Monday, August 30, 2010

cerpen: cintamu

Ini kutulis sambil mendengarkan lagu ‘The Name I love’ yang di nyanyikan Onew. Hmm… kayaknya cocok untuk soundtrack FF ini. langsung aja kali ya. Selamat membaca.
Kuharap kalian suka ^^
------------------------------------------------------

Title: CIntamu
Disclaimer: Ini ide saya. *Mohon, komentarnya* ^^
Music: The Name I Love by Onew SHINee


CINTAMU
Kupandangi langit kelabu di atas sana. Semburat wajahmu yang putih dan lembut terukir di sana. Suaramu yang berat kembali terngiang di telingaku.
‘Rina, aku mencintaimu…’
Bibirku mengukir senyum. Hal yang selalu terjadi ketika aku mengenangmu. Apa di atas sana kau juga tengah mengenangku, Kak?
Aku mengulurkan tanganku ke angkasa. Seolah-olah tengah mengelus wajahmu yang putih itu.
“Kakak~!!” teriakan seseorang membuatku menoleh. Toni, laki-laki imut dan cantik itu melambai melambai padaku. Hatiku perlahan merasa hangat.
“Cepat!” teriak seorang laki-laki cerewet di sebelah Toni. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Ah, sejak tadi dia dan yang lain memang mengajak masuk ke rumah.
“Di sini terlalu dingin!” teriak anak laki-laki lain yang seumuran denganku, Jono. Laki-laki ini begitu di gilai wanita.
Senyumku mengembang. “Ya~,” sahutku sembari tertawa kecil dengan perhatian mereka yang berlebihan padaku. Sesaat aku kembali memalingkan wajahku ke langit. Ke tempat di mana kau berada sekarang.
‘Sampai jumpa lagi,Kak,’ batinku.
Puk! Jaket hangat melingkari bahuku. Aku menoleh. Mata lembut itu menatapku.
“Jangan sampai kau sakit,” ujernya lalu menggenggam tanganku hangat. Sama dengan kehangatakan yang dulu pernah kau bagi denganku. ‘Kakak, apa di atas sana kau merasa kedinginan jika salju turun?’
Kami masuk ke sebuah rumah. Rumah rahasia kita yang dulu. Yang sempat kutinggalkan selama dua tahun dan ternyata dirawat baik oleh adik-adik barumu. Aku meninggalkannya karena tak terima dengan kenyataan kau pergi dari dunia ini sebelum hