibuk?” kutegur dia yang sejak tadi bersembunyi di balik sebuah pintu ruang latihan grup boy band Prince. Dia terperanjat.
“Aldo?” tegurnya sambil mengurut dadanya. “Kenapa?” tanyanya. Dia asisten penata busana kami. Kabarnya sih, keponakannya. Anehnya dia tidak selalu mengikuti ke manapun penata busana kami pergi.
“Tolong belikan minuman dingin.” Aku menyerahkan uang padanya.
“Minuman seperti biasa?”
Aku mengangguk. Aku memang sering memintanya membelikanku minuman. Bukan apa-apa. Aku… hanya ingin ada alasan untuk menegurnya. Hanya ingin menatap lebih dekat. Hanya ingin mendengar suaranya meski sedikit. “Ku tunggu di ruang latihan kami ya?”
Dia mengangguk lagi dan berlalu usai mengambil uang dari tanganku.
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Sebenarnya, alasan aku memintanya membelikan minuman adalah karena tidak tahan melihatnya menatap Irwan diam-diam seperti tadi. Hatiku sakit. Dadaku sesak!
Sering hatiku bertanya, kenapa dia tidak melihat ke arahku? Aku benar-benar ingin bilang padanya ‘Ada aku yang memperhatikanmu, Tya.’
***
Di lain waktu.
Aku menuju atap gedung. Latihan untuk show kami baru saja berakhir. Aku meregangkan otot di sana dan melihat satu sosok yang amat kukenal. Tya.
Sengaja aku duduk di sampingnya. Jarak kami sekitar tiga puluh centimeter.
Dia menoleh ketika aku duduk.
“Tidak apa-apa kan?”
“Ah, ya…” ujermya sambil mengangguk ragu. Kami terdiam cukup lama. Hanya angin musim gugur yang sesekali menyapa kulit kami.
“Kau Prince holic?” tanyaku mendadak. Bukan awal perbincangan yang baik kan?
Dia diam sesaat lalu mengangguk. “Tapi fans kalian juga.” Senyumnya mengembang. Membuat dadaku kembali berdebar.
Melihat reaksiku yang diam, dia berguman tak jelas. Terlihat cemas.
“Sebenarnya…” aku menelan ludah ketika dia menoleh. Haruskah kutanyakan? Bukankah terlihat sangat jelas? “… inti pertanyaanku bukan itu,” sambungku berat. Hatiku melawan pikiranku.
“Eh?” ia bingung.
Aku menghela napas. “Apa… kau mencintainya?”
“Si..Siapa?”
“Irwan dari grup Prince. Kau mencintainya kan?” tenggorokanku sakit mengatakan hal itu.
“Ti… Tidak!” jawabnya gugup. “A..aku… cuma fansnya. Iya, fansnya, hehe…” tawanya terdengar aneh
“Kenapa memilih tidak mengaku?” paksaku.
Dia menggigit bibir bawahnya. “Apa perasaanku terlihat begitu jelas?” tanyanya cemas.
Aku mengangguk lambat. Secara tidak langsung dia sudah mengakuinya.“Buatku, sangat jelas terlihat.”
Dia menundukkan kepalanya. “Padahal aku sudah snagat hati-hati menutupi perasaanku.” Lirihnya. Dia kembali menatapku, tapi kali ini dengan mata penuh harap. “Tolong, rahasiakan ini ya?”
“Kenapa di rahasiakan?” padahal, tanpa dia minta, aku pasti merahasiakannya. Aku tak mau dia bersama dengan laki-laki bersuara tinggi itu.
“Peraturan management, kau tentu tahu kan?”
A~ peraturan tidak boleh pacaran itu. Apa dia yakin akan diterima Irwan ketika menyatakan perasaannya?
“Tidak boleh ada yang tahu.” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
“Mencintai seseorang tidak salah kan?” kataku.
Dia mengangguk lemah. “Mungkin…” dia berdehem sekali. “Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya.”
Aku tersenyum sinis. Alasan apa itu?
“Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku. Seharusnya perasaan ini berhenti. Tapi aku tak bisa.” Wajahnya terlihat sedih.
“Aku tahu dia penyuka wanita yang lebih tua, sama denganmu dan yang lain kan?” sambungnya pelan sambil memainkan jemarinya. Dia memang lebih muda dua tahun dariku.
“Meski begitu, karena cinta itu buta, ia akan jatuh pada siapa saja tanpa peduli dengan kriteria kita kan?” aku terdengar membelanya. Tapi sebenarnya itu adalah kejujuranku. Walau dia buka wanita idamanku, hatiku memilihnya.
Dia tersenyum tipis. Diambilnya ipodnya dan memasang headsetnya. “Mau ikut dengar?” tawarnya.
Aku menggeleng. Aku paham. Dia tak mau membahas hal itu lagi.
Kupandangi jalanan di bawah. Waktu serasa berhenti ketika kudengar senandungnya. Suaranya merdu sekali. Seperti mendengar nyanyian bidadari surga. Kurasa dia pantas jadi penyanyi
***
Aku terpaku di tempatku berdiri. Satu sosok dengan aksinya yang memukau. Dengan tariannya yang indah dan suaranya yang mempesona. Dan penghayatan yang dalam. Senyum bahagia seperti kebahagiaan di lagu itu. Dia… Tya.
Aku segera ke tempat ini ketika manajer bilang ternyata Tya adalah salah satu trainee rahasia yang di siapkan untuk sebuah grup girl band ‘Miracle’ beranggotakan enam orang. Dia disiapkan sebagai senjata utama. Vocal utama dan dancer utama. Ia bahkan di latih khusus dalam sebuah teater agar bisa mengeluarkan penjiwaan dan ekspresi yang pas untuk menegaskan makna lagu itu.
Aku teringat kata-katanya di atap manajemen waktu itu: ‘Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya. Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku.’ Jadi, maksud kalimatnya adalah keberadaannya dan kemampuannya di grup ini.
Host memintanya menyanyi lagu yang paling disukainya. Dia tersenyum sesaat dan lagu Matahriku yang dinyanyikan oleh Agnes Monica menegaskan karakter suaranya. Menegaskan perasaannya.
Aku tercenung. Sadar… kesempatanku berbicara padanya tak akan seperti dulu lagi. Sejak awal, memang cinta ini hanya bisa diteriakan di dalam hati. Cintanya pada Irwan dan cintaku padanya, tak akan pernah tersampaikan. Ini harus jadi rahasia di hati kami sendiri.
Sekarang, sepertinya, akulah yang harus menatapnya diam-diam di sudut ini. Tak boleh ada yang tahu.
-End-
Bagaimana? Bagus tidak? Hehehe….
cerpen: Hati yang Salah
Hm… dari short FF-ku lagi. Maaf kalau ceritanya gaje.
Di tunggu komentarnya di sini hehehe…
-------------------------------------------------------------
Title: Hati yang Salah
Music: *pilih sendiri aja ya*
HATI YANG SALAH
Cinta itu… kenapa harus menyakitkan?
Aku perlahan membuka hati untuknya. Untuk seorang laki-laki yang lebih muda tiga tahun dariku. Laki-laki yang kuarasa tak akan bisa menjagaku, yang bagiku hanya menganggap cinta itu cuma permaianan. Tapi itu dulu. Jauh sebelum cinta itu mengikat hatiku.
“Kenapa harus kau, Arumi?” wanita empat puluh lima tahun itu memandangku penuh luka. Ruangan pribadi direstoran ini terasa mencekam. Sekali lagi ia menorehkan luka di hatiku. Luka yang tak bisa ku maafkan. Karena demi karirnya, dia meninggalkan aku dan ayah. Pergi begitu saja. aku tak akan pernah tahu dialah ibuku, jika ayah tak menyimpan fotonya dan bibi tidak tahu rahasia hubungan mereka.
Apa cintaku sebuah kesalahan?
Aku menggenggam tanganku kuat. Air mata sudah menggantung di pelupuk mataku. Rasanya perih itu makin dalam saat ingat hari itu. Hari di mana dia hadir si sebuah acara dan memperkenalkan anaknya.
Waktu itu dadaku terasa sesak. Aku terkunci ditempatku berdiri. Anaknya yang dia sembunyikan dari publik ada di layar kaca itu. Bukan, bukan aku. Tapi anaknya yang lain yang lebih beruntung karena diakuinya. Dia terlalu mencintai suaminya yang sekarang. Atau mungkin hartanya?
Perasaan ini datang tanpa ku pinta, bisakah aku mengakhirinya?
Aku mengajak laki-laki itu kemari. Mau bertemu empat mata di restoran ini. Memperjelas apa hubungannya dengan wanita yang kubenci itu, juga mengakhiri hubungan kami. Tapi ternyata, dia justru datang dan mengajak wanita tua itu ke sini. Bahkan dengan ceria mengenalklan aku sebagai kekasihnya.
‘Maksudmu…’ wanita itu memandangku tak percaya beberapa menit yang lalu. ‘Sudah berapa lama?’
‘Menjalani lima bulan,’ jawab lelaki imut itu.
Ia mengangguk lalu meminta anak kesayangannya itu mengambilkan barangnnya yang tertinggal di mobil. Aku tahu, dia bohong. Dia ingin bicara empat mata denganku.
Dan di sinilah aku. Menghadapinya yang semakin berang padaku.
Satu pesan masuk ke HPku.
Pengirim: Andre sayangku
‘Maaf.. tidak mengatakannya padamu. Aku sengaja mengajak mama. Aku ingin kau tahu kalau aku serius denganmu. Tenang saja… mama orangnya baik dan lembut, jadi jangan khawatir ^^ Love You ^^’
Air mataku makin tebal menggantung.
Kenapa aku jatuh cinta padamu?
“Kenapa harus kau?” ulang wanita di depanku. “Kau kakaknya kau tahu itu???” ucapnya dingin.
Air mataku jatuh. Untuk pertama kalinya aku menangis di depan wanita itu.
“Kenapa menangis? Kau menyesal?” ujernya tanpa ada rasa simpati sedikitpun. Ia tersenyum sinis.
“Aku memang menyesal,” isakku. “AKu menyesal karena kau ibuku!” kataku tajam. “Juga ibunya,” lirihku pedih.
Aku beridiri dan beranjak pergi. Keseka air mataku yang kembali jatuh. Andre yang sepertinya baru kembali dari parkiran melihat aneh padaku. Dia mendekatiku tapi aku menghidar.
“Arumi!” ia menarik tanganku. “Kenapa?” tanyanya cemas saat melihat mataku yang memerah.
“Kita putus,” ujerku terbata.
“Apa..?” ia menatapku tak percaya.
“Aku memintamu bertemu hari ini untuk menyampaikan itu, Ndre.” Dadaku sesak saat mengatakannya. “Maaf…”
“Kau bercanda kan?” ia menatap mataku.
“Maafkan aku…” Aku segera melepas genggamannya dan berlari sekuatku. Ia terpaku sesaat lantas mengejarku.
Aku masuk ke dalam taksi dan pergi. Tak peduli dengan dia yang berteriak dan memukul-mukul kaca dengan panik.
Sambil menangis aku mengambil HPku. Mematikannnya dan mengambil SIM cardnya. lantas mematahkannya. Mulai sekarang aku tak boleh berhubungan dengannya.
Tolong jangan ikat hatiku!! Karena aku mungkin tak akan sanggup memandangmu.
-END-
Di tunggu komentarnya di sini hehehe…
-------------------------------------------------------------
Title: Hati yang Salah
Music: *pilih sendiri aja ya*
HATI YANG SALAH
Cinta itu… kenapa harus menyakitkan?
Aku perlahan membuka hati untuknya. Untuk seorang laki-laki yang lebih muda tiga tahun dariku. Laki-laki yang kuarasa tak akan bisa menjagaku, yang bagiku hanya menganggap cinta itu cuma permaianan. Tapi itu dulu. Jauh sebelum cinta itu mengikat hatiku.
“Kenapa harus kau, Arumi?” wanita empat puluh lima tahun itu memandangku penuh luka. Ruangan pribadi direstoran ini terasa mencekam. Sekali lagi ia menorehkan luka di hatiku. Luka yang tak bisa ku maafkan. Karena demi karirnya, dia meninggalkan aku dan ayah. Pergi begitu saja. aku tak akan pernah tahu dialah ibuku, jika ayah tak menyimpan fotonya dan bibi tidak tahu rahasia hubungan mereka.
Apa cintaku sebuah kesalahan?
Aku menggenggam tanganku kuat. Air mata sudah menggantung di pelupuk mataku. Rasanya perih itu makin dalam saat ingat hari itu. Hari di mana dia hadir si sebuah acara dan memperkenalkan anaknya.
