Hmm aouthor comeback again. Kali ini sengaja sad ending lagi. Moga-moga kamu yang baca suka ^^
Selamat membaca XD
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Title: Kisah Sedih
Genre: romance
Disclaimer: imajinasi saya ketika santai-santai sore hari.
“Kisah Sedih”
Ini persembahan untuk adikku. Aku tak tahu bagaimana harus memulai kisah ini. Yang kutahu, aku mengerti rasa sakitnya. Kadang aku ikut menangis melihat perihnya luka yang seharusnya tak diterimanya.
Kumohon ijinkan aku memulai kisah ini.
*******
Aku melihat ke arahnya. Dia terbangun dari tidur yang lama di pembaringnan yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Aku benar-benar takut dia akan menyusul ayah dan ibu di atas sana.
Dia mengerjap. Seolah mengenali tempat di mana dia berada sekarang.
Aku mendekat. Ku tahan air mataku yang kembali handak jatuh saat melihat wajah pucatnya tersenyum lembut padaku.
Angga baru saja pulang mengantar ayah dan ibunya.
“Kakak…” kurasa itu maksud dari gerak bibir adikku ini.
“Ya…?”
Sial! Air mataku membanjir sekarang.
“……..” ia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mengerti. Apa dia menanyakan ‘Ini di mana?’
Dia berkata lagi. Wajahnya pucatnya menegang. Apa dia menyadarinya?
“Tenanglah… aku segera memanggil dokter.” Pamitku sembari mengusap air mata yang tak bisa kutahan sama sekali.
Air mataku banjir saat menemui si dokter. Aku tak berhasil mengatakan satu katapun. Ini terlalu menyakitkan. Untuk kami, juga untuknya.
Dokter seolah mengerti. Dia mengangguk dan bersama suster menuju ruangan itu. Aku mengikuti mereka di belakang. Tergugu tanpa bisa melakukan sesuatu.
Lagi-lagi Tia berbicara padaku, tapi aku tak tahu apa yang dikatakannya. Tangisannya membuat isakanku menjadi.
“Tidak apa-apa, Tia… Tenanglah…” lirihku. Bagaimana bisa menegarkan orang lain kalau aku yang menngatakannya saja masih dalam kondisi berurai air mata.
Ku dapati air mata Tia mengalir kian deras. Dengan panik ia mengambil kertas di tangan suster dan menulis “Kenapa denganku, Kak? Aku tak bisa mendengar suaramu, juga suaraku?”tulisnya
Aku mengatup bibirku. Beberapa detik aku tak bisa bernapas.
Dia mengguncang tubuhku. Menuntut jawaban. Di matanya ia menuntut kejujuran. Tapi di saat bersamaan kutemukan ketakutan.
“Tia…” lirihku disela tangisku, aku menggeleng. Tak sanggup.
Aku menutup wajahku. Air mataku tak bisa kuhentikan sama sekali. Jelas ini membuatnya berpikir dia mengalami hal yang buruk kan?
Dokter menepuk pundakku pelan. Memberiku sedikit kekuatan. “Kau harus mengatakannya,” gumam dokter itu.
Di sela sesegukanku aku mendongak. Adikku menuntut jawaban dariku dengan matanya yang telah merah.
Aku menghela napas. “Hari itu kau kecelakaan…” mulaiku. Dia membacanya. Dia lekas menulis sesuatu lagi. Dengan tergesa. Kemudian menyerahkannya padaku.
“Apa aku kehilangan pendengaranku, Kak?”
Aku seka air mata yang gugur ke wajahnya sambil mengangguk lemah. Tatapannya penuh luka kali ini.
Kuambil pen yang masih di tangannya.
“Hari itu,” tulisku di kertas yang diserahkannya, “usai pulang dari butik, Kau mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Kau divonis,” satu butir air mata jatuh ke kertas itu. Haruskah kukatakan yang sebenarnya, atau membohonginya?
Aku menghela napas panjang. Mencari kekuatan. “Dokter memvonismu tidak bisa mendengar dan kehilangan suaramu selamanya.” Sambungku. “Aku tahu itu menyakitkan sekali.”
Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Kutatap dia. Segera dia mengambil kertas itu.
Ia membacanya. Matanya menatapku tak percaya. Matanya seolah bciara Katakan-ini-bohong-kak.
