Title: Hatiku Mengenalmu
Genre: romance
Author: Imah Hyun Ae
Disclaimer: terinspirasi ketika ingat sebuah komik seru,hehe
"Hatiku Mengenalmu"
"Siapa?" Yano bertanya usai aku menutup telpon.
"Bukan siapa-siapa," jawabku.
"Rina, kan?"
Aku mendelik ke arahnya. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sudah kebiasaanmu kalau dia yang menelpon kau jawab 'bukan siapa-siapa'." Yano tertawa.
Aku tersenyum tipis. Rina kekasihku. Barusan dia menelpon menanyakan apa aku bisa merayakan hari jadi kami. Padahal aku benar-benar lupa akan hari itu. Mungkin karena bukan hari yang mengesankan bagiku. Ah, seandainya dia orang yang ku sukai, pasti aku yang lebih agresif mengajaknya ke manapun untuk merayakan hari ini.
Bisa dibilang ini kesalahanku. juga kesalahan Anton.
***
Aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik sekali. Dia memakai kontak lens pada matanya. Rambutnya yang bergelombang tergerai. Sambil tersenyum dia membaca buku di tangannya.
Dia bertopang dagu sekarang. Dengan bias matahari dari jendela di belakangnya semakin membuat aura cantiknya keluar. Jantungku...memainkan simponi yang indah, dan aku menikmatinya.
Dia mengalihkan pandangannya ke jam di lengannya. Kemudian dia menutup bukunya dan berjalan ke meja penjaga perpustakaan.
Ekor mataku masih mengikutinya hingga dia menghilang di balik dinding.
Aku mulai mencari sosoknya sejak hari itu. berharap bisa bertemu lagi, dan dapat meyakinkan hatiku bahwa aku memang jatuh cinta padanya.
Dia kembali ke perpustakaan hari ini di jam yang sama seperti kemarin. Kali ini aku memperdekat jarak dudukku dengannya. Dan ketika dia ke meja penjaga perpustakaan, aku mengikutinya. Pura-pura meminjam buku di perpustakaan ini. Baru ku tahu dia bernama Rina. Setahun di bawahku dan dan di jurusan ekonomi.
Lama-lama memperhatikannya, rasa suka ini semakin besar. Kepribadiannya yang tenang membuatku nyaman memupuk rasa ini.
Diam-diam, di sudut yang tersembunyi, sambil berpura-pura membaca buku, aku memperhatikannya.
***
Aku... Akhir-akhir ini aku semakin yakin keputusan menyatakan cinta padanya adalah kesalahan. Ah, andai saja waktu itu teman-teman tak mendukungku...
***
Perasaan itu kian menggila. Padahal dengan jelas aku tahu waktu itu aku lebih baik tak punya kekasih, jika itu menghambat karirku, juga mengacaukan kehidupannya (jika fans tak terima).
Kutatap mata teman-temanku yang baru saja mengatakan 'tidak apa-apa, kau sudah menemukan bahagiamu sekarang,' dengan senyum bahagia yang tulus.
"Terima kasih," bisikku.
"Hey,hari ini saja kau menyatakannya! Aku kenal teman dekatnya. Aku bisa minta bantuan dia kalau kau mau?" kata Andre.
"Benarkah?"
"Hu-umm..." dia mengangguk.
"Tapi...aku tak ada persiapan." Kataku panik.
Mereka tersenyum geli.
"Lalu kapan? Lebih cepat lebih baik."
Aku bergeming. Tak lama kemudian mengangguk.
Lisa bilang Sae Rina akan menungguku di aula pentas. Dengan gugup aku ke sana. Wajahku tertunduk. Tegang.
Ku buka pintu,lalu masuk. "Maaf mengganggu kesibukanmu." kataku,tapi tetap tak sanggup menatapnya.
"Tidak apa-apa..." jawabnya lembut. Itu membuat kegugupanku semakin menjadi.
"Um.."
"Ya?"
"Aku mencintaimu, Rin." kataku akhirnya.
"... eh?"