Waktu itu dadaku terasa sesak. Aku terkunci ditempatku berdiri. Anaknya yang dia sembunyikan dari publik ada di layar kaca itu. Bukan, bukan aku. Tapi anaknya yang lain yang lebih beruntung karena diakuinya. Dia terlalu mencintai suaminya yang sekarang. Atau mungkin hartanya?
Perasaan ini datang tanpa ku pinta, bisakah aku mengakhirinya?
Aku mengajak laki-laki itu kemari. Mau bertemu empat mata di restoran ini. Memperjelas apa hubungannya dengan wanita yang kubenci itu, juga mengakhiri hubungan kami. Tapi ternyata, dia justru datang dan mengajak wanita tua itu ke sini. Bahkan dengan ceria mengenalklan aku sebagai kekasihnya.
‘Maksudmu…’ wanita itu memandangku tak percaya beberapa menit yang lalu. ‘Sudah berapa lama?’
‘Menjalani lima bulan,’ jawab lelaki imut itu.
Ia mengangguk lalu meminta anak kesayangannya itu mengambilkan barangnnya yang tertinggal di mobil. Aku tahu, dia bohong. Dia ingin bicara empat mata denganku.
Dan di sinilah aku. Menghadapinya yang semakin berang padaku.
Satu pesan masuk ke HPku.
Pengirim: Andre sayangku
‘Maaf.. tidak mengatakannya padamu. Aku sengaja mengajak mama. Aku ingin kau tahu kalau aku serius denganmu. Tenang saja… mama orangnya baik dan lembut, jadi jangan khawatir ^^ Love You ^^’
Air mataku makin tebal menggantung.
Kenapa aku jatuh cinta padamu?
“Kenapa harus kau?” ulang wanita di depanku. “Kau kakaknya kau tahu itu???” ucapnya dingin.
Air mataku jatuh. Untuk pertama kalinya aku menangis di depan wanita itu.
“Kenapa menangis? Kau menyesal?” ujernya tanpa ada rasa simpati sedikitpun. Ia tersenyum sinis.
“Aku memang menyesal,” isakku. “AKu menyesal karena kau ibuku!” kataku tajam. “Juga ibunya,” lirihku pedih.
Aku beridiri dan beranjak pergi. Keseka air mataku yang kembali jatuh. Andre yang sepertinya baru kembali dari parkiran melihat aneh padaku. Dia mendekatiku tapi aku menghidar.
“Arumi!” ia menarik tanganku. “Kenapa?” tanyanya cemas saat melihat mataku yang memerah.
“Kita putus,” ujerku terbata.
“Apa..?” ia menatapku tak percaya.
“Aku memintamu bertemu hari ini untuk menyampaikan itu, Ndre.” Dadaku sesak saat mengatakannya. “Maaf…”
“Kau bercanda kan?” ia menatap mataku.
“Maafkan aku…” Aku segera melepas genggamannya dan berlari sekuatku. Ia terpaku sesaat lantas mengejarku.
Aku masuk ke dalam taksi dan pergi. Tak peduli dengan dia yang berteriak dan memukul-mukul kaca dengan panik.
Sambil menangis aku mengambil HPku. Mematikannnya dan mengambil SIM cardnya. lantas mematahkannya. Mulai sekarang aku tak boleh berhubungan dengannya.
Tolong jangan ikat hatiku!! Karena aku mungkin tak akan sanggup memandangmu.
-END-
cerpen: crying heart
Sekali lagi dari short FF saya. Moga-moga kalian suka ya… ^^
---------------------------------------------------------
Title: Crying Heart
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: murni khayalan saya di hari hujan yang lebat, ^^
CRYING HEART
Hujan lebat di luar sana Nana… Ikuti gerimis yang berturut-turut dan setiap hari membanjiri hatiku. Rintik kecilnnya ukirkan wajahmu yang basah tapi ceria di benakku.
***
Splash!
Kau menyiramku dengan genangan air hujan saat kita berhujan ria dalam perjalan pulang sekolah lima tahun lalu.
“Ya~!” teriakku kaget. Aku segera membalasmu. Kau menjulurkan lidah. Tertawa sambil berlari menghindariku. Aku mengejarmu.
Kita menari di bawah hujan hari itu.
Kenapa? Kenapa kau hanya memandangku sebagai teman? Bukankah sudah pernah kubilang, ‘Kau hidupku’? Apa kau tak mendengarnya? Apa kau lupa?
Tidak… kau tak mendengarnya, karena aku… mengatakannya dengan keras di hatiku saja.
Kulihat kertas tebal di tanganku. Hatiku sakit. Tulisan di sana menyakitiku.
Resepsi Pernikahan: Nana dan Enda
Hari: Rabu, 11 Agustus 2010
Tempat: Hotel Aquarius
Aku mengatup kedua bibirku dengan rapat. Perih itu makin membuat dadaku sesak.
Kabut menggantung di mataku. Aku tahu, sesaat lagi, butiran bening ini akan mengaliri pipiku.
Pagi kemarin…
“Kakak baru bangun?” tegurmu ketika aku membukakan pintu untukmu. Kau mengunjungi di waktu yang berbeda dari biasanya.
Aku hampir sebulan di luar kota. Jadi, sepagi ini kau menemuiku, apa karena merindukanku?
Aku mengangguk dan mempersilahkanmu masuk.
“Tumben kau sepagi ini ke tempatku? Ada hal penting? Atau kau merindukanku?” godaku.
Kau tergelak. “Umm… Sebenarnya aku ingin Kakak orang yang pertama tahu, setelah kedua orang tuaku tentunya.”
“Tahu? Tentang apa?” aku memandangmu antusias.
Kau tersipu, entah karena apa. Rona wajahmu terlihat sekali bahagia. Kabar baik kah? Aku menduga-duga.
“Aku… akan menikah…” lirihmu. Tapi senyum yang terukir di wajahmu menunjukan itu hal yang paling dinantikanmu selama ini.
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Sungguh?”
Kau mengangguk. Lalu mengeluarkan sebuah undangan.
“Aku sengaja mengatakannya setelah undangan ini jadi, hehehe…” kau menyerahkan undangan yang ada di tangan kanannya padaku. Dengan enggan aku mengambilnya. “Kakak terkejut kan?” tanyamu gembira.
Senyumku tak mampu terukir dengan sempurna.
Kau kembali tertawa. “Kakak mau kan menyanyi di pernikahanku?”
“Kalau aku tidak mau, kau akan marah?” tanyaku lambat.
Kau memandangku, sedikit terkejut. “Tentu saja. Kakak tamu utama di pestaku lho! Jadi Jangan sampai tidak datang! Aku akan membencimu selamanya!” ancamnya tak serius.
“Calon suamimu… apa aku mengenalnya.” Aku menghela napas. Tak sanggup mengingat kau akan menikah sebentar lagi.
Kau diam sesaat. “Kurasa Kakak kenal. Dia teman sekantorku.”
“Kenapa aku tidak tahu kau pacaran dengannya?”
Kau menggeleng cepat. “Kami tidak pacaran, Kak.”
Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa maksud kalimatmu.
“Dia mengajakku makan malam, dia bilang dia mencintaiku,” pandangan matamu berbinar. Apa itu kebahagian?
“Dan saat itulah dia melamarku,” bisikmu pelan.
“Saat itu juga kau meerimanya?”
Dengan malu-malu kau mengangguk.
Kenapa? Aku yang selama ini mencintaimu, di dekatmu, memperhatikanmu, kenapa kau memilihnya?
“Karena aku mencintainya…” ucapmu seolah mendengar pertanyaan batinku. “Makanya saat dia bilang mau menikah dneganku aku terima.”
“Kau tidak ingin mengenalnya lebih dulu?”
Kau menggeleng. “Kurasa sudah cukup mengenalnya, hehe…”
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.
“Aku mau bilang pada Kakak, juga memperkenalkannya pada Kakak, tapi waktu itu Kakak ada tugas di luar kota. Kuputuskan mengatakannya saat Kakak datang saja, tapi berubah pikiran, lebih baik saat undangan jadi saja, biar jadi kejutan, hehehe…” Senyum khasnya lagi-lagi mengembang. Senyum yang begitu kusukai, tapi hari ini amat melukaiku.
“Jadi…” ia menatapku penuh harap, “Kakak pasti datang dan menyanyi kan?”
Aku mengangguk pelan waktu itu...
Kuletakan undangan dan mendekat ke lemari pakaianku sambil menyekai butiran bening yang jatuh ke pipiku. Kuambil kemeja dan jas yang sudah kusiapkan untuk hari ini. Aku menghela napas berat dan mengenakannya.
Hujan sudah sedikit reda ketika aku tiba di tempat pernikahan itu berlangsung. Kulihat di pelaminan kau bersanding dengan seorang laki-laki yang sepertinya sangat periang. Aku mendekat perlahan.
“Kak Rendi?!!” pekikmu gembira. “Kukira gara-gara hujan kau enggan datang…” ucapmu lega ketika aku sudah di depanmu.
Aku tersenyum sebisaku. “Aku sudah janji kan?” kataku pelan. Kau mengangguk.
“Selamat…” aku menyalamimu dan juga suamimu. Akh… hatiku perih… masih tak terima bahwa kau telah menikah, Nana…
Kau tersenyum lebih gembira dari sebelumnya. “Terima kasih…”
Bagaimana caraku agar tak mencintaimu lagi, Na? Lukaku… semakin menganga lebar. Sekarang rasanya hati ini tak lagi perih, tapi juga berlumuran darah…
-end-
Hahaha, benar-benar pendek ya? ^__^
Aku tidak tahu lagi bagaimana memperpanjangnya. Karena setelah kucoba, ceritanya jadi menjemukan. Begitulah… makanya aku memutuskan seperti ini saja.
O, ya. Main-main ke ceritaku yang lain jugaya ^__^
---------------------------------------------------------
Title: Crying Heart
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: murni khayalan saya di hari hujan yang lebat, ^^
CRYING HEART
Hujan lebat di luar sana Nana… Ikuti gerimis yang berturut-turut dan setiap hari membanjiri hatiku. Rintik kecilnnya ukirkan wajahmu yang basah tapi ceria di benakku.
***
Splash!
Kau menyiramku dengan genangan air hujan saat kita berhujan ria dalam perjalan pulang sekolah lima tahun lalu.
“Ya~!” teriakku kaget. Aku segera membalasmu. Kau menjulurkan lidah. Tertawa sambil berlari menghindariku. Aku mengejarmu.
Kita menari di bawah hujan hari itu.
Kenapa? Kenapa kau hanya memandangku sebagai teman? Bukankah sudah pernah kubilang, ‘Kau hidupku’? Apa kau tak mendengarnya? Apa kau lupa?
Tidak… kau tak mendengarnya, karena aku… mengatakannya dengan keras di hatiku saja.
Kulihat kertas tebal di tanganku. Hatiku sakit. Tulisan di sana menyakitiku.
Resepsi Pernikahan: Nana dan Enda
Hari: Rabu, 11 Agustus 2010
Tempat: Hotel Aquarius
Aku mengatup kedua bibirku dengan rapat. Perih itu makin membuat dadaku sesak.
Kabut menggantung di mataku. Aku tahu, sesaat lagi, butiran bening ini akan mengaliri pipiku.
Pagi kemarin…
“Kakak baru bangun?” tegurmu ketika aku membukakan pintu untukmu. Kau mengunjungi di waktu yang berbeda dari biasanya.
Aku hampir sebulan di luar kota. Jadi, sepagi ini kau menemuiku, apa karena merindukanku?
Aku mengangguk dan mempersilahkanmu masuk.
“Tumben kau sepagi ini ke tempatku? Ada hal penting? Atau kau merindukanku?” godaku.
Kau tergelak. “Umm… Sebenarnya aku ingin Kakak orang yang pertama tahu, setelah kedua orang tuaku tentunya.”
“Tahu? Tentang apa?” aku memandangmu antusias.
Kau tersipu, entah karena apa. Rona wajahmu terlihat sekali bahagia. Kabar baik kah? Aku menduga-duga.
“Aku… akan menikah…” lirihmu. Tapi senyum yang terukir di wajahmu menunjukan itu hal yang paling dinantikanmu selama ini.
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Sungguh?”
Kau mengangguk. Lalu mengeluarkan sebuah undangan.
“Aku sengaja mengatakannya setelah undangan ini jadi, hehehe…” kau menyerahkan undangan yang ada di tangan kanannya padaku. Dengan enggan aku mengambilnya. “Kakak terkejut kan?” tanyamu gembira.
Senyumku tak mampu terukir dengan sempurna.
Kau kembali tertawa. “Kakak mau kan menyanyi di pernikahanku?”
“Kalau aku tidak mau, kau akan marah?” tanyaku lambat.