“Kuatkan dirimu, Tia…” bisikku. Dan kutahu itu tak berhasil. Dia tak bisa mendengarku. Dan yang dilakukannya adalah menangis hebat. Bahunya berguncang. Ia meraung-raung, tanpa suara.
Aku menatapnya dan ikut berurai air mata. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Dokter memberikan suntik penenang. Beberapa detik kemudian Tia tertidur.
Aku mengusap wajahku yang kucel. Menghapus air mata dan berharap ia tak jatuh lagi. Tapi sekali lagi aku gagal.
Kutatap Tia. Kenapa? Kenapa harus dia Tuhan? Kenapa kau ambil pendengaran dan suaranya saat hari terbahagia dalam hidupnya sudah ada di depan matanya? Kenapa kau mempermainkan hatinya? Hati kami!!!
***
Tia tampak lebih ceria akhir-akhir ini setelah dia menjalin kasih dengan seorang laki-laki bernama Angga, seniornya di kampus. katanya dia sudah punya usaha, meski kecil. Dan sebentar lagi lulus.
Aku pernah bertemu dengan Angga ketika Tia mengajakknya ke rumah. Seorang laki-laki yang sopan. Terlihat sekali dia begitu penyanyang. Dan aku merestui hubungan mereka.
--
Tia mondar-mandir di dapur saat aku sedang memasak untuk makan malam kami. Wajahnya tampak tegang. Padahal sore tadi masih berbinar bahagia. Aku tak bertanya karena tahu pasti Anggalah yang membuat sebahagia itu, seperti biasanya.
“Ada apa?” tanyaku akhirnya.
“…Eh?” dia berhenti. Menatapku dengan tatapan gelisah.
“Ada yang ingin kau katakan?”
Dia diam. Seolah menimbang-nimbang mengatakannya atau tidak. Aku menunggu sembari meneruskan masakanku.
“Kakak…”
“Hm..?”
“Janji tidak akan marah ya!?”
“Tergantung separah apa masalah itu dari sudut pandangku.” ^^
“Ih, Kakak~ ” ia merengek manja.
“Baiklah.” Aku menoleh kearahnya sambil menuangkan masakanku ke priring. “Aku tak akan marah,” kataku sembari menaruh piring itu di meja. Aku mariknya duduk di kursi makan. “Sekarang katakan.”
“Umm…”
“Hm?”
“Itu…”
“Apa~?”
“Tadi…,Angga melamarku,” lirihnya.
“Benarkah? Whaaa~” XD
Dia menagngguk. “Dia mengajakku menikah….”
“Selamat yaaa….” XDD
“Eh? Kakak tidak marah?”
“Ini kan kabar baik? Kenapa harus marah?”
Dia tersenyum malu. Aku mengelus kepalanya lembut. “Kalau dia memang serius, dia harus melamarmu padaku secara resmi lho…”
“Kakak tidak keberatan?”
Aku mengangguk. “Hm~mm…”
“Terima kasih kakakku sayang… AKu janji nanti kucarikan laki-laki yang baik yang cocok dengan kakak deh.”
Aku tersenyum. “Ada-ada saja.”
--
Angga datang ke rumah kami bersama keluarganya. Secara resmi mereka melamar Tia.
Kami menentukan hari pernikahannya. Setelah sepakat kami membicarakan detail pestanya.
Kami juga berkunjung ke makam orang tua untuk meminta restu.
Segalanya berjalan dengan lancar. Semuanya telah siap, tinggal menuju butik yang di tentukan pihak keluarga Angga untuk mengukur baju. Pihak laki-laki sudah menunggu di sana. Aku tak bisa ikut pergi karena tiba-tiba rapat penting tak bisa ditinggalkan.
Angga sebenarnya ingin menjemput, tapi Tia melarangnya karena jarak dari rumah ke butik itu cukup jauh. Dia memilih naik taksi.
Dia pamit padaku lewat telpon.
“Tumben…” ejekku.
“Siapa tahu kakak merindukan suaraku?” candanya.
“Tidak akan!” sangkalku, bercanda.
Dia tertawa.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaa……….tut-tut-tut….”
Deg!
Jantungku serasa berhenti berdetak. Apa yang terjadi. Kenapa dia berteriak?
“Tia?!!” panggilku cemas. Tak ada jawaban.
“Hallo?? Hallo? Tia?? TIA??!”
--
Rapat baru mau dimulai ketika sebuah telpon masuk. Nomor tak dikenal. Aku menjawab. Suara wanita. Dan detik itu juga aku merasakan diriku tak berpijak di bumi.
