Monday, August 30, 2010

cerpen: Memories of Heart

Kali ini lebih panjang, hehehe…
Sad end lagi ga ya??? Menurut kalian?
Temukan jawabannya dengan membaca cerita pendek ini, hehehe ^___^
---------------------------------------------------------

Title: Memories of Heart
Penulis: Imah Hyun Ae
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD

MEMORIES OF HEART

~Celvin~
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.
Bagaimana dengan dirimu? Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Aku terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Sungguh…Aku sungguh merindukanmu…
Puk!
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini!” tegurnya sembari mendekatiku.
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Justin.”
“Lalu?” ujer Justin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?
“Siapa?” Justin kembali menyadarkanku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Mia’, batinku mengucapkan nama itu.
Aku merangkul Justin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***

~Justin~
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Celvin. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Mia.
Jika Celvin mengenang Mia, maka setiap waktu aku mengenangmu.
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, Bella.
Whuss…
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Nicholas melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.
Ah, apakah sudah saatnya latihan?
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.
Bella, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Aku sungguh mencintaimu…
***

~Nicholas~
Di lain musim.
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dengan musim panas. Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu…
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…
“Nicholas!! Cepat!” teriak Justin.
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Celvin saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah.
Robert menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.
***

~Robert~

Musim berganti.
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Kau, senior bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu, pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku.
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Sungguh aku merindukanmu…” bisikku.
“Hei, Robert!!!” aku terkejut. Seseorang melongokan kepalanya dai jendela dan berteriak menyebut namaku.
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!”
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.
“Aish… senior itu lagi?”
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini. John.
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bisa menasehati, John!” tegurku.
“Apa?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Sandara sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”
“A-apa? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.
“Ck! Jangan bohong, John!”
John langsung manyun.
Aku menertawakannya sepuasku.
Senior… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan?
***

~John~
Di lain waktu…
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Sandara.
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.
“Sukses?” sebuah suara langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untukmu, kok.”
Kata itu menyakitiku, Sandara…
“Sungguh? Thanks…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang John yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Sandara…?
***
--------------------------------------------------------

Tamat ^^

Gimana?? Sebenarnya kalau di perpanjang lebih bagus lagi kan? Mau sih… namun setelah aku melihat semua catatanku, aku shok!!! Ada banyak judul yang belum kutulis dan ku tamatkan! Jadinya… sampai di sini saja dulu. Kalau ada ilham lagi, akan kusambung lagi. Hahaha XDXD
Maaf… kalau kalian kecewa, m(_ _)m

No comments:

Post a Comment