Kau memandangku, sedikit terkejut. “Tentu saja. Kakak tamu utama di pestaku lho! Jadi Jangan sampai tidak datang! Aku akan membencimu selamanya!” ancamnya tak serius.
“Calon suamimu… apa aku mengenalnya.” Aku menghela napas. Tak sanggup mengingat kau akan menikah sebentar lagi.
Kau diam sesaat. “Kurasa Kakak kenal. Dia teman sekantorku.”
“Kenapa aku tidak tahu kau pacaran dengannya?”
Kau menggeleng cepat. “Kami tidak pacaran, Kak.”
Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa maksud kalimatmu.
“Dia mengajakku makan malam, dia bilang dia mencintaiku,” pandangan matamu berbinar. Apa itu kebahagian?
“Dan saat itulah dia melamarku,” bisikmu pelan.
“Saat itu juga kau meerimanya?”
Dengan malu-malu kau mengangguk.
Kenapa? Aku yang selama ini mencintaimu, di dekatmu, memperhatikanmu, kenapa kau memilihnya?
“Karena aku mencintainya…” ucapmu seolah mendengar pertanyaan batinku. “Makanya saat dia bilang mau menikah dneganku aku terima.”
“Kau tidak ingin mengenalnya lebih dulu?”
Kau menggeleng. “Kurasa sudah cukup mengenalnya, hehe…”
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.
“Aku mau bilang pada Kakak, juga memperkenalkannya pada Kakak, tapi waktu itu Kakak ada tugas di luar kota. Kuputuskan mengatakannya saat Kakak datang saja, tapi berubah pikiran, lebih baik saat undangan jadi saja, biar jadi kejutan, hehehe…” Senyum khasnya lagi-lagi mengembang. Senyum yang begitu kusukai, tapi hari ini amat melukaiku.
“Jadi…” ia menatapku penuh harap, “Kakak pasti datang dan menyanyi kan?”
Aku mengangguk pelan waktu itu...
Kuletakan undangan dan mendekat ke lemari pakaianku sambil menyekai butiran bening yang jatuh ke pipiku. Kuambil kemeja dan jas yang sudah kusiapkan untuk hari ini. Aku menghela napas berat dan mengenakannya.
Hujan sudah sedikit reda ketika aku tiba di tempat pernikahan itu berlangsung. Kulihat di pelaminan kau bersanding dengan seorang laki-laki yang sepertinya sangat periang. Aku mendekat perlahan.
“Kak Rendi?!!” pekikmu gembira. “Kukira gara-gara hujan kau enggan datang…” ucapmu lega ketika aku sudah di depanmu.
Aku tersenyum sebisaku. “Aku sudah janji kan?” kataku pelan. Kau mengangguk.
“Selamat…” aku menyalamimu dan juga suamimu. Akh… hatiku perih… masih tak terima bahwa kau telah menikah, Nana…
Kau tersenyum lebih gembira dari sebelumnya. “Terima kasih…”
Bagaimana caraku agar tak mencintaimu lagi, Na? Lukaku… semakin menganga lebar. Sekarang rasanya hati ini tak lagi perih, tapi juga berlumuran darah…
-end-
Hahaha, benar-benar pendek ya? ^__^
Aku tidak tahu lagi bagaimana memperpanjangnya. Karena setelah kucoba, ceritanya jadi menjemukan. Begitulah… makanya aku memutuskan seperti ini saja.
O, ya. Main-main ke ceritaku yang lain jugaya ^__^
cerpen: cintamu
Ini kutulis sambil mendengarkan lagu ‘The Name I love’ yang di nyanyikan Onew. Hmm… kayaknya cocok untuk soundtrack FF ini. langsung aja kali ya. Selamat membaca.
Kuharap kalian suka ^^
------------------------------------------------------
Title: CIntamu
Disclaimer: Ini ide saya. *Mohon, komentarnya* ^^
Music: The Name I Love by Onew SHINee
CINTAMU
Kupandangi langit kelabu di atas sana. Semburat wajahmu yang putih dan lembut terukir di sana. Suaramu yang berat kembali terngiang di telingaku.
‘Rina, aku mencintaimu…’
Bibirku mengukir senyum. Hal yang selalu terjadi ketika aku mengenangmu. Apa di atas sana kau juga tengah mengenangku, Kak?
Aku mengulurkan tanganku ke angkasa. Seolah-olah tengah mengelus wajahmu yang putih itu.
“Kakak~!!” teriakan seseorang membuatku menoleh. Toni, laki-laki imut dan cantik itu melambai melambai padaku. Hatiku perlahan merasa hangat.
“Cepat!” teriak seorang laki-laki cerewet di sebelah Toni. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Ah, sejak tadi dia dan yang lain memang mengajak masuk ke rumah.
“Di sini terlalu dingin!” teriak anak laki-laki lain yang seumuran denganku, Jono. Laki-laki ini begitu di gilai wanita.
Senyumku mengembang. “Ya~,” sahutku sembari tertawa kecil dengan perhatian mereka yang berlebihan padaku. Sesaat aku kembali memalingkan wajahku ke langit. Ke tempat di mana kau berada sekarang.
‘Sampai jumpa lagi,Kak,’ batinku.
Puk! Jaket hangat melingkari bahuku. Aku menoleh. Mata lembut itu menatapku.
“Jangan sampai kau sakit,” ujernya lalu menggenggam tanganku hangat. Sama dengan kehangatakan yang dulu pernah kau bagi denganku. ‘Kakak, apa di atas sana kau merasa kedinginan jika salju turun?’
Kami masuk ke sebuah rumah. Rumah rahasia kita yang dulu. Yang sempat kutinggalkan selama dua tahun dan ternyata dirawat baik oleh adik-adik barumu. Aku meninggalkannya karena tak terima dengan kenyataan kau pergi dari dunia ini sebelum hatiku benar-benar siap kehilanganmu.
Dua tahu lalu kau jatuh dari tangga ketika hendak menolongku. Kepalamu terbentur dan tak sadarkan diri. Beberapa hari berlalu, dan kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku.
“Minumlah.” Kevin memberikan secangkir teh hijau hangat padaku. Teh yang dulu sering kau buatkan untukku.
“Thanks, Vin,” ucapku sembari menyeruput teh itu dengan senyuman tersungging di bibirku. Aku melirik Kevin. Kulihat dia tersenyum lembut padaku. Senyum yang sama seperti senyumanmu. Aku melihatmu di dirinya, Kak…
Denting piano terdengar. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Jono tengah memainkannya. Ia memainkan lagu yang sering kau mainkan. Gaya saat memainkan piano sama persis dengan gayamu.
“Kau salah, Bang!” tegur Toni sambil tertawa. “Seharusnya begini.” Ia memainkan nada yang benar. Tawanya kembali terdengar ketika Jono salah lagi. Kedua matanya menyipit ketika giginya yang putih terlihat. Sama dengan cara tertawamu dulu.
Dadaku kembali menghangat.
Aku mencari sudut lain. Satu sosok sejak tadi tak terlihat.
Perlahan aku berjalan ke depan. Dia ada di teras. Menatap butiran hujan yang turun.
“Ini kesekian kalinya aku bisa melihat hujan,” ujer Hendra penuh kekaguman. Kutatap dua matanya. Sorot mata yang sama persis denganmu. Kau juga pecinta hujan. Hm… Apakah… aku masih terukir di bola matamu, Kak?
Sudah dua tahun lebih setelah kepergianmu. Sedih itu masih ada meski terkadang aku melihat sosokmu hidup lagi di diri mereka. Kevin yang dapat donor ginjalmu. Hendra yang dapat donor matamu. Jono yang dapat donor hatimu. Dan Toni yang dapat donor jantungmu. Orang tuamu bersedia mendonorkannya pada mereka. Dan sejak saat itu, mereka di angkat menjadi keluarga kalian. Adik angkatmu.
Mereka yang tanpa sadar telah berjalan menuju rumah kecil ini. Lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Apa kau yang menuntunnya, Kak? Apa kau tahu kalau aku akan pulang?
Aku menatap angkasa yang menjatuhkan butiran bening itu. Seperti melihatmu yang gembira memercikkan air hujan ini untukku. Terima kasih, Kak, atas semua cintamu. Terima kasih… karena kau menyalurkan cinta dan kasih sayangmu di diri mereka untukku. Benar-benar terima kasih, Kak Arga.
-end-
Hfff…. Rasanya aku seperti benar-benar mengenang orang yang sangat kucintai, hehehe.
Di tunggu komentarnya ^^
Kuharap kalian suka ^^
------------------------------------------------------
Title: CIntamu
Disclaimer: Ini ide saya. *Mohon, komentarnya* ^^
Music: The Name I Love by Onew SHINee
CINTAMU
Kupandangi langit kelabu di atas sana. Semburat wajahmu yang putih dan lembut terukir di sana. Suaramu yang berat kembali terngiang di telingaku.
‘Rina, aku mencintaimu…’
Bibirku mengukir senyum. Hal yang selalu terjadi ketika aku mengenangmu. Apa di atas sana kau juga tengah mengenangku, Kak?
Aku mengulurkan tanganku ke angkasa. Seolah-olah tengah mengelus wajahmu yang putih itu.
“Kakak~!!” teriakan seseorang membuatku menoleh. Toni, laki-laki imut dan cantik itu melambai melambai padaku. Hatiku perlahan merasa hangat.
“Cepat!” teriak seorang laki-laki cerewet di sebelah Toni. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Ah, sejak tadi dia dan yang lain memang mengajak masuk ke rumah.
“Di sini terlalu dingin!” teriak anak laki-laki lain yang seumuran denganku, Jono. Laki-laki ini begitu di gilai wanita.
Senyumku mengembang. “Ya~,” sahutku sembari tertawa kecil dengan perhatian mereka yang berlebihan padaku. Sesaat aku kembali memalingkan wajahku ke langit. Ke tempat di mana kau berada sekarang.
‘Sampai jumpa lagi,Kak,’ batinku.
Puk! Jaket hangat melingkari bahuku. Aku menoleh. Mata lembut itu menatapku.
“Jangan sampai kau sakit,” ujernya lalu menggenggam tanganku hangat. Sama dengan kehangatakan yang dulu pernah kau bagi denganku. ‘Kakak, apa di atas sana kau merasa kedinginan jika salju turun?’
Kami masuk ke sebuah rumah. Rumah rahasia kita yang dulu. Yang sempat kutinggalkan selama dua tahun dan ternyata dirawat baik oleh adik-adik barumu. Aku meninggalkannya karena tak terima dengan kenyataan kau pergi dari dunia ini sebelum hatiku benar-benar siap kehilanganmu.
Dua tahu lalu kau jatuh dari tangga ketika hendak menolongku. Kepalamu terbentur dan tak sadarkan diri. Beberapa hari berlalu, dan kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku.
“Minumlah.” Kevin memberikan secangkir teh hijau hangat padaku. Teh yang dulu sering kau buatkan untukku.
“Thanks, Vin,” ucapku sembari menyeruput teh itu dengan senyuman tersungging di bibirku. Aku melirik Kevin. Kulihat dia tersenyum lembut padaku. Senyum yang sama seperti senyumanmu. Aku melihatmu di dirinya, Kak…
Denting piano terdengar. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Jono tengah memainkannya. Ia memainkan lagu yang sering kau mainkan. Gaya saat memainkan piano sama persis dengan gayamu.
“Kau salah, Bang!” tegur Toni sambil tertawa. “Seharusnya begini.” Ia memainkan nada yang benar. Tawanya kembali terdengar ketika Jono salah lagi. Kedua matanya menyipit ketika giginya yang putih terlihat. Sama dengan cara tertawamu dulu.
Dadaku kembali menghangat.
Aku mencari sudut lain. Satu sosok sejak tadi tak terlihat.
Perlahan aku berjalan ke depan. Dia ada di teras. Menatap butiran hujan yang turun.
“Ini kesekian kalinya aku bisa melihat hujan,” ujer Hendra penuh kekaguman. Kutatap dua matanya. Sorot mata yang sama persis denganmu. Kau juga pecinta hujan. Hm… Apakah… aku masih terukir di bola matamu, Kak?
Sudah dua tahun lebih setelah kepergianmu. Sedih itu masih ada meski terkadang aku melihat sosokmu hidup lagi di diri mereka. Kevin yang dapat donor ginjalmu. Hendra yang dapat donor matamu. Jono yang dapat donor hatimu. Dan Toni yang dapat donor jantungmu. Orang tuamu bersedia mendonorkannya pada mereka. Dan sejak saat itu, mereka di angkat menjadi keluarga kalian. Adik angkatmu.
Mereka yang tanpa sadar telah berjalan menuju rumah kecil ini. Lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Apa kau yang menuntunnya, Kak? Apa kau tahu kalau aku akan pulang?