"Aku...saat pertama kali bertemu di perpustakaan sudah menyukaimu."
"Eh?"
“Perasaan ini terus tumbuh dan menuntutku untuk menyatakannya padamu. Aku tak tahu harus bagaimana dulu, tapi sungguh, aku mencintaimu, Rin." Aku membungkuk. Ah, pasti dia pikir cara menyatakan cinta yang aneh.
"Aku juga, Yo," lirihnya.
"...eh? Sungguh?" Aku mendongak. Bertatap mata langsung dengannya.
Ia tersenyum. Oh,tidak. Ini kesalahan. Bukan gadis berkaca mata dengan rambut dikuncir kuda yang kumaksud. "Te..terima kasih.." lirihku terbata. Jangan-jangan salah orang? Apa yang harus kulakukan?
"Boleh kupanggil, Kakak?"
"Y...ya" jawabku. keringat membanjiri wajahku. Bagaimana ini?
"Kakak, baik-baik saja?" dia mendekat. "Wajah kakak terlihat pucat."
"Ah? Ya.." aku tersenyum menenangkan.
***
Waktu itu aku segera pamit darinya. Kutanya Yano, dia bilang gadis tadilah bernama Rina Aprilia. Dia satu-satunya mahasiswi ekonomi yang bernama itu.
Dengan kecewa aku menjalani hubungan ini. Aku tak tega memutusnya, yang ternyata sangat pengertian padaku.
Sejak hari jadianku, periku yang begitu kucintai itu menghilang. Aku tak pernah menemukan sosoknya lagi diperpustakaan. Malah Rina yang kutemukan. Terkadang aku bingung dengan diriku. Berkata dengan yakin bahwa aku tak ada hati dengan ‘Rina’ yang ini. Tapi, di saat yang sama aku ingin bertemu dengannya. Berharap dia bisa hapus rinduku untuk gadis di perpustakaan itu.
Kulihat jam. Sudah 30 menit berlalu dari jam perjanjianku dengannya. Apa dia masih menunggu?
Dengan lamban aku melangkah. Perlahan kulajukan mobil ke restoran itu.
Aku seperti tak berpijak di bumi. Bergeming di depan pelayan yang menyambut kedatangan pengunjung.
Aku masih takjub dengan kehadiran periku ketika dia melambai sekaligus tersenyum padaku.
Kutoleh kebelakang siapa tahu ada orang lain di belakangku. Tidak ada.
O,ya, mana ‘Rina’ yang jadi kekasihku itu?
Kulihat periku lagi, bibirnya seperti berkata "sini".
Aku mendekat ragu-ragu.
Dia terlihat sumringah.
"Aku tahu kakak pasti datang." ujernya.
"...Eh?" Apa maksudnya?
"Kenapa kakak masih berdiri? Kakak..ada pekerjaan?"
"Ah? Ti… Tidak…"
"Kakak sakit?" dia berdiri dan menyentuhkan tangannya ke keningku.
Jantungku semakin cepat berdetak. Kuperhatikan lekat wajahnya. Dia membimbingku duduk. Tak sengaja kulihat cincinnya. Cincin couple yang ‘Rina’ satunya beli bulan lalu.
Argh…,aku selalu lupa membeli kado untuk hari ini!
Hey! Tunggu! Jangan-jangan... "Kau… Rina?"
"Ya…" katanya setengah malu-malu. "Kenapa, Kak? Apa dandananku terlalu jelek dan aneh?" dia memperhatikan dirinya.
"Sungguh cantik." bisikku, "Jadi ini kau? Rina-ku?"
"Ya."
Senyumku mengembang lebar. "Kau beda sekali dua bulan ini. Kupikir..." aku salah orang, sambungku dalam hati.
"Kontak lens ku rusak, jadinya pakai kaca mata. Karena kakak bilang cintaku saat aku biasa saja, kupikir kakak lebih suka aku yang seperti itu. Hehe..."
Aku tersenyum. Kurasa, bagaimanapun kau, hatiku tetap mengenalimu :3
~Tamat~
comment dunk..
No comments:
Post a Comment