Friday, August 6, 2010

cerbung: Kenangan tanpa nama 3

Chapter 3

Way to Love



-Hendra-

Aku merebahkan Rina yang masih terpejam di kamarku. Aku memutuskan merawatnya di rumahku karena hanya ini kesempatanku bersamanya. Ku tatap ia sebentar kemudian keluar. Aku mengunci pintu kamar tersebut. Aku takut saat ia terbangun ia akan pergi. Meninggalkanku yang belum sempat menunjukan aku mencintainya.

Ku ambil perban dan obat merah. Juga beberapa obat tablet penghilang rasa sakit.

Perlahan ku buka pintu kamar. Ia tengah duduk sambil meringis memegangis lengannya yang terluka. Aku duduk di kasur,cukup dekat dengannya. Kurasai hatiku bergetar hebat. Ia menatapku bingung.



Why, you don’t know

You don’t know me

I wish that you will take my way whole heart

I don’t need another

I only wish for your love

(Love Like This by. SS501)



Dalam diam aku mengubah posisi duduknya yang semula menghadapku kini memunggungiku. Ku lepas blezernya perlahan. Ia merintih saat tak sengaja blezernya mengenai lukanya.

Lukanya tak begitu dalam. Sepertinya perlurunya tidak bersarang di lengannya. Syukurlah.

Aku membalut lukanya usai menetesinya dengan obat mereh. Setelah selesai, lagi-lagi, dengan tanpa berkata sepatah katapun aku menyerahkan dua buah obat tablet dan segelas air padanya.

Tanpa berkata, ia meminum obat itu.

Aku keluar. Menguncinya. Seperti menyadari bahwa dirinya ku kunci dari luar, ia berlari mendekati pintu. Menggedor-gedornya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Aku tak berkutik. Hanya menatap pintu itu sesaat kemudian pergi.



The closer I get

More scared I get

But this love can’t be stopped

Why is it just my love that is slow

Why is it just my love that is hard

Even if I’m by your side

You’re the whole world

I look at only you

I stare into distance in front of you

(Can You Hear Me by. Tae Yeon)



Aku akan melihat wajahnya jika aku membawakan makan pagi, siang, dan malam untuknya. Juga membawakan baju ganti untuk dipakainya. Dan jika tengah malam, aku akan mengunjunginya. Menatap wajahnya yang penuh kedamaian saat tidur. Lalu keluar dan berharap pagi segera datang. Seperti itu setiap hari.

Aku sadari masakanku tidak terlalu enak. Ia tak pernah menghabiskannya. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke dapurku. Ingin mencicipi masakan buatannya. Tapi lagi-lagi rasa takut menghantuiku. Aku takut ia pergi, dan aku tak bisa meraihnya lagi.

Sambil memikirkan hadiah apa yang ingin ku berikan padanya, aku mengantarkan makan siangnya. Saat kamar terbuka, ia tak terlihat di kasur itu. Aku masuk dan menatap kamar mandi. Mungkin dia di sana pikirku.

”Hyaa!!!!” sebuah teriakan dan...

Bugh!!!

Sesuatu yang berat menghantam bahuku. Aku mematung sesaat. Ku letakkan makan siangnya di meja dekat ranjang, seperti biasanya.

Aku berbalik. Melangkah keluar. Sekilas ku lihat ia berdiri ketakutan sambil memegangi benda berat yang ia hantamkan padaku.

Aku kembali mengurungnya di kamar itu.



I’ll never let you go

Hey, stay by my side

Let’s count each passing season

Right by your side like this

My Life we’ll walk together

All the time, forever

(Song For You by. DBSK)



Aku menatap layar laptopku. Satu target terpampang di sana. Sosok laki-laki yang pernah menyakiti Rina. Baru kudapat infonya beberapa hari yang lalu. Ia sering berkunjung ke club “Blue”. Aku akan menghabisinya hari ini.

Ku ambil pisauku. Ku bayangkan rak yang berjarak dua meter di depanku adalah sosok orang itu.

Suuuut!

Pisau melayang. Kubayangkan mengenai bahunya.



Di club tersebut ku lihat dia sedang minum. Langsung saja ku ambil pisauku dan melemparkan ke arahnya. Benar-benar tepat mengenai bahunya. Ia pingsang seketika. Tidak. Dia mati!

Setelah itu keributan terjadi. Mereka, para pekerja di club dan (mungkin) anak buah dari laki-laki tadi mengejarku. Sekuat tenaga aku melarikan diri.

Terjebak di lorong yang sempit, aku harus menghajar mereka agar aku bisa lari.

Cukup lama, hingga akhirnya aku berhasil menyandra satu orang dan menodongkan pisau ke leher orang itu. Teman-temannya angkat tangan. Tanda menyerah.

Perlahan aku berjalan mendekati pintu. Ku dorong orang yang kusandra tadi sekuat tenaga, menjauh dariku.

Aku berhasil lari.

Setelah merasa aman, aku berhenti. Mengatur napasku, kemudian berjalan.



Malam yang sunyi aku melewati toko perhiasan yang sudah tutup. Aku teringat Rina.

Ku dekati toko tersebut. Sebuah kalung degan desain sederhana, mungkin Rina akan suka.

Dengan sekuat tenaga aku memecahkan jendela kaca toko tersebut dengan tanganku.

~*~



hope you like it ^^

No comments:

Post a Comment