Aku minta ijin dan segera menuju rumah sakit. Menunggu di depan ruang UGD, tempat adikku berjuang untuk hidupnya. Aku meminta agar Tuhan tak mengambilnya.
Aku menelpon Angga. Mengabarkan bahwa Tia kecelakaan.
Mereka ada di sampingku 20 menit kemudian. Kami sama-sama meminta keselamatan Tia.
--
Dokter keluar, kemdian mengajakku ke ruangannya. Mengatakan dia selamat tapi juga mengatakan vonis yang menyakitkan itu. Aku yang tak mengalami saja sehancur ini apalagi dia?
Angga menghampiriku ketika aku keluar.
“Apa kata dokter? Apa lukanya parah?”
Aku diam bersamaan tetesan air mata yang jatuh ke pipiku.
“Kak?!” ia menatapku cemas.
“Dokter bilang…” aku mengatakannya sambil tergugu, “Tia kehilangan pendengaran dan suaranya selamanya.”
Angga mundur ke belakang beberapa langkah. Syok.
***
Aku meminta Tuhan agar tak mengambilnya. Tapi sepertinya doaku kurang. Tuhan memang tak menngambilnya dariku namun sebagai gantinya aku kehilangan suara dan pendengarannya. Dia tak lagi bisa mendengar suara-suara indah idolanya.
Dia bilang aku merindukan suaranya. Dan itu sepertinya benar-benar terjadi.
Angga masih belum kembali ketika dia terbangun lagi. Digenggamnya tanganku dengan erat. Aku menatapnya. Dia mengatakan sesuatu yang lagi-lagi tak bisa kuterka.
Air mataku jatuh lagi saat dia menatap sekitar dengan putus asa.
Dia berusaha menjangkau sesuatu. Buku!
Aku segera mengambilnya. Dia menulis sesuatu di sana.
“Apa Angga sudah tahu keadaanku?” tulisnya.
Aku mengangguk. “Dia tadi mengantar orang tuanya pulang. Mungkin sebentar lagi kembali.”
Usai aku menulis itu, sosok Angga datang. Tia menangis seketika. Dia mengatakan sesuatu lagi.
Angga merengkuhnya ke pelukannya. Mengusap kepala Tia dengan lembut. Membiarkan Tia menangis sepuasnya di bahunya.
Perlahan aku keluar.
***
Aku menyampaikan permintaan Tia: Membatalkan pernikahan. Kedua orang tua Angga dan Angganya sendiri tampak terkejut.
“Kami tidak bermaksud mempermainkan kalian. Kami… kami merasa tidak enak, dengan kondisi Tia seperti ini. Saya… terlebih Tia tak ingin Angga terpaksa menikahinya hanya karena kesepakatan sudah terucap sebelum kecelakaan ini terjadi. Saya pikir-“
“Aku tetap menikahinya, Kak. Bagaimanapun dia, karena dia Tia yang kucintai, aku tetap akan menikahinya.”potong Angga.
Penglihatanku buram. Aku tahu aku kembali menangis kali ini. “Jangan memaksakan dirimu, Ngga.” Lirihku.
“Tidak. Ayah, ibu dan aku baru saja mau berunding dengan kakak tentang jadwal ulang pernikahan kami.”
Aku mengatup bibirku. Cuma satu kata yang bisa kukeluarkan, “terima kasih…” aku membungkuk.
“Tak perlu seformal itu,” ibunya Angga memelukku. “Sudah kubilang kita sudah jadi keluarga kan?”
“Terima kasih….”
Diusapnya air mataku dengan lembut.
***
Hyun Ae menangis terharu ketika Jae Joong dan kelurganya datang dan mengatur ulang jadwal pernikahan.
“Aku mencintaimu tanpa alasan. Meski kau tak seperti dulu, kau tetaplah Tia, orang yang ku cinta.” Begitulah sms dari Angga ketika dia dan keluarganya sudah pulang.
Aku memeluk Tia. “Kau dapat pria yang baik, Tia. Benar-benar beruntung.” Batinku.
***
Pernihakan sudah dekat. Semuanya sudah diatur dengan baik. Aku mengantar Tia ke butik. Dia tampak cantik dengan gaun pernikahan yang senada dengan jasnya Angga. Mereka terlihat serasi sekali.
