Hohohoho…. Saya kembali lagi dengan cerita baru nih… ^^
Moga-moga kalian suka ya XD.
Happy reading XDXD
------------------------------------------------------------------------------------
Title: Akhir dari Cinta
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: imajinasi saya ketika liburan kemarin ^^
AKHIR DARI CINTA
Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.
Kulirik Jony. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku menoleh ke sumber suara.
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Hana.
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Hana menerimanya dengan memandang bingung padaku.
“Thanks…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…
Puk!
Seseorang menepuk pundakku keras.
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” kata Jony santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^
***
Aku baru keluar kelas saat sosok Hana tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.
“Benar-benar terima kasih, Edo,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.
“Ah? Y-ya. Sama-sama…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.
“Mm… Anu…”
Hana menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ya?”
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Jony untuk mengikutiku.
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”
“Mm… Ya. Tentu.” Dia tersenyum lembut padaku.
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…
Di depan gerbang tampak kakak kelas Heru, Nata, Siska dan Kevin menunggu. Mereka adalah sahabat Hana sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).
“Kakak!” Kevin memekik girang dan segera menarik Hana menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hana.
Seolah tak peduli dengan aku dan Jony, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.
Siska dan Nata duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heru memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Kevin… Dia menyeret Hana ke belakang. Duduk di bangku terakhir.
Aku mengikuti mereka. Jony sudah dapat tempat duduk di depan tadi.
“Hei!” teriak Kevin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hana dia sudah sekesal itu. Apa haknya??
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.
“Tsk!” dia berdecak kesal.
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hana.
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hana tampak antusias.
“Kak Hana?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru lho. Coba dengar! Lagunya asyik!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hana.
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hana miliknya?! Tidak kan?
“A?? Kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.
A-apa?? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.
Bus berjalan.
Hana tampak asyik sekali bicara dengan Kevin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.
Dengan santai Kevin bersandar di sandaran kursi lalu….
APA?!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hana-ku????
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hana mencubit pipi Kevin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hana?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hana begitu santai menanggapi kelakuannya?
Lihat!! Sekarang si Kevin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!
Kutatap Hana yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT KEVIN??
Oh, tidak! Jangan-jangan…
***
Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Jony satu payung berdua. Jony menerima tawaran itu dengan bahagia.
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hana berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.
Segera aku menghampirinya.
“Hai…” sapaku.
“Ah, hai, Do!” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.
“Kak Heru sedang ada kelas tambahan. Nata dan Siska sedang kencan.”
“Hujan-hujan begini?” potongku.
Hana tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. “Lalu Kevin?”
“Kevin?” ulangnya. Dia menghela napas berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”
Kuteliti wajah lesu Hana. Apa gara-gara anak itu? “Temannya itu perempuan ya?” tebakku.
“Hm-mm.” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.
“E-Edo?!” Ia terkejut dengan perlakuanku.
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”
“EH? Tidak perlu. Aku-,”
“Ayolah!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dengan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar dia tidak basah.
Perlahan Hana melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…
***
Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi istimewa.
Kulihat Hana tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hana menaruh telunjuknya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.
“Yang mana?” desakku tak sabar.
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.
“Yang ini, Mbak.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.
Aku bilang pada Hana sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.
Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia memandangku penuh tanya.
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.
“Orang special itu adalah kau, Hana…”
“Eh?”
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.”
“Edo, aku-.”
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Na.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.
“Edo, ma-.”
“Kakak!” panggil seseorang di belakangnya.
Hana pasti mau bilang, ‘Maaf, aku tidak bisa’ tadi. Untung saja seseorang memanggilnya.
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, Kakak!” lanjut orang yang memanggil Hana tadi dengan manja.
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.
“Maafkan kakak, Vin…” kata Hana sambil mencubit pipi Kevin yang merengut dengan gemas.
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.
“Ah? Ya. Bye…” sahut Hana canggung.
“Pergi dan jangan pernah mendekati kakakku lagi!” teriaknya padaku.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin.
“…”
Aish…
***
Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.
Beberapa menit lalu Hana datang ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia datang untuk mengembalikan kalung yang kuberi.
“Bukannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”
“Maaf…” lirihnya.
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Kevin?”
Hana tampak terkejut.
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.
“Benar-benar maaf, Do.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”
“Maaf…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.
“Apa jika si Kevin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”
“Maafkan aku…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.
***
Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Kevin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hana kemarin.
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin.
“Kenapa? Dia kan temanku?”
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku tetap tidak suka!”
Hana tertawa kecil melihat wajah kesal Kevin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?
Kevin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.
“Kenapa hayo?” tanya Hyun Ae lagi.
“Aku… aku mau Kak Hana hanya memandangku!” jujurnya pelan.
Deg! Apa ini pernyataan cinta?
“Apa… maksudmu?” Hana tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Aku… suka Kakak.” Ucap Kevin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin Kakak hanya untukku.”
Hana menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Vin! Ini tidak lucu.”
“Akju sungguh-sungguh, Kak. Aku mencintai kaka! Sejak lama!” Kevin menatap Hana tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai adik! Aku juga laki-laki!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai laki-laki!”
Hana terdiam.
Mungkin karena malu, Kevin melangkah pergi dengan canggung.
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hana lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai adik lagi, Vin.”
Seketika Kevin berhenti.
“Aku… juga mencintaimu, Vin…” kata Hana dengan pelan.
Senyum kekanak-kanakan Kevin merekah. “Sungguh?”
“Y-Ya..” jawab Hana gugup.
Kevin langsung memeluk Hana sambil sesekali melompat girang. “Ye~ Kak Hana jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil ‘sayang’ ya?”
Wajah Hana memerah.
“Sayang?” panggil Kevin lembut sambil menggandeng tangan Hana mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.
Aish…
***
Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!
--------------------------
Bagaimana? Beri komentar dunk… XDXD
No comments:
Post a Comment