Hahay… akhirnya saya comeback lagi niy. Pasti udah pada kangenkan sama cerita-cerita saya kan?! Hehe, ^///^
Ya udah ga usah pedulikan ocehan saya yang rada narsis itu. Kali ini saya nulis cerita dengan sudut pandang utamanya adalah Yano.
Cerita ini tercipta sudah lama di otak saya, Cuma baru bisa ngetiknya sekarang. Kali ini sad end lagi. Maaf kalau ga suka.
Sekali lagi ini cuma imajinasi saya *yang mungkin terlalu berlebihan* hehehe.
Oke. Lets read! AND LEAVE COMMENT PLEASE. Tolong JANGAN jadi SILENCE READER. Ini demi memompa semangat saya juga, hehe…
--------------------------------------------------------------
Title: Kesedihan
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: murni imajinasi saya
KESEDIHAN
Aku Yuno. Leader dari grup Pearl Blue. Ah, kurasa hal ini tidak perlu ku tulis bukan?
Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para Pearl lady (fans kami) yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.
Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terulang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.
Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis cerita untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.
“Rain in my heart… mou yamanai…”
Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Surya. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Ryo.
Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenandung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.
Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasti akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.
Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.
***
Hari itu…
Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Ryo tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.
“Terima kasih kamu berada di sisiku… jantungku berdebar-debar…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.
Air mata crying baby kami deras berjatuhan.
Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.
Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.
“Ryo?” panggilku.
Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.
Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.
“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya.
“Kau tahu? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”
Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.
“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.
Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.
“Kenapa…??” bisiknya.
Apa yang harus ku katakan?
“Kenapa, Yan…?” isakannya kembali terdengar. “Kenapa…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.
“Sudahlah, Yo…” kudengar suara Celvin. Sejak kapan dia di sini?
Surya juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Ryo. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.
“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.
Angga menyeka air matanya yang jatuh.
“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Ryo menjadi.
“Yo..” Angga mencoba bersuara tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.
“Katakan itu mimpi.” Suara Ryo makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.
Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.
“Jangan pergi, Ma…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.
***
Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.
Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menangis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.
Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!
Ryo mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Ryo kami ini.
***
Waktu itu…
Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Celvin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.
“Kenapa?” Bukannya menjawab, si bungsu di grup kami ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.
Aku menatapnya bingung.
“Dengar!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…
“Kak..” suara seorang gadis. Aku memandang Celvin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Kakak sendiri? Baik-baik saja kan?”
“Siapa?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.
Celvin mengakat bahunya. “Ini milik Ryo. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isinya suara gadis ini!” Wajah Celvin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.
“Benarkah?” aku segera mengeceknya. Benar! Suara itu lagi!
“Hey kak… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat kakak lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa kak, di sini ada aku yang mencemaskanmu. I love you kak Ryo..”
Kupandang Celvin. “Menurutmu siapa dia?”
“Aku curiga dia…” Celvin menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.
“Coba dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.
Aku mengarkan dengan seksama. “Kakak… tenanglah. Aku percaya pada kakak. Jika image kakak harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyataannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati kakak, setelah Tuhan dan orang tua kakak. Aku mencintaimu, Kak….”
Mulutku membulat. Terkejut.
Celvin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya.
“Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.
“Kak… aku sudah lihat mini FTV kalian. Whaa~ kakak keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Umm, Kak, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Maaf…. Tapi perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... Bagaimana ini?”
Kepala Celvin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-Yan.
“Jadi… gadis ini…”
Celvin mengangguk cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Kurasa dia kekasih Ryo. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.
Aku dan Celvin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.
Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Surya dan Angga yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sedang mencari sesuatu dengan cemas.
“Mencari apa?” tanyaku.
“Apa kau melihat hpku? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”
Aku melirik Celvin.
Ryo menatap Celvin. “Vin?”
Celvin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. maaf... aku dan Yano tadi membuka isinya.”
Wajah Ryo berubah. Diraihnya HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.
“Hampir…” ujer Celvin sambil cengengesan.
Ryo terduduk di sofa. Syok mungkin.
“Eh? Ada apa?” Angga dan Surya yang baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.
“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Ryo. Ryo tersenyum malu. Ia menggeleng.
“Rasanya sudah tidak bisa lagi. Maaf, karena merahasiakannya selama ini.”
“Soal apa?” Tanya Surya antusias.