Kulihat Angga memujinya dengan menggunakan bahasa isyarat. Benar, aku, Tia, dan Angga, bersama-sama mempelajari bahasa isyarat. Agar aku dan Angga tahu apa yang ingin Tia sampaikan, dan agar Tia juga tahu apa yang kami ingin sampaikan.
“Kau juga tampan,” balas Tia dengan isyarat tubuh pula.
Di sudut ini aku tersenyum. Kebahagiaan adikku adalah kebahagiaanku juga.
***
Sudah dua jam berlalu Angga belum datang juga. Katanya dua jam lalu, jalanan macet total.
Orang tua Angga yang lebih dulu datang tampak cemas. Tia lebih cemas lagi. Sesekali dia melihat HPnya. Berharap Angga mengiriminya pesan.
Gemas, dia memencet tombol di HPnya. Menelpon Angga, meski tahu dia tak akan mendengar jika di seberang sana menjawab. Dia terus melihat layar HPnya. Masih bertuliskan ‘menghubingi Angga’. Tapi tak lama kemudian. ‘Panggilan berakhir. Coba lagi.’
“Kenapa dia tidak mengangkat telponku?” tanya Tia dengan isyarat tubuhnya.
Aku jadi ikut-ikutan cemas.
“Ah, Angga? Di mana kau?” suara ayahnya Angga mengalihkan perhatianku.
Tiba-tiba wajah pria 50 tahunan itu memucat. “Anda bilang… Angga kami… kecelakaan?”
Hyun Ae menatap tajam padaku, meminta penjelasan. Aku menjelaskannya dengan bahasa isyarat.
Belum selesai ayahnya Angga bicara Tia sudah berlari keluar. Tak peduli dengan gaunnya yang akan rusak. Juga dandanannya. Yang ia pedulikan Cuma keselamatan Angga.
Aku mengejarnya di belakang. Kuteriakkan namanya, memintanya berhenti. Tapi dia masih terus berlari. Ah, aku lupa kalau dia tak bisa mendengar.
Aku terus berlari di belakangnya.
Ambulance melewati kami. Tia menoleh sambil berlari. Begitu juga denganku. Apa di dalam sana adalah Angga?
Langkahku melambat ketika melihat bangkai mobil yang hancur. Kulihat Tia sudah terduduk di aspal. Bahunya berguncang. Dia nampak menggenggam sesuatu.
Aku mendekat. Dia nampak menggenggam cincin pernikahan yang di siapkan Angga. Ada bercak darah di cincin itu. Tia menatapku, tergugu. Sembari memberikan isyarat, “Kenapa ini terjadi, Kak?”
Aku langsung duduk di sampingnya dan memeluknya. Dia memukul-mukul tubuhku sambil menangis. Tuhan… kenapa seperti ini?
Hujan seketika turun ke bumi. Membasuh darah yang tadi melumuri sebagian aspal.
Bersusah payah aku membawanya ke rumah sakit.
***
Mata ayah dan ibunya Angga tampak merah. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.
Mereka mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang gawat darurat. Satu sosok berselimut kain putih menusuk hati kami. Perlahan, Tia mendekat. Sosok itu kian jelas. Angga.
Tia langsung memeluk sosok itu. Bahunya berguncang semakin hebat. Dia seperti berteriak “Jangan eprgi!” namun tak terdengar. Air matanya deras mengalir.
Di sudut ini, aku hanya bisa menangis. kembali tak ada yang bisa kulakukan. Kenapa harus begini Tuhan?
*****
Ayah dan ibunya Angga sering mengunjungi kami. Berbagi kenangan tentang Angga. Juga berusaha membuat Tia ceria kembali. Namun sepertinya kami tak berhasil. Sekarang Tia lebih sering menatap langit. Tak pernah lagi kulihat dia tersenyum. Bahasa isyarat pun sangat jarang ia gunakan untuk bicara denganku. Seolah memilih diam dan mengunci diri. Diajak bicarapun dia hanya mengangguk dan menggeleng.
Entah sampai kapan dia harus hidup di dunianya yang sunyi.
Tuhan… kenapa begini?
Kemarin kutemukan di HP Hyun Ae
To: My Prince ‘Angga’
“Ngga, apa kabar?”
Detail: Gagal mengirim.
-end-
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Author sempet nangis waktu nulis cerita ini *lebay? tapi ini kenyataan*
Give ur commet!!! Biar semangat lagi nulis cerita yang lain, hehehe ^^
No comments:
Post a Comment