Aku menatap angkasa yang menjatuhkan butiran bening itu. Seperti melihatmu yang gembira memercikkan air hujan ini untukku. Terima kasih, Kak, atas semua cintamu. Terima kasih… karena kau menyalurkan cinta dan kasih sayangmu di diri mereka untukku. Benar-benar terima kasih, Kak Arga.
-end-
Hfff…. Rasanya aku seperti benar-benar mengenang orang yang sangat kucintai, hehehe.
Di tunggu komentarnya ^^
cerpen: Akhir dari cinta
Hohohoho…. Saya kembali lagi dengan cerita baru nih… ^^
Moga-moga kalian suka ya XD.
Happy reading XDXD
------------------------------------------------------------------------------------
Title: Akhir dari Cinta
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: imajinasi saya ketika liburan kemarin ^^
AKHIR DARI CINTA
Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.
Kulirik Jony. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku menoleh ke sumber suara.
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Hana.
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Hana menerimanya dengan memandang bingung padaku.
“Thanks…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…
Puk!
Seseorang menepuk pundakku keras.
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” kata Jony santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^
***
Aku baru keluar kelas saat sosok Hana tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.
“Benar-benar terima kasih, Edo,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.
“Ah? Y-ya. Sama-sama…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.
“Mm… Anu…”
Hana menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ya?”
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Jony untuk mengikutiku.
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”
“Mm… Ya. Tentu.” Dia tersenyum lembut padaku.
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…
Di depan gerbang tampak kakak kelas Heru, Nata, Siska dan Kevin menunggu. Mereka adalah sahabat Hana sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).
“Kakak!” Kevin memekik girang dan segera menarik Hana menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hana.
Seolah tak peduli dengan aku dan Jony, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.
Siska dan Nata duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heru memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Kevin… Dia menyeret Hana ke belakang. Duduk di bangku terakhir.
Aku mengikuti mereka. Jony sudah dapat tempat duduk di depan tadi.
“Hei!” teriak Kevin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hana dia sudah sekesal itu. Apa haknya??
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.
“Tsk!” dia berdecak kesal.
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hana.
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hana tampak antusias.
“Kak Hana?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru lho. Coba dengar! Lagunya asyik!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hana.
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hana miliknya?! Tidak kan?
“A?? Kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.
A-apa?? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.
Bus berjalan.
Hana tampak asyik sekali bicara dengan Kevin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.
Dengan santai Kevin bersandar di sandaran kursi lalu….
APA?!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hana-ku????
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hana mencubit pipi Kevin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hana?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hana begitu santai menanggapi kelakuannya?
Lihat!! Sekarang si Kevin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!
Kutatap Hana yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT KEVIN??
Oh, tidak! Jangan-jangan…
***
Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Jony satu payung berdua. Jony menerima tawaran itu dengan bahagia.
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hana berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.
Segera aku menghampirinya.
“Hai…” sapaku.
“Ah, hai, Do!” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.
“Kak Heru sedang ada kelas tambahan. Nata dan Siska sedang kencan.”
“Hujan-hujan begini?” potongku.
Hana tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. “Lalu Kevin?”
“Kevin?” ulangnya. Dia menghela napas berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”
Kuteliti wajah lesu Hana. Apa gara-gara anak itu? “Temannya itu perempuan ya?” tebakku.
“Hm-mm.” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.
“E-Edo?!” Ia terkejut dengan perlakuanku.
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”
“EH? Tidak perlu. Aku-,”
“Ayolah!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dengan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar dia tidak basah.
Perlahan Hana melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…
***
Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi istimewa.
Kulihat Hana tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hana menaruh telunjuknya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.
“Yang mana?” desakku tak sabar.
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.
“Yang ini, Mbak.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.
Aku bilang pada Hana sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.
Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia memandangku penuh tanya.
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.
“Orang special itu adalah kau, Hana…”
“Eh?”
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.”
“Edo, aku-.”
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Na.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.
“Edo, ma-.”
“Kakak!” panggil seseorang di belakangnya.
Hana pasti mau bilang, ‘Maaf, aku tidak bisa’ tadi. Untung saja seseorang memanggilnya.
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, Kakak!” lanjut orang yang memanggil Hana tadi dengan manja.
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.
“Maafkan kakak, Vin…” kata Hana sambil mencubit pipi Kevin yang merengut dengan gemas.
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.
“Ah? Ya. Bye…” sahut Hana canggung.
“Pergi dan jangan pernah mendekati kakakku lagi!” teriaknya padaku.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin.
“…”
Aish…
***
Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.
Beberapa menit lalu Hana datang ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia datang untuk mengembalikan kalung yang kuberi.
“Bukannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”
“Maaf…” lirihnya.
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Kevin?”
Hana tampak terkejut.
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.
“Benar-benar maaf, Do.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”
“Maaf…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.
“Apa jika si Kevin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”
“Maafkan aku…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.
***
Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Kevin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hana kemarin.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin.
“Kenapa? Dia kan temanku?”
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku tetap tidak suka!”
Hana tertawa kecil melihat wajah kesal Kevin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?
Kevin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.
“Kenapa hayo?” tanya Hyun Ae lagi.
“Aku… aku mau Kak Hana hanya memandangku!” jujurnya pelan.
Deg! Apa ini pernyataan cinta?
“Apa… maksudmu?” Hana tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Aku… suka Kakak.” Ucap Kevin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin Kakak hanya untukku.”
Hana menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Vin! Ini tidak lucu.”
“Akju sungguh-sungguh, Kak. Aku mencintai kaka! Sejak lama!” Kevin menatap Hana tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai adik! Aku juga laki-laki!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai laki-laki!”
Hana terdiam.
Mungkin karena malu, Kevin melangkah pergi dengan canggung.
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hana lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai adik lagi, Vin.”
Seketika Kevin berhenti.
“Aku… juga mencintaimu, Vin…” kata Hana dengan pelan.
Senyum kekanak-kanakan Kevin merekah. “Sungguh?”
“Y-Ya..” jawab Hana gugup.
Kevin langsung memeluk Hana sambil sesekali melompat girang. “Ye~ Kak Hana jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil ‘sayang’ ya?”
Wajah Hana memerah.
“Sayang?” panggil Kevin lembut sambil menggandeng tangan Hana mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.
Aish…
***
Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!
--------------------------
Bagaimana? Beri komentar dunk… XDXD
Moga-moga kalian suka ya XD.
Happy reading XDXD
------------------------------------------------------------------------------------
Title: Akhir dari Cinta
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: imajinasi saya ketika liburan kemarin ^^
AKHIR DARI CINTA
Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.
Kulirik Jony. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku menoleh ke sumber suara.
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Hana.
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Hana menerimanya dengan memandang bingung padaku.
“Thanks…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…
Puk!
Seseorang menepuk pundakku keras.
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” kata Jony santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^
***
Aku baru keluar kelas saat sosok Hana tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.
“Benar-benar terima kasih, Edo,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.
“Ah? Y-ya. Sama-sama…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.
“Mm… Anu…”
Hana menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ya?”
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Jony untuk mengikutiku.
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”
“Mm… Ya. Tentu.” Dia tersenyum lembut padaku.
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…
Di depan gerbang tampak kakak kelas Heru, Nata, Siska dan Kevin menunggu. Mereka adalah sahabat Hana sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).
“Kakak!” Kevin memekik girang dan segera menarik Hana menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hana.
Seolah tak peduli dengan aku dan Jony, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.
Siska dan Nata duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heru memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Kevin… Dia menyeret Hana ke belakang. Duduk di bangku terakhir.
Aku mengikuti mereka. Jony sudah dapat tempat duduk di depan tadi.
“Hei!” teriak Kevin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hana dia sudah sekesal itu. Apa haknya??
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.
“Tsk!” dia berdecak kesal.
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hana.
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hana tampak antusias.
“Kak Hana?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru lho. Coba dengar! Lagunya asyik!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hana.
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hana miliknya?! Tidak kan?
“A?? Kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.
A-apa?? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.
Bus berjalan.
Hana tampak asyik sekali bicara dengan Kevin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.
Dengan santai Kevin bersandar di sandaran kursi lalu….
APA?!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hana-ku????
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hana mencubit pipi Kevin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hana?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hana begitu santai menanggapi kelakuannya?
Lihat!! Sekarang si Kevin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!
Kutatap Hana yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT KEVIN??
Oh, tidak! Jangan-jangan…
***
Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Jony satu payung berdua. Jony menerima tawaran itu dengan bahagia.
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hana berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.
Segera aku menghampirinya.
“Hai…” sapaku.
“Ah, hai, Do!” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.
“Kak Heru sedang ada kelas tambahan. Nata dan Siska sedang kencan.”
“Hujan-hujan begini?” potongku.
Hana tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. “Lalu Kevin?”
“Kevin?” ulangnya. Dia menghela napas berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”
Kuteliti wajah lesu Hana. Apa gara-gara anak itu? “Temannya itu perempuan ya?” tebakku.
“Hm-mm.” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.
“E-Edo?!” Ia terkejut dengan perlakuanku.
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”
“EH? Tidak perlu. Aku-,”
“Ayolah!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dengan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar dia tidak basah.
Perlahan Hana melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…
***
Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi istimewa.
Kulihat Hana tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hana menaruh telunjuknya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.
“Yang mana?” desakku tak sabar.
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.
“Yang ini, Mbak.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.
Aku bilang pada Hana sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.
Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia memandangku penuh tanya.
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.
“Orang special itu adalah kau, Hana…”
“Eh?”
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.”
“Edo, aku-.”
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Na.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.
“Edo, ma-.”
“Kakak!” panggil seseorang di belakangnya.
Hana pasti mau bilang, ‘Maaf, aku tidak bisa’ tadi. Untung saja seseorang memanggilnya.
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, Kakak!” lanjut orang yang memanggil Hana tadi dengan manja.
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.
“Maafkan kakak, Vin…” kata Hana sambil mencubit pipi Kevin yang merengut dengan gemas.
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.
“Ah? Ya. Bye…” sahut Hana canggung.
“Pergi dan jangan pernah mendekati kakakku lagi!” teriaknya padaku.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin.
“…”
Aish…
***
Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.
Beberapa menit lalu Hana datang ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia datang untuk mengembalikan kalung yang kuberi.
“Bukannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”
“Maaf…” lirihnya.
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Kevin?”
Hana tampak terkejut.
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.
“Benar-benar maaf, Do.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”
“Maaf…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.
“Apa jika si Kevin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”
“Maafkan aku…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.
***
Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Kevin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hana kemarin.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin.
“Kenapa? Dia kan temanku?”
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku tetap tidak suka!”
Hana tertawa kecil melihat wajah kesal Kevin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?
Kevin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.
“Kenapa hayo?” tanya Hyun Ae lagi.
“Aku… aku mau Kak Hana hanya memandangku!” jujurnya pelan.
Deg! Apa ini pernyataan cinta?
“Apa… maksudmu?” Hana tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Aku… suka Kakak.” Ucap Kevin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin Kakak hanya untukku.”
Hana menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Vin! Ini tidak lucu.”
“Akju sungguh-sungguh, Kak. Aku mencintai kaka! Sejak lama!” Kevin menatap Hana tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai adik! Aku juga laki-laki!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai laki-laki!”
Hana terdiam.
Mungkin karena malu, Kevin melangkah pergi dengan canggung.
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hana lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai adik lagi, Vin.”
Seketika Kevin berhenti.
“Aku… juga mencintaimu, Vin…” kata Hana dengan pelan.
Senyum kekanak-kanakan Kevin merekah. “Sungguh?”
“Y-Ya..” jawab Hana gugup.
Kevin langsung memeluk Hana sambil sesekali melompat girang. “Ye~ Kak Hana jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil ‘sayang’ ya?”
Wajah Hana memerah.
“Sayang?” panggil Kevin lembut sambil menggandeng tangan Hana mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.
Aish…
***
Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!
--------------------------
Bagaimana? Beri komentar dunk… XDXD
Saturday, August 14, 2010
cerpen Kisah Sedih
Hmm aouthor comeback again. Kali ini sengaja sad ending lagi. Moga-moga kamu yang baca suka ^^
Selamat membaca XD
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Title: Kisah Sedih
Genre: romance
Disclaimer: imajinasi saya ketika santai-santai sore hari.
“Kisah Sedih”
Ini persembahan untuk adikku. Aku tak tahu bagaimana harus memulai kisah ini. Yang kutahu, aku mengerti rasa sakitnya. Kadang aku ikut menangis melihat perihnya luka yang seharusnya tak diterimanya.
Kumohon ijinkan aku memulai kisah ini.
*******
Aku melihat ke arahnya. Dia terbangun dari tidur yang lama di pembaringnan yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Aku benar-benar takut dia akan menyusul ayah dan ibu di atas sana.
Dia mengerjap. Seolah mengenali tempat di mana dia berada sekarang.
Aku mendekat. Ku tahan air mataku yang kembali handak jatuh saat melihat wajah pucatnya tersenyum lembut padaku.
Angga baru saja pulang mengantar ayah dan ibunya.
“Kakak…” kurasa itu maksud dari gerak bibir adikku ini.
“Ya…?”
Sial! Air mataku membanjir sekarang.
“……..” ia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mengerti. Apa dia menanyakan ‘Ini di mana?’
Dia berkata lagi. Wajahnya pucatnya menegang. Apa dia menyadarinya?
“Tenanglah… aku segera memanggil dokter.” Pamitku sembari mengusap air mata yang tak bisa kutahan sama sekali.
Air mataku banjir saat menemui si dokter. Aku tak berhasil mengatakan satu katapun. Ini terlalu menyakitkan. Untuk kami, juga untuknya.
Dokter seolah mengerti. Dia mengangguk dan bersama suster menuju ruangan itu. Aku mengikuti mereka di belakang. Tergugu tanpa bisa melakukan sesuatu.
Lagi-lagi Tia berbicara padaku, tapi aku tak tahu apa yang dikatakannya. Tangisannya membuat isakanku menjadi.
“Tidak apa-apa, Tia… Tenanglah…” lirihku. Bagaimana bisa menegarkan orang lain kalau aku yang menngatakannya saja masih dalam kondisi berurai air mata.
Ku dapati air mata Tia mengalir kian deras. Dengan panik ia mengambil kertas di tangan suster dan menulis “Kenapa denganku, Kak? Aku tak bisa mendengar suaramu, juga suaraku?”tulisnya
Aku mengatup bibirku. Beberapa detik aku tak bisa bernapas.
Dia mengguncang tubuhku. Menuntut jawaban. Di matanya ia menuntut kejujuran. Tapi di saat bersamaan kutemukan ketakutan.
“Tia…” lirihku disela tangisku, aku menggeleng. Tak sanggup.
Aku menutup wajahku. Air mataku tak bisa kuhentikan sama sekali. Jelas ini membuatnya berpikir dia mengalami hal yang buruk kan?
Dokter menepuk pundakku pelan. Memberiku sedikit kekuatan. “Kau harus mengatakannya,” gumam dokter itu.
Di sela sesegukanku aku mendongak. Adikku menuntut jawaban dariku dengan matanya yang telah merah.
Aku menghela napas. “Hari itu kau kecelakaan…” mulaiku. Dia membacanya. Dia lekas menulis sesuatu lagi. Dengan tergesa. Kemudian menyerahkannya padaku.
“Apa aku kehilangan pendengaranku, Kak?”
Aku seka air mata yang gugur ke wajahnya sambil mengangguk lemah. Tatapannya penuh luka kali ini.
Kuambil pen yang masih di tangannya.
“Hari itu,” tulisku di kertas yang diserahkannya, “usai pulang dari butik, Kau mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Kau divonis,” satu butir air mata jatuh ke kertas itu. Haruskah kukatakan yang sebenarnya, atau membohonginya?
Aku menghela napas panjang. Mencari kekuatan. “Dokter memvonismu tidak bisa mendengar dan kehilangan suaramu selamanya.” Sambungku. “Aku tahu itu menyakitkan sekali.”
Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Kutatap dia. Segera dia mengambil kertas itu.
Ia membacanya. Matanya menatapku tak percaya. Matanya seolah bciara Katakan-ini-bohong-kak.
“Kuatkan dirimu, Tia…” bisikku. Dan kutahu itu tak berhasil. Dia tak bisa mendengarku. Dan yang dilakukannya adalah menangis hebat. Bahunya berguncang. Ia meraung-raung, tanpa suara.
Aku menatapnya dan ikut berurai air mata. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Dokter memberikan suntik penenang. Beberapa detik kemudian Tia tertidur.
Aku mengusap wajahku yang kucel. Menghapus air mata dan berharap ia tak jatuh lagi. Tapi sekali lagi aku gagal.
Kutatap Tia. Kenapa? Kenapa harus dia Tuhan? Kenapa kau ambil pendengaran dan suaranya saat hari terbahagia dalam hidupnya sudah ada di depan matanya? Kenapa kau mempermainkan hatinya? Hati kami!!!
***
Tia tampak lebih ceria akhir-akhir ini setelah dia menjalin kasih dengan seorang laki-laki bernama Angga, seniornya di kampus. katanya dia sudah punya usaha, meski kecil. Dan sebentar lagi lulus.
Aku pernah bertemu dengan Angga ketika Tia mengajakknya ke rumah. Seorang laki-laki yang sopan. Terlihat sekali dia begitu penyanyang. Dan aku merestui hubungan mereka.
--
Tia mondar-mandir di dapur saat aku sedang memasak untuk makan malam kami. Wajahnya tampak tegang. Padahal sore tadi masih berbinar bahagia. Aku tak bertanya karena tahu pasti Anggalah yang membuat sebahagia itu, seperti biasanya.
“Ada apa?” tanyaku akhirnya.
“…Eh?” dia berhenti. Menatapku dengan tatapan gelisah.
“Ada yang ingin kau katakan?”
Dia diam. Seolah menimbang-nimbang mengatakannya atau tidak. Aku menunggu sembari meneruskan masakanku.
“Kakak…”
“Hm..?”
“Janji tidak akan marah ya!?”
“Tergantung separah apa masalah itu dari sudut pandangku.” ^^
“Ih, Kakak~ ” ia merengek manja.
“Baiklah.” Aku menoleh kearahnya sambil menuangkan masakanku ke priring. “Aku tak akan marah,” kataku sembari menaruh piring itu di meja. Aku mariknya duduk di kursi makan. “Sekarang katakan.”
“Umm…”
“Hm?”
“Itu…”
“Apa~?”
“Tadi…,Angga melamarku,” lirihnya.
“Benarkah? Whaaa~” XD
Dia menagngguk. “Dia mengajakku menikah….”
“Selamat yaaa….” XDD
“Eh? Kakak tidak marah?”
“Ini kan kabar baik? Kenapa harus marah?”
Dia tersenyum malu. Aku mengelus kepalanya lembut. “Kalau dia memang serius, dia harus melamarmu padaku secara resmi lho…”
“Kakak tidak keberatan?”
Aku mengangguk. “Hm~mm…”
“Terima kasih kakakku sayang… AKu janji nanti kucarikan laki-laki yang baik yang cocok dengan kakak deh.”
Aku tersenyum. “Ada-ada saja.”
--
Angga datang ke rumah kami bersama keluarganya. Secara resmi mereka melamar Tia.
Kami menentukan hari pernikahannya. Setelah sepakat kami membicarakan detail pestanya.
Kami juga berkunjung ke makam orang tua untuk meminta restu.
Segalanya berjalan dengan lancar. Semuanya telah siap, tinggal menuju butik yang di tentukan pihak keluarga Angga untuk mengukur baju. Pihak laki-laki sudah menunggu di sana. Aku tak bisa ikut pergi karena tiba-tiba rapat penting tak bisa ditinggalkan.
Angga sebenarnya ingin menjemput, tapi Tia melarangnya karena jarak dari rumah ke butik itu cukup jauh. Dia memilih naik taksi.
Dia pamit padaku lewat telpon.
“Tumben…” ejekku.
“Siapa tahu kakak merindukan suaraku?” candanya.
“Tidak akan!” sangkalku, bercanda.
Dia tertawa.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaa……….tut-tut-tut….”
Deg!
Jantungku serasa berhenti berdetak. Apa yang terjadi. Kenapa dia berteriak?
“Tia?!!” panggilku cemas. Tak ada jawaban.
“Hallo?? Hallo? Tia?? TIA??!”
--
Rapat baru mau dimulai ketika sebuah telpon masuk. Nomor tak dikenal. Aku menjawab. Suara wanita. Dan detik itu juga aku merasakan diriku tak berpijak di bumi.
Aku minta ijin dan segera menuju rumah sakit. Menunggu di depan ruang UGD, tempat adikku berjuang untuk hidupnya. Aku meminta agar Tuhan tak mengambilnya.
Aku menelpon Angga. Mengabarkan bahwa Tia kecelakaan.
Mereka ada di sampingku 20 menit kemudian. Kami sama-sama meminta keselamatan Tia.
--
Dokter keluar, kemdian mengajakku ke ruangannya. Mengatakan dia selamat tapi juga mengatakan vonis yang menyakitkan itu. Aku yang tak mengalami saja sehancur ini apalagi dia?
Angga menghampiriku ketika aku keluar.
“Apa kata dokter? Apa lukanya parah?”
Aku diam bersamaan tetesan air mata yang jatuh ke pipiku.
“Kak?!” ia menatapku cemas.
“Dokter bilang…” aku mengatakannya sambil tergugu, “Tia kehilangan pendengaran dan suaranya selamanya.”
Angga mundur ke belakang beberapa langkah. Syok.
***
Aku meminta Tuhan agar tak mengambilnya. Tapi sepertinya doaku kurang. Tuhan memang tak menngambilnya dariku namun sebagai gantinya aku kehilangan suara dan pendengarannya. Dia tak lagi bisa mendengar suara-suara indah idolanya.
Dia bilang aku merindukan suaranya. Dan itu sepertinya benar-benar terjadi.
Angga masih belum kembali ketika dia terbangun lagi. Digenggamnya tanganku dengan erat. Aku menatapnya. Dia mengatakan sesuatu yang lagi-lagi tak bisa kuterka.
Air mataku jatuh lagi saat dia menatap sekitar dengan putus asa.
Dia berusaha menjangkau sesuatu. Buku!
Aku segera mengambilnya. Dia menulis sesuatu di sana.
“Apa Angga sudah tahu keadaanku?” tulisnya.
Aku mengangguk. “Dia tadi mengantar orang tuanya pulang. Mungkin sebentar lagi kembali.”
Usai aku menulis itu, sosok Angga datang. Tia menangis seketika. Dia mengatakan sesuatu lagi.
Angga merengkuhnya ke pelukannya. Mengusap kepala Tia dengan lembut. Membiarkan Tia menangis sepuasnya di bahunya.
Perlahan aku keluar.
***
Aku menyampaikan permintaan Tia: Membatalkan pernikahan. Kedua orang tua Angga dan Angganya sendiri tampak terkejut.
“Kami tidak bermaksud mempermainkan kalian. Kami… kami merasa tidak enak, dengan kondisi Tia seperti ini. Saya… terlebih Tia tak ingin Angga terpaksa menikahinya hanya karena kesepakatan sudah terucap sebelum kecelakaan ini terjadi. Saya pikir-“
“Aku tetap menikahinya, Kak. Bagaimanapun dia, karena dia Tia yang kucintai, aku tetap akan menikahinya.”potong Angga.
Penglihatanku buram. Aku tahu aku kembali menangis kali ini. “Jangan memaksakan dirimu, Ngga.” Lirihku.
“Tidak. Ayah, ibu dan aku baru saja mau berunding dengan kakak tentang jadwal ulang pernikahan kami.”
Aku mengatup bibirku. Cuma satu kata yang bisa kukeluarkan, “terima kasih…” aku membungkuk.
“Tak perlu seformal itu,” ibunya Angga memelukku. “Sudah kubilang kita sudah jadi keluarga kan?”
“Terima kasih….”
Diusapnya air mataku dengan lembut.
***
Hyun Ae menangis terharu ketika Jae Joong dan kelurganya datang dan mengatur ulang jadwal pernikahan.
“Aku mencintaimu tanpa alasan. Meski kau tak seperti dulu, kau tetaplah Tia, orang yang ku cinta.” Begitulah sms dari Angga ketika dia dan keluarganya sudah pulang.
Aku memeluk Tia. “Kau dapat pria yang baik, Tia. Benar-benar beruntung.” Batinku.
***
Pernihakan sudah dekat. Semuanya sudah diatur dengan baik. Aku mengantar Tia ke butik. Dia tampak cantik dengan gaun pernikahan yang senada dengan jasnya Angga. Mereka terlihat serasi sekali.
Kulihat Angga memujinya dengan menggunakan bahasa isyarat. Benar, aku, Tia, dan Angga, bersama-sama mempelajari bahasa isyarat. Agar aku dan Angga tahu apa yang ingin Tia sampaikan, dan agar Tia juga tahu apa yang kami ingin sampaikan.
“Kau juga tampan,” balas Tia dengan isyarat tubuh pula.
Di sudut ini aku tersenyum. Kebahagiaan adikku adalah kebahagiaanku juga.
***
Sudah dua jam berlalu Angga belum datang juga. Katanya dua jam lalu, jalanan macet total.
Orang tua Angga yang lebih dulu datang tampak cemas. Tia lebih cemas lagi. Sesekali dia melihat HPnya. Berharap Angga mengiriminya pesan.
Gemas, dia memencet tombol di HPnya. Menelpon Angga, meski tahu dia tak akan mendengar jika di seberang sana menjawab. Dia terus melihat layar HPnya. Masih bertuliskan ‘menghubingi Angga’. Tapi tak lama kemudian. ‘Panggilan berakhir. Coba lagi.’
“Kenapa dia tidak mengangkat telponku?” tanya Tia dengan isyarat tubuhnya.
Aku jadi ikut-ikutan cemas.
“Ah, Angga? Di mana kau?” suara ayahnya Angga mengalihkan perhatianku.
Tiba-tiba wajah pria 50 tahunan itu memucat. “Anda bilang… Angga kami… kecelakaan?”
Hyun Ae menatap tajam padaku, meminta penjelasan. Aku menjelaskannya dengan bahasa isyarat.
Belum selesai ayahnya Angga bicara Tia sudah berlari keluar. Tak peduli dengan gaunnya yang akan rusak. Juga dandanannya. Yang ia pedulikan Cuma keselamatan Angga.
Aku mengejarnya di belakang. Kuteriakkan namanya, memintanya berhenti. Tapi dia masih terus berlari. Ah, aku lupa kalau dia tak bisa mendengar.
Aku terus berlari di belakangnya.
Ambulance melewati kami. Tia menoleh sambil berlari. Begitu juga denganku. Apa di dalam sana adalah Angga?
Langkahku melambat ketika melihat bangkai mobil yang hancur. Kulihat Tia sudah terduduk di aspal. Bahunya berguncang. Dia nampak menggenggam sesuatu.
Aku mendekat. Dia nampak menggenggam cincin pernikahan yang di siapkan Angga. Ada bercak darah di cincin itu. Tia menatapku, tergugu. Sembari memberikan isyarat, “Kenapa ini terjadi, Kak?”
Aku langsung duduk di sampingnya dan memeluknya. Dia memukul-mukul tubuhku sambil menangis. Tuhan… kenapa seperti ini?
Hujan seketika turun ke bumi. Membasuh darah yang tadi melumuri sebagian aspal.
Bersusah payah aku membawanya ke rumah sakit.
***
Mata ayah dan ibunya Angga tampak merah. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.
Mereka mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang gawat darurat. Satu sosok berselimut kain putih menusuk hati kami. Perlahan, Tia mendekat. Sosok itu kian jelas. Angga.
Tia langsung memeluk sosok itu. Bahunya berguncang semakin hebat. Dia seperti berteriak “Jangan eprgi!” namun tak terdengar. Air matanya deras mengalir.
Di sudut ini, aku hanya bisa menangis. kembali tak ada yang bisa kulakukan. Kenapa harus begini Tuhan?
*****
Ayah dan ibunya Angga sering mengunjungi kami. Berbagi kenangan tentang Angga. Juga berusaha membuat Tia ceria kembali. Namun sepertinya kami tak berhasil. Sekarang Tia lebih sering menatap langit. Tak pernah lagi kulihat dia tersenyum. Bahasa isyarat pun sangat jarang ia gunakan untuk bicara denganku. Seolah memilih diam dan mengunci diri. Diajak bicarapun dia hanya mengangguk dan menggeleng.
Entah sampai kapan dia harus hidup di dunianya yang sunyi.
Tuhan… kenapa begini?
Kemarin kutemukan di HP Hyun Ae
To: My Prince ‘Angga’
“Ngga, apa kabar?”
Detail: Gagal mengirim.
-end-
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Author sempet nangis waktu nulis cerita ini *lebay? tapi ini kenyataan*
Give ur commet!!! Biar semangat lagi nulis cerita yang lain, hehehe ^^
Selamat membaca XD
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Title: Kisah Sedih
Genre: romance
Disclaimer: imajinasi saya ketika santai-santai sore hari.
“Kisah Sedih”
Ini persembahan untuk adikku. Aku tak tahu bagaimana harus memulai kisah ini. Yang kutahu, aku mengerti rasa sakitnya. Kadang aku ikut menangis melihat perihnya luka yang seharusnya tak diterimanya.
Kumohon ijinkan aku memulai kisah ini.
*******
Aku melihat ke arahnya. Dia terbangun dari tidur yang lama di pembaringnan yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Aku benar-benar takut dia akan menyusul ayah dan ibu di atas sana.
Dia mengerjap. Seolah mengenali tempat di mana dia berada sekarang.
Aku mendekat. Ku tahan air mataku yang kembali handak jatuh saat melihat wajah pucatnya tersenyum lembut padaku.
Angga baru saja pulang mengantar ayah dan ibunya.
“Kakak…” kurasa itu maksud dari gerak bibir adikku ini.
“Ya…?”
Sial! Air mataku membanjir sekarang.
“……..” ia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mengerti. Apa dia menanyakan ‘Ini di mana?’
Dia berkata lagi. Wajahnya pucatnya menegang. Apa dia menyadarinya?
“Tenanglah… aku segera memanggil dokter.” Pamitku sembari mengusap air mata yang tak bisa kutahan sama sekali.
Air mataku banjir saat menemui si dokter. Aku tak berhasil mengatakan satu katapun. Ini terlalu menyakitkan. Untuk kami, juga untuknya.
Dokter seolah mengerti. Dia mengangguk dan bersama suster menuju ruangan itu. Aku mengikuti mereka di belakang. Tergugu tanpa bisa melakukan sesuatu.
Lagi-lagi Tia berbicara padaku, tapi aku tak tahu apa yang dikatakannya. Tangisannya membuat isakanku menjadi.
“Tidak apa-apa, Tia… Tenanglah…” lirihku. Bagaimana bisa menegarkan orang lain kalau aku yang menngatakannya saja masih dalam kondisi berurai air mata.
Ku dapati air mata Tia mengalir kian deras. Dengan panik ia mengambil kertas di tangan suster dan menulis “Kenapa denganku, Kak? Aku tak bisa mendengar suaramu, juga suaraku?”tulisnya
Aku mengatup bibirku. Beberapa detik aku tak bisa bernapas.
Dia mengguncang tubuhku. Menuntut jawaban. Di matanya ia menuntut kejujuran. Tapi di saat bersamaan kutemukan ketakutan.
“Tia…” lirihku disela tangisku, aku menggeleng. Tak sanggup.
Aku menutup wajahku. Air mataku tak bisa kuhentikan sama sekali. Jelas ini membuatnya berpikir dia mengalami hal yang buruk kan?
Dokter menepuk pundakku pelan. Memberiku sedikit kekuatan. “Kau harus mengatakannya,” gumam dokter itu.
Di sela sesegukanku aku mendongak. Adikku menuntut jawaban dariku dengan matanya yang telah merah.
Aku menghela napas. “Hari itu kau kecelakaan…” mulaiku. Dia membacanya. Dia lekas menulis sesuatu lagi. Dengan tergesa. Kemudian menyerahkannya padaku.
“Apa aku kehilangan pendengaranku, Kak?”
Aku seka air mata yang gugur ke wajahnya sambil mengangguk lemah. Tatapannya penuh luka kali ini.
Kuambil pen yang masih di tangannya.
“Hari itu,” tulisku di kertas yang diserahkannya, “usai pulang dari butik, Kau mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Kau divonis,” satu butir air mata jatuh ke kertas itu. Haruskah kukatakan yang sebenarnya, atau membohonginya?
Aku menghela napas panjang. Mencari kekuatan. “Dokter memvonismu tidak bisa mendengar dan kehilangan suaramu selamanya.” Sambungku. “Aku tahu itu menyakitkan sekali.”
Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Kutatap dia. Segera dia mengambil kertas itu.
Ia membacanya. Matanya menatapku tak percaya. Matanya seolah bciara Katakan-ini-bohong-kak.
“Kuatkan dirimu, Tia…” bisikku. Dan kutahu itu tak berhasil. Dia tak bisa mendengarku. Dan yang dilakukannya adalah menangis hebat. Bahunya berguncang. Ia meraung-raung, tanpa suara.
Aku menatapnya dan ikut berurai air mata. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Dokter memberikan suntik penenang. Beberapa detik kemudian Tia tertidur.
Aku mengusap wajahku yang kucel. Menghapus air mata dan berharap ia tak jatuh lagi. Tapi sekali lagi aku gagal.
Kutatap Tia. Kenapa? Kenapa harus dia Tuhan? Kenapa kau ambil pendengaran dan suaranya saat hari terbahagia dalam hidupnya sudah ada di depan matanya? Kenapa kau mempermainkan hatinya? Hati kami!!!
***
Tia tampak lebih ceria akhir-akhir ini setelah dia menjalin kasih dengan seorang laki-laki bernama Angga, seniornya di kampus. katanya dia sudah punya usaha, meski kecil. Dan sebentar lagi lulus.
Aku pernah bertemu dengan Angga ketika Tia mengajakknya ke rumah. Seorang laki-laki yang sopan. Terlihat sekali dia begitu penyanyang. Dan aku merestui hubungan mereka.
--
Tia mondar-mandir di dapur saat aku sedang memasak untuk makan malam kami. Wajahnya tampak tegang. Padahal sore tadi masih berbinar bahagia. Aku tak bertanya karena tahu pasti Anggalah yang membuat sebahagia itu, seperti biasanya.
“Ada apa?” tanyaku akhirnya.
“…Eh?” dia berhenti. Menatapku dengan tatapan gelisah.
“Ada yang ingin kau katakan?”
Dia diam. Seolah menimbang-nimbang mengatakannya atau tidak. Aku menunggu sembari meneruskan masakanku.
“Kakak…”
“Hm..?”
“Janji tidak akan marah ya!?”
“Tergantung separah apa masalah itu dari sudut pandangku.” ^^
“Ih, Kakak~ ” ia merengek manja.
“Baiklah.” Aku menoleh kearahnya sambil menuangkan masakanku ke priring. “Aku tak akan marah,” kataku sembari menaruh piring itu di meja. Aku mariknya duduk di kursi makan. “Sekarang katakan.”
“Umm…”
“Hm?”
“Itu…”
“Apa~?”
“Tadi…,Angga melamarku,” lirihnya.
“Benarkah? Whaaa~” XD
Dia menagngguk. “Dia mengajakku menikah….”
“Selamat yaaa….” XDD
“Eh? Kakak tidak marah?”
“Ini kan kabar baik? Kenapa harus marah?”
Dia tersenyum malu. Aku mengelus kepalanya lembut. “Kalau dia memang serius, dia harus melamarmu padaku secara resmi lho…”
“Kakak tidak keberatan?”
Aku mengangguk. “Hm~mm…”
“Terima kasih kakakku sayang… AKu janji nanti kucarikan laki-laki yang baik yang cocok dengan kakak deh.”
Aku tersenyum. “Ada-ada saja.”
--
Angga datang ke rumah kami bersama keluarganya. Secara resmi mereka melamar Tia.
Kami menentukan hari pernikahannya. Setelah sepakat kami membicarakan detail pestanya.
Kami juga berkunjung ke makam orang tua untuk meminta restu.
Segalanya berjalan dengan lancar. Semuanya telah siap, tinggal menuju butik yang di tentukan pihak keluarga Angga untuk mengukur baju. Pihak laki-laki sudah menunggu di sana. Aku tak bisa ikut pergi karena tiba-tiba rapat penting tak bisa ditinggalkan.
Angga sebenarnya ingin menjemput, tapi Tia melarangnya karena jarak dari rumah ke butik itu cukup jauh. Dia memilih naik taksi.
Dia pamit padaku lewat telpon.
“Tumben…” ejekku.
“Siapa tahu kakak merindukan suaraku?” candanya.
“Tidak akan!” sangkalku, bercanda.
Dia tertawa.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaa……….tut-tut-tut….”
Deg!
Jantungku serasa berhenti berdetak. Apa yang terjadi. Kenapa dia berteriak?
“Tia?!!” panggilku cemas. Tak ada jawaban.
“Hallo?? Hallo? Tia?? TIA??!”
--
Rapat baru mau dimulai ketika sebuah telpon masuk. Nomor tak dikenal. Aku menjawab. Suara wanita. Dan detik itu juga aku merasakan diriku tak berpijak di bumi.
Aku minta ijin dan segera menuju rumah sakit. Menunggu di depan ruang UGD, tempat adikku berjuang untuk hidupnya. Aku meminta agar Tuhan tak mengambilnya.
Aku menelpon Angga. Mengabarkan bahwa Tia kecelakaan.