“Jadi, ceritakan pada kami sekarang. Tetang cintamu itu.” Pinta Celvin dengan mata puppy eyes-nya.
Ryo menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Rianti,” mulainya sambil menatap HPnya. Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.
Kami mengangguk.
“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak bisa menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi aku malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”
Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.
“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”
“Hmm….” Gumam Surya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Ryo ini.
“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?” tanya Angga semangat.
Ryo tertawa kecil sambil mengangguk. “Iya.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.
“Sudah berapa lama kau dengannya?” tanya Celvin menyelidik.
“Tujuh tahun…”
“Hah???” kami terkejut bersamaan.
“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan.
“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”
“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Angga sambil memajukan wajahnya ke depan Ryo.
“Tidak.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”
“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.
“Bu-bukan.” Ryo tampak gugup. “Aku tak bermaksud begitu. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”
“Tapi apa?” Celvin tak sabar.
“Umm.. tapi… manajer melarangku.”
“Eh??” aku terkejut.
“Manajer??” Tanya Surya. “Jadi dia tahu??”
Ryo mengangguk.
“Sejak kapan?” tanyaku lambat.
“Dua tahun lalu.”
Kami mengangguk.
“Hmm..” gumamku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.
“Kau… serius dengannya?” tanya Angga.
Ryo mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.”
“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju.
Ryo menatap kami bergantian dan cerita tentang hubungannya dengan Rianti pun di mulai. “Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?
Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Rianti. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.
Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada laki—laki yang mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.
Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.
Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.
Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti, ‘Aku juga…’
Aku mendongak. ‘Eh?’
‘Aku juga menyukaimu…’ katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.
‘Sungguh?’
Dia mengangguk sambil tersenyum malu.
‘Yayyy~~~.’ aku berteriak gembira. Rianti pacarku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.
Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…
‘Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,’ ia menatapku, ‘Kita putus.’
‘Eh?’
Rianti menunduk.
Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?
‘A-aku mengerti…,’ ujerku terbata.
Rianti mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.
Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.
Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta, kan?
Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.
Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.
Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyenangkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya.
Ketika aku memutuskan ikut audisi M Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.
‘Benarkah?’ tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. ‘Kakak pasti lolos,’ ujernya riang.
‘Thanks… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.’
Ia menggeleng. ‘Tidak apa-apa. Jika itu impian kakak, maka impian kakak menjadi impianku juga.’
‘Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?’
‘Kakak cemas?’
Aku mengangguk gamang.
‘Bukankah aku yang harusnya cemas.’ Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. ‘Kekasihku akan semakin banyak punya fans.’ Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak wanita yang cantik. Kakak… pasti akan berpaling..’ sambungnya setengah berbisik.
‘Tidak~,’ tegasku segera. ‘Kau satu-satunya!’
‘Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan, Kak?’
‘Hei!!! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.’
Ia tersenyum dan mengangguk.
Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.
Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku, yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…
Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, Kak. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua kakak.’
Senyumku mengembang seketika.
Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?
Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,
‘Kakak… aku sudah lihat mini FTV kalian. Whaa~ kakak kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Kakak, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Maaf…. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... bagaimana ini?’
Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.”
“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan mendengar cerita Ryo barusan.
“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”
“O! yang waktu itu,” pekik Angga.
“Iya. Kau bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”
“O~” koor kami berkumandang lagi.
“Waktu itu aku menemui Rianti di tempat rahasia kami.
‘Kakak… apa kalimatku tadi membuat kakak cemas?’ ujernya takut.
Aku mendekat.
‘Ma-‘
Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.
‘Kakak…?’ ia terkejut.
Aku memeluknya erat. ‘Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar,’ ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.
‘Eh?’
‘Ternyata itu hatimu ya…’
‘Kakak…’ ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu.
‘Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?’
‘Um..Ya…’
Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?
‘Bukankah itu bunyi debaran hati kakak?’ lanjutnya.
Ah, ternyata dia tahu!! ‘Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.’
Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang.
‘Terima kasih…’ ujerku.
‘Eh?’
‘Terima kasih karena selalu mencemaskanku.’
Kurasakan dia mengangguk.
‘Terima kasih… karena sudah cemburu untukku.’ *gyaaa~~~~*
‘Kakak~’ ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.
‘Itu melegakanku, Ria…’ bisikku.
Rianti tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.
‘Aku mencintaimu, Kak…’ bisiknya pelan.
Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.
