Chapter 4
Where is Rina??
-Leo-
Perlahan aku membuka mataku. Buram. Samar kudengar bunyi alat penunjuk detak jantung.
Aku mengerjapkan mataku. Beberapa detik kemudian barulah terlihat dengan jelas di mana aku sekarang. Aku melihat sekeliling. Tak kudapati Rina di sisiku.
Ah, dia juga terluka, batinku.
Waktu seakan berhenti ketika aku teringat. Ketika aku setengah sadar di jalanan hari itu, beberapa saat setelah tembakan mengenai kami. Satu sosok berjalan mendekat. Kemudian mengangkat tubuh Rina. Menjauh dariku.
Siapa laki-laki itu??
Pintu terbuka. Nata, sahabatku, tampak terkejut melihat aku yang sudah siuman.
”Sebentar, aku panggilkan dokter.” katanya lalu pergi. Tapi aku menahan langkahnya dengan menanyakan Rina.
”Apakah... kau tahu... di mana... Rina... sekarang..?” tanyaku lirih.
Ia berbalik. Menatapku sesaat. ”Kami sedang menyelidikinya, Leo. Tenanglah.”
”Apa kau tahu, Rina... dia.. seorang laki-laki membawanya saat kami terluka.”
Nata mengangguk. ”Tenanglah... Kalau ada kabar, aku langsung memberitahumu. Aku janji.”
Aku menatap punggungnya yang menghilang. Beberapa menit kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaanku. Dia bilang aku perlu istirahat di rumah sakit sampai aku benar-benar pulih.
”Berapa lama, Dok?” tanya Nata.
”Mungkin dua minggu.”
Setelah dokter pergi, Nata menatapku. ”Kesembuhanmu juga penting. Aku pergi dulu.”
Aku mengangguk.
Dua minggu lebih kesehatanku baru pulih. Aku keluar dari rumah sakit. Namun keberadaan Rina baru ku temukan sehari kemudian. Dia diduga masih bersama laki-laki yang kini ku tahu bernama Hendra. Laki-laki yang di duga menembakku.
Hendra memintaku bersabar menunggu. Membiarkan polisi yang menyelamatkannya. Tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Bagaimana kalau terjadi hal-hal buruk pada Rina.
Nata tak mau memberi tahu alamat Hendra itu padaku. Polisi belum tahu pasti, katanya. Mungkin benar, mungkin juga bohong.
Dengan kesal aku memacu mobilku. Menyusuri ruas jalan kota Jakarta. Berharap, bisa menemukan sosok Hendra di antara orang-orang yang ku lihat di jalan-jalan.
Nyaris putus asa. Namun angin malam membawa keberuntungan padaku. Sekitar tujuh meter dariku kulihat Hendra menatap toko perhiasan. Memecahkan kaca jendela toko tersebut. Ia tampak mengambil sesuatu. Lalu melangkah pergi.
Aku mengikutinya di balik kemudiku.
Dia masuk ke sebuah rumah. Tak lama setelah dia masuk, lampu-lampu di rumah itu menyala. Apakah di sini tempat tinggalnya? Apakah Rina benar-benar ada di sana? Aku harap begitu. Jika tidak, aku tak tahu harus ke mana lagi mencarinya.
~*~
-Angga-
Aku mencari rumah sakit yang merawat Leo. Kupikir dia di sana di rawat bersama Rina. Pistol yang ku persiapkan jadi tidak berguna ketika tahu di rumah sakit itu hanya ada dia. Di mana Rina? Apakah dia mati? Bukankah tembakanku hanya mengenai lengannya?
Aku tak sengaja mencuri dengar perkataan Leo dan seseorang. Orang itu bilang sedang menyelidikinya.
Ku dengar suara lagi. Sepertinya suara Leo.
”Apa kau tahu, Rina... dia.. seorang laki-laki membawanya saat kami terluka.”
Seorang laki-laki? Membawa Rina? Siapa? Ah, apakah dia ada hubungan dengan Rina?
Ku dengar sebuah jawaban.
”Tenanglah... Kalau ada kabar, aku langsung memberitahumu. Aku janji.”
Aku diam. Meninggalkan tempat itu sesaat kemudian.
Aku pastikan akan mengikuti laki-laki itu dan menemukan Rina.
Melewati jalan di atas sungai S, dadaku berdesir. Teringat kembali tentang kenanganku bersama Rina. Kami yang hanya diam sambil menatap air sungai yang tenang.
Ketika malam merambat ia akan berbisik mengatakan, ”Angga, aku harap aku bisa seperti bintang yang menyinari jalanmu.”
Tidakkah ia tahu kalau kata itu mengakar hingga ke palung hatiku?
Suatu senja yang sangat indah, di tepi sungai yang sangat disukainya ia bertanya, ”Angga... apa arti Rina untukmu?”
SEGALANYA! Tidakkah ia dengar jawaban itu? Ia segalanya buatku. Lebih dari sekedar harapan dan cinta. Bersamanya aku hidup. Aku rela jadi apapun asal bisa bersamanya. Tapi kenapa? Kenapa ia membuangku????
RINAAA...!!!!! KENAPAAA???!!!!!, teriak hatiku.
Aku mengikuti jejak Leo. Ia berputar-putar tanpa tujuan. Jangan-jangan ia tak tahu di mana Rina.
Aku memutuskan berhenti mengikutinya, tapi sikapnya justru menghentikan pikiranku. Aku menunggunya. Dan sepertinya dia menunggu laki-laki yang sedang berdiri di sebuah toko perhiasan.
Ia mengikuti ke mana laki-laki itu pergi. Begitu juga denganku.
Laki-laki itu masuk ke sebuah rumah. Lampu-lampu di dalam rumah tersebut terlihat menyala.
Leo menunggu di balik kemudinya.
Ku alihkan pandanganku ke rumah laki-laki tadi. Apakah Rina ada di sana ?
***
sebentar lg tamat...
No comments:
Post a Comment