Mereka ada di sampingku 20 menit kemudian. Kami sama-sama meminta keselamatan Tia.
--
Dokter keluar, kemdian mengajakku ke ruangannya. Mengatakan dia selamat tapi juga mengatakan vonis yang menyakitkan itu. Aku yang tak mengalami saja sehancur ini apalagi dia?
Angga menghampiriku ketika aku keluar.
“Apa kata dokter? Apa lukanya parah?”
Aku diam bersamaan tetesan air mata yang jatuh ke pipiku.
“Kak?!” ia menatapku cemas.
“Dokter bilang…” aku mengatakannya sambil tergugu, “Tia kehilangan pendengaran dan suaranya selamanya.”
Angga mundur ke belakang beberapa langkah. Syok.
***
Aku meminta Tuhan agar tak mengambilnya. Tapi sepertinya doaku kurang. Tuhan memang tak menngambilnya dariku namun sebagai gantinya aku kehilangan suara dan pendengarannya. Dia tak lagi bisa mendengar suara-suara indah idolanya.
Dia bilang aku merindukan suaranya. Dan itu sepertinya benar-benar terjadi.
Angga masih belum kembali ketika dia terbangun lagi. Digenggamnya tanganku dengan erat. Aku menatapnya. Dia mengatakan sesuatu yang lagi-lagi tak bisa kuterka.
Air mataku jatuh lagi saat dia menatap sekitar dengan putus asa.
Dia berusaha menjangkau sesuatu. Buku!
Aku segera mengambilnya. Dia menulis sesuatu di sana.
“Apa Angga sudah tahu keadaanku?” tulisnya.
Aku mengangguk. “Dia tadi mengantar orang tuanya pulang. Mungkin sebentar lagi kembali.”
Usai aku menulis itu, sosok Angga datang. Tia menangis seketika. Dia mengatakan sesuatu lagi.
Angga merengkuhnya ke pelukannya. Mengusap kepala Tia dengan lembut. Membiarkan Tia menangis sepuasnya di bahunya.
Perlahan aku keluar.
***
Aku menyampaikan permintaan Tia: Membatalkan pernikahan. Kedua orang tua Angga dan Angganya sendiri tampak terkejut.
“Kami tidak bermaksud mempermainkan kalian. Kami… kami merasa tidak enak, dengan kondisi Tia seperti ini. Saya… terlebih Tia tak ingin Angga terpaksa menikahinya hanya karena kesepakatan sudah terucap sebelum kecelakaan ini terjadi. Saya pikir-“
“Aku tetap menikahinya, Kak. Bagaimanapun dia, karena dia Tia yang kucintai, aku tetap akan menikahinya.”potong Angga.
Penglihatanku buram. Aku tahu aku kembali menangis kali ini. “Jangan memaksakan dirimu, Ngga.” Lirihku.
“Tidak. Ayah, ibu dan aku baru saja mau berunding dengan kakak tentang jadwal ulang pernikahan kami.”
Aku mengatup bibirku. Cuma satu kata yang bisa kukeluarkan, “terima kasih…” aku membungkuk.
“Tak perlu seformal itu,” ibunya Angga memelukku. “Sudah kubilang kita sudah jadi keluarga kan?”
“Terima kasih….”
Diusapnya air mataku dengan lembut.
***
Hyun Ae menangis terharu ketika Jae Joong dan kelurganya datang dan mengatur ulang jadwal pernikahan.
“Aku mencintaimu tanpa alasan. Meski kau tak seperti dulu, kau tetaplah Tia, orang yang ku cinta.” Begitulah sms dari Angga ketika dia dan keluarganya sudah pulang.
Aku memeluk Tia. “Kau dapat pria yang baik, Tia. Benar-benar beruntung.” Batinku.
***
Pernihakan sudah dekat. Semuanya sudah diatur dengan baik. Aku mengantar Tia ke butik. Dia tampak cantik dengan gaun pernikahan yang senada dengan jasnya Angga. Mereka terlihat serasi sekali.
Kulihat Angga memujinya dengan menggunakan bahasa isyarat. Benar, aku, Tia, dan Angga, bersama-sama mempelajari bahasa isyarat. Agar aku dan Angga tahu apa yang ingin Tia sampaikan, dan agar Tia juga tahu apa yang kami ingin sampaikan.
“Kau juga tampan,” balas Tia dengan isyarat tubuh pula.
Di sudut ini aku tersenyum. Kebahagiaan adikku adalah kebahagiaanku juga.
***
Sudah dua jam berlalu Angga belum datang juga. Katanya dua jam lalu, jalanan macet total.
Orang tua Angga yang lebih dulu datang tampak cemas. Tia lebih cemas lagi. Sesekali dia melihat HPnya. Berharap Angga mengiriminya pesan.
Gemas, dia memencet tombol di HPnya. Menelpon Angga, meski tahu dia tak akan mendengar jika di seberang sana menjawab. Dia terus melihat layar HPnya. Masih bertuliskan ‘menghubingi Angga’. Tapi tak lama kemudian. ‘Panggilan berakhir. Coba lagi.’
“Kenapa dia tidak mengangkat telponku?” tanya Tia dengan isyarat tubuhnya.
Aku jadi ikut-ikutan cemas.
“Ah, Angga? Di mana kau?” suara ayahnya Angga mengalihkan perhatianku.
Tiba-tiba wajah pria 50 tahunan itu memucat. “Anda bilang… Angga kami… kecelakaan?”
Hyun Ae menatap tajam padaku, meminta penjelasan. Aku menjelaskannya dengan bahasa isyarat.
Belum selesai ayahnya Angga bicara Tia sudah berlari keluar. Tak peduli dengan gaunnya yang akan rusak. Juga dandanannya. Yang ia pedulikan Cuma keselamatan Angga.
Aku mengejarnya di belakang. Kuteriakkan namanya, memintanya berhenti. Tapi dia masih terus berlari. Ah, aku lupa kalau dia tak bisa mendengar.
Aku terus berlari di belakangnya.
Ambulance melewati kami. Tia menoleh sambil berlari. Begitu juga denganku. Apa di dalam sana adalah Angga?
Langkahku melambat ketika melihat bangkai mobil yang hancur. Kulihat Tia sudah terduduk di aspal. Bahunya berguncang. Dia nampak menggenggam sesuatu.
Aku mendekat. Dia nampak menggenggam cincin pernikahan yang di siapkan Angga. Ada bercak darah di cincin itu. Tia menatapku, tergugu. Sembari memberikan isyarat, “Kenapa ini terjadi, Kak?”
Aku langsung duduk di sampingnya dan memeluknya. Dia memukul-mukul tubuhku sambil menangis. Tuhan… kenapa seperti ini?
Hujan seketika turun ke bumi. Membasuh darah yang tadi melumuri sebagian aspal.
Bersusah payah aku membawanya ke rumah sakit.
***
Mata ayah dan ibunya Angga tampak merah. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.
Mereka mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang gawat darurat. Satu sosok berselimut kain putih menusuk hati kami. Perlahan, Tia mendekat. Sosok itu kian jelas. Angga.
Tia langsung memeluk sosok itu. Bahunya berguncang semakin hebat. Dia seperti berteriak “Jangan eprgi!” namun tak terdengar. Air matanya deras mengalir.
Di sudut ini, aku hanya bisa menangis. kembali tak ada yang bisa kulakukan. Kenapa harus begini Tuhan?
*****
Ayah dan ibunya Angga sering mengunjungi kami. Berbagi kenangan tentang Angga. Juga berusaha membuat Tia ceria kembali. Namun sepertinya kami tak berhasil. Sekarang Tia lebih sering menatap langit. Tak pernah lagi kulihat dia tersenyum. Bahasa isyarat pun sangat jarang ia gunakan untuk bicara denganku. Seolah memilih diam dan mengunci diri. Diajak bicarapun dia hanya mengangguk dan menggeleng.
Entah sampai kapan dia harus hidup di dunianya yang sunyi.
Tuhan… kenapa begini?
Kemarin kutemukan di HP Hyun Ae
To: My Prince ‘Angga’
“Ngga, apa kabar?”
Detail: Gagal mengirim.
-end-
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Author sempet nangis waktu nulis cerita ini *lebay? tapi ini kenyataan*
Give ur commet!!! Biar semangat lagi nulis cerita yang lain, hehehe ^^
cerpen Rasa Sakit Cinta
Title: Rasa Sakit Cinta
Author: Imah Hyun Ae
Disclaimer: Ini hasil majinasi saya dunk…^___^
Langsung aja ea.
Let story begin, hehe XDXD
"Rasa Sakit Cinta"
Perasaan ini datang tanpa kuduga. Hadir di hatiku dan bersemi pada orang yang sebenarnya pasti tak bisa ku suka. Karena tipeku adalah lelaki tinggi, putih, bermata tajam, dan punya kesukaan dan hobi yang sama denganku, plus gagah. Dan semua itu tidak ada pada dirinya.
Ia masih menempelkan hpnya di telinganya. Masih berbicara pada seseorang dengan wajah bahagia. Sesekali ku dapati senyum kecil menghiasi wajahnya.
Dalam diam, aku masih memperhatikannya.
"Di?"
"Eh?" aku tak sadar dia telah menatapku sekarang.
"Kau melamun ya?" Senyum lembut menghiasi wajahnya.
Aku tersnyum canggung sembari mengangguk.
Dia mengacak-acak rambutku dengan tangan kanannya.
Aku kembali merasakan degup jantungku yang tak berdegup seperti biasanya.
Dia sekarang duduk di depanku.
“Ya, Kak?”
"Maaf, sore nanti sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke toko buku. Barusan Siska memintaku menemaninya membeli perlengkapan lukisnya. Tidak apa-apa kan?"
Hatiku tiba-tiba terasa sakit. "Mm-mm... Tidak apa-apa." ^_^
"Aku janji lain kali pasti kutemani."
Aku mengangguk. Dan gerimis langsung menyinggahi hatiku.
------------
Namanya Apri. Dia senior sekaligus tetetanggaku. Aku cukup akrab dengannya. Sudah terbiasa dengan kelembutannya. Dan itulah yang membuatku sangat yakin cintaku tak akan jatuh padanya.
Tapi... entah sejak kapan keyakinanku salah.
Dia yang lembut, feminine, dan pembersih itu tiba-tiba mengisi satu tempat istimewa di hatiku. Padahal dengan sangat kutahu, di hatinya sudah ada orang lain. Seorang gadis paling cantik dan baik di jurusan lukis. Namanya Siska.
Cinta datang tanpa alasan. Tanpa mempedulikan logoka. Dan kadang tak tepat pada waktunya. Itulah yang aku dan Apri alami.
Jelas-jelas kami semua yang ada di fakultas seni ini tahu Kak Siska masih memberikan tempat di hatinya untuk Raka. Cowok imut+gokil yang sudah 6 bulan meninggalkan dunia ini. semua tahu betapa sedihnya Kak Siska. Semua tahu betapa mereka saling mencintai. Semua tahu mereka seharusnya menikah di 6 bulan lalu itu.
Semua juga tahu... bahwa hingga kini cincin pertunangan Kak Siska dari Kak Raka masih melingkar di jari manisnya.
Ah, aku belum cerita bagamana aku bisa mengenal mereka. mereka sahabat Kak Apri. Ketika Kak Apri mengetahui aku masuk jurusan seni juga, dia merayakannya bersamaku di sebuah rumah makan kesukaannya+mngundang teman-temannya, Siska dan Raka. Sejak saat itu aku jadi dekat dan bersahabat dengan mereka.
Dukaa itu masih menghias wajah Kak Siska. Masih sama seperti saat dia diberi tahu Kak Raka kecelakaan. Sama seperti saat ia menangis hebat dengan gaun pengantinnya sambil memeluk sosok Kak Raka yang memakai jas namun sudah tak bernyawa.
Aku, dengan sangat jelas tahu, persaan Kak Apri pada Kak Siska sudah sejak lama ada. Sudah sejak dia masih di sekolah menengah. Sejak aku masih tak tahu apa itu cinta.
Tapi saat itu perasaanku padanya hanya sebatas adik dan kakak. Tak lebih.
Sakit... kurasai sakit di hatiku. Aku melihat Kak Apri berlari di tengah hujan seusai Kak Siska menelpon, memintanya datang. Sekedar menemaninya karena hari ini adalah hari ulang tahun Kak Raka.
Dengan lamban aku mengukuti jejaknya yang lenyap di sapu air hujan. Dia sudah tak ada di pandanganku. Tapi ku tahu dia menuju pantai. Tempat Kak Siska berada sekarang.
Aku menghentikan langkahku. Tiga meter di depanku ku lihat Kak Apri memayungi Kak Siska.