‘Kau di mana?’ tanyaku usai menanyakan kabarnya.
‘Kakak tidak tahu?’ ia balik bertanya.
‘Maksudmu?’
‘Bukankah selama ini aku ada di hati kakak?’ Dia menggodaku.
‘Hei!!’ Senyum bahagiaku merekah seketika.
‘Aku sedang di kamar, Kak.’ ujernya usai tergelak.
‘Sedang mengerjakan apa?’
‘Umm… tugas rutin.’
‘Tugas rutin?’ ulangku.
‘Hm-mm. Tugas memikirkan kakak sepanjang waktu.’
‘Hei!!’
Rianti tertawa lagi.
‘Kenapa justru kau yang menggodaku.’ ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Rianti makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.”
“Wowww….” Ujer Surya. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Ryo.
“Suit-suit!” Celvin bersuit heboh.
Kulihat wajah Ryo memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.
“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika Celvin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”
“Jangan-jangan…” Celvin menduga-duga.
Ryo tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.
“Whoaa.. Ryo… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Surya takjub.
Bugh!
Pukulan pelan mendarat di kepala Surya.
“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Angga. “Itu sudah tentu kan?!!”
Ryo tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.
“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.
Ryo mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.
“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Kekasihku’.
Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami.
“Cantik,” komentar Celvin.
Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.
“Hm-mm,” Surya ikut mendukung komentar Celvin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.
Ryo tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”
***
Hari yang bahagia setelah itu. Ryo selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Rianti usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Ryo bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.
***
“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Ryo bilang dia mau melamar Rianti.
“Iya.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.”
“HAH???” kami terkejut bersamaan.
Ryo mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”
“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yo,” ujerku.
“Semangat!” Celvin semangat mengatakannya.
“Kabari kami segera apa jawaban Rianti, ya?” pinta Angga.
Ryo mengangguk.
Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’.
Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.
Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.
Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Ryo yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Ryo dengan Rianti.
Semua berjalan lancar. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Ryo. Bahkan ada yang langsung memanggil Rianti dengan sebutan ‘Kakak terbaik’. Kami lega.
***
Kami bahagia. Hingga membuat kami lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.
Hari itu, seminggu sebelum pesta.
Ryo dan Rianti mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Ryo dan Rianti lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.
Merasa kehausan, Rianti pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Ryo masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas.
“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.
“Tidak usah. Fans diluar cukup banyak. Nanti Kakak malah tidak bisa lewat.”
“Tapi-“
“Tidak apa-apa,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.
Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Rianti dengan sebutan ‘Kakak’ aku lega. Kulihat Rianti membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.
Rianti menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.
Ryo menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi uman di tangannya.
“RIANTI??!!” teriakan Ryo mengagetkan kami.
“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.
Ryo dan kami berempat keluar.
RIanti tampak tak bergerak.
Ambulan membawa Rianti ke rumah sakit. Ryo ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.
Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.
Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.
“RIA!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Jangan pergi~” suaranya pilu sekali.
Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?
“Jawab aku, Ria?!!” Ryo tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Rianti yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Rianti, gadis yang begitu dicintai Ryo, telah tiada.
“Kenapa…?” lirih Ryo ketika upaca pemakaman usai. “Kenapa…?” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makam Rianti dan kembali menangis hebat.
Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan.
***
Kami mengetahui pelaku tabrak lari Rianti adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Ryo menikah dengan orang lain.
Apa kalian tahu, Ryo pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Rianti, maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola.”
Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi pearl lady. Menjaga hati pearl lady agar tidak terluka.
Rianti yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Ryo. Mendukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.
Lalu kenapa? KENAPA??
Kalian bilang mencintai Ryo. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?
Ah, maaf… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu.
Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.
Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Ryo?
“Apa dengan menerima maafmu, Rianti-ku kembali?”
Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Ryo langsung. Jawaban Ryo masih sama.
“Apa dengan memaafkan, Rainti-ku kembali?”
Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja.
***
“Yan?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Ryo memanggilku.
Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.
“Apa dengan memaafkan orang itu, Rianti-ku bisa kembali?”
Apa yang harus kujawab?
--End--
Hehehe… thanks udah baca…. Di tunggu komentarnya lho.
Bagi yang kena tag, WAJIB KOMENTAR lho~ ^^
Silahkan lanjut ke ceritaku yang lain ya~ XDXD
No comments:
Post a Comment