Bodoh! Seharusnya dia memakai payung itu sejak tadi! kenapa memilih berlari dengan basah kuyup begitu.
tapi aku lebih bodoh. Membeku di bawah guyuran hujan saat melihat Kak Siska memeluk erat Kak Apri. Ku lihat bahunys bergetar hebat. Dia..pasti menangisi Kak Raka lagi. Dan Kak Apri, dia tak berkata dan melakukan apa-apa. Hanya diam. Membiarkan Kak Siska melampiaskan perasaan rindunya untuk Kak Raka.
'Kenapa kakak tidak melihatku? Ada aku, Kak. Ada aku yang mencintaimu. Kenapa masih mengharapkannya?' batinku pilu.
Aku tahu pasti saat ini Kak Apri mengatakan, 'lihat aku Siska, ada aku yang mencintaimu sejak lama? Tak bisa kah kau berikan rindumu itu untukku?', di hatinya.
--------------
Aku masih di pantai.
"Kau di sini?" katanya terkejut mendapatiku ketika dia hendak pulang dengan Kak Siska di punggungnya. Kak Siska sedang tidur ketika itu.
"Ng..." aku mengangguk gamang.
"Bodoh.." katanya lembut. "Kenapa hujan-hujanan? lihat! Kau pucat dan kedinginan kan? Ayo!" ia menarik tanganku. Apa dia lupa Kak Siska masih di gendongnya?
"Tidak. Kakak mengantar Kak Siska saja. Aku... akan baik-baik saja. Aku...bisa pulang sendri."
"Sungguh?"
"Hm-mm..."
"Kalau sudah pulang, sms aku." Aku mengangguk dan ia berlalu pergi.
---------
Aku memandang lautan di depanku. Sudah sejak 6 jam lalu cuma itu yang kulakukan.
Hujan sudah mulai reda. Tapi gigil di tubuhku semakin meningkat.
Aku berdiri, hendak pulang. Ah, pandanganku kabur... tubuhku oleng!
"Diana?!" suara Kak Apri.
Aku merasa Kak Apri menggendong tubuhku di punggungnya.
"Kak..." panggilku lirih.
"Sudah ku bilang pulang kan?"
"Maaf..."
"Kau benar-benar membuatku cemas! Ku hubungi hpmu tidak aktif. Sengaja kau matikan?"
"Mungkin rusak. Kehujanan sejak tadi." Aku coba terseyum meski lelah rasanya.
"Apa dari tadi kau di sini?"
Aku tak menjawab.
"Apa ada masalah?"
Aku menggeleng lemah.
Ku buka mata. Hari merambat gelap rupanya.
"Apa sejak tadi kau tidak berteduh? Tubuhmu basah sekali."
"Kakak..."
"Hm?"
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja."
"Benarkah?"
"Hm-mm. Sudah jelaskan. Adikku belum pulang dan hp tidak aktif. Untung kau masih di pantai, jika ke tempat yang tak ku tahu, aku tak tahu harus bagamana agar menemukanmu."
"Maaf..."
"Tidak apa-apa. Lain kali jangan begini, ya." katanya sambil memperhatikan jalanan, menunggu taxi.
"Kak..." aku merebahkan kepalaku d bahunya.
"Hm?"
"Punggung kakak hangat. Nyaman sekali rasanya."
Sedikit senyum terukir di wajah lembutnya.
"Puh..ada-ada saja," gumamnya menahan tawa.
"Aku suka, Kakak..." kataku pelan.
"Eh?" ia sepertinya terkejut.
Aku memeluknya erat. "Aku sangat menyukai kakak." bisikku lagi.
senyap bbrp saat.
Air mataku mrnggenang. Aku tahu ia tak akan menerima perasaanku.
"Aku cintai kakak.."
Senyap...
"Kakak..?" kupanggil dia yang dari tadi diam.
"Maaf..." sahutnya akhirnya.
"Aku sungguh mencintai kakak..." isakku.
"Maafkan aku..."
Aku makin terisak. "Aku sungguh cinta..." lirihku.
"Benar-benar maaf..."
Aku tergugu di punggungnya.
"Terima kasih.. sudah mencntaiku," katanya lagi.
Air mataku meleleh deras.
---end---
Coment ea. ;-)
Author: Imah Hyun Ae
Disclaimer: Ini hasil majinasi saya dunk…^___^
Langsung aja ea.
Let story begin, hehe XDXD
"Rasa Sakit Cinta"
Perasaan ini datang tanpa kuduga. Hadir di hatiku dan bersemi pada orang yang sebenarnya pasti tak bisa ku suka. Karena tipeku adalah lelaki tinggi, putih, bermata tajam, dan punya kesukaan dan hobi yang sama denganku, plus gagah. Dan semua itu tidak ada pada dirinya.
Ia masih menempelkan hpnya di telinganya. Masih berbicara pada seseorang dengan wajah bahagia. Sesekali ku dapati senyum kecil menghiasi wajahnya.
Dalam diam, aku masih memperhatikannya.
"Di?"
"Eh?" aku tak sadar dia telah menatapku sekarang.
"Kau melamun ya?" Senyum lembut menghiasi wajahnya.
Aku tersnyum canggung sembari mengangguk.
Dia mengacak-acak rambutku dengan tangan kanannya.
Aku kembali merasakan degup jantungku yang tak berdegup seperti biasanya.
Dia sekarang duduk di depanku.
“Ya, Kak?”
"Maaf, sore nanti sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke toko buku. Barusan Siska memintaku menemaninya membeli perlengkapan lukisnya. Tidak apa-apa kan?"
Hatiku tiba-tiba terasa sakit. "Mm-mm... Tidak apa-apa." ^_^
"Aku janji lain kali pasti kutemani."
Aku mengangguk. Dan gerimis langsung menyinggahi hatiku.
------------
Namanya Apri. Dia senior sekaligus tetetanggaku. Aku cukup akrab dengannya. Sudah terbiasa dengan kelembutannya. Dan itulah yang membuatku sangat yakin cintaku tak akan jatuh padanya.
Tapi... entah sejak kapan keyakinanku salah.
Dia yang lembut, feminine, dan pembersih itu tiba-tiba mengisi satu tempat istimewa di hatiku. Padahal dengan sangat kutahu, di hatinya sudah ada orang lain. Seorang gadis paling cantik dan baik di jurusan lukis. Namanya Siska.
Cinta datang tanpa alasan. Tanpa mempedulikan logoka. Dan kadang tak tepat pada waktunya. Itulah yang aku dan Apri alami.
Jelas-jelas kami semua yang ada di fakultas seni ini tahu Kak Siska masih memberikan tempat di hatinya untuk Raka. Cowok imut+gokil yang sudah 6 bulan meninggalkan dunia ini. semua tahu betapa sedihnya Kak Siska. Semua tahu betapa mereka saling mencintai. Semua tahu mereka seharusnya menikah di 6 bulan lalu itu.
Semua juga tahu... bahwa hingga kini cincin pertunangan Kak Siska dari Kak Raka masih melingkar di jari manisnya.
Ah, aku belum cerita bagamana aku bisa mengenal mereka. mereka sahabat Kak Apri. Ketika Kak Apri mengetahui aku masuk jurusan seni juga, dia merayakannya bersamaku di sebuah rumah makan kesukaannya+mngundang teman-temannya, Siska dan Raka. Sejak saat itu aku jadi dekat dan bersahabat dengan mereka.
Dukaa itu masih menghias wajah Kak Siska. Masih sama seperti saat dia diberi tahu Kak Raka kecelakaan. Sama seperti saat ia menangis hebat dengan gaun pengantinnya sambil memeluk sosok Kak Raka yang memakai jas namun sudah tak bernyawa.
Aku, dengan sangat jelas tahu, persaan Kak Apri pada Kak Siska sudah sejak lama ada. Sudah sejak dia masih di sekolah menengah. Sejak aku masih tak tahu apa itu cinta.
Tapi saat itu perasaanku padanya hanya sebatas adik dan kakak. Tak lebih.
Sakit... kurasai sakit di hatiku. Aku melihat Kak Apri berlari di tengah hujan seusai Kak Siska menelpon, memintanya datang. Sekedar menemaninya karena hari ini adalah hari ulang tahun Kak Raka.
Dengan lamban aku mengukuti jejaknya yang lenyap di sapu air hujan. Dia sudah tak ada di pandanganku. Tapi ku tahu dia menuju pantai. Tempat Kak Siska berada sekarang.
Aku menghentikan langkahku. Tiga meter di depanku ku lihat Kak Apri memayungi Kak Siska.
Bodoh! Seharusnya dia memakai payung itu sejak tadi! kenapa memilih berlari dengan basah kuyup begitu.
tapi aku lebih bodoh. Membeku di bawah guyuran hujan saat melihat Kak Siska memeluk erat Kak Apri. Ku lihat bahunys bergetar hebat. Dia..pasti menangisi Kak Raka lagi. Dan Kak Apri, dia tak berkata dan melakukan apa-apa. Hanya diam. Membiarkan Kak Siska melampiaskan perasaan rindunya untuk Kak Raka.
'Kenapa kakak tidak melihatku? Ada aku, Kak. Ada aku yang mencintaimu. Kenapa masih mengharapkannya?' batinku pilu.
Aku tahu pasti saat ini Kak Apri mengatakan, 'lihat aku Siska, ada aku yang mencintaimu sejak lama? Tak bisa kah kau berikan rindumu itu untukku?', di hatinya.
--------------
Aku masih di pantai.
"Kau di sini?" katanya terkejut mendapatiku ketika dia hendak pulang dengan Kak Siska di punggungnya. Kak Siska sedang tidur ketika itu.
"Ng..." aku mengangguk gamang.
"Bodoh.." katanya lembut. "Kenapa hujan-hujanan? lihat! Kau pucat dan kedinginan kan? Ayo!" ia menarik tanganku. Apa dia lupa Kak Siska masih di gendongnya?
"Tidak. Kakak mengantar Kak Siska saja. Aku... akan baik-baik saja. Aku...bisa pulang sendri."
"Sungguh?"
"Hm-mm..."
"Kalau sudah pulang, sms aku." Aku mengangguk dan ia berlalu pergi.
---------
Aku memandang lautan di depanku. Sudah sejak 6 jam lalu cuma itu yang kulakukan.
Hujan sudah mulai reda. Tapi gigil di tubuhku semakin meningkat.
Aku berdiri, hendak pulang. Ah, pandanganku kabur... tubuhku oleng!
"Diana?!" suara Kak Apri.
Aku merasa Kak Apri menggendong tubuhku di punggungnya.
"Kak..." panggilku lirih.
"Sudah ku bilang pulang kan?"
"Maaf..."
"Kau benar-benar membuatku cemas! Ku hubungi hpmu tidak aktif. Sengaja kau matikan?"
"Mungkin rusak. Kehujanan sejak tadi." Aku coba terseyum meski lelah rasanya.
"Apa dari tadi kau di sini?"
Aku tak menjawab.
"Apa ada masalah?"
Aku menggeleng lemah.
Ku buka mata. Hari merambat gelap rupanya.
"Apa sejak tadi kau tidak berteduh? Tubuhmu basah sekali."
"Kakak..."
"Hm?"
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja."
"Benarkah?"
"Hm-mm. Sudah jelaskan. Adikku belum pulang dan hp tidak aktif. Untung kau masih di pantai, jika ke tempat yang tak ku tahu, aku tak tahu harus bagamana agar menemukanmu."
"Maaf..."
"Tidak apa-apa. Lain kali jangan begini, ya." katanya sambil memperhatikan jalanan, menunggu taxi.
"Kak..." aku merebahkan kepalaku d bahunya.
"Hm?"
"Punggung kakak hangat. Nyaman sekali rasanya."
Sedikit senyum terukir di wajah lembutnya.
"Puh..ada-ada saja," gumamnya menahan tawa.
"Aku suka, Kakak..." kataku pelan.
"Eh?" ia sepertinya terkejut.
Aku memeluknya erat. "Aku sangat menyukai kakak." bisikku lagi.
senyap bbrp saat.
Air mataku mrnggenang. Aku tahu ia tak akan menerima perasaanku.
"Aku cintai kakak.."
Senyap...
"Kakak..?" kupanggil dia yang dari tadi diam.
"Maaf..." sahutnya akhirnya.
"Aku sungguh mencintai kakak..." isakku.
"Maafkan aku..."
Aku makin terisak. "Aku sungguh cinta..." lirihku.
"Benar-benar maaf..."
Aku tergugu di punggungnya.
"Terima kasih.. sudah mencntaiku," katanya lagi.
Air mataku meleleh deras.
---end---
Coment ea. ;-)
Subscribe to:
Comments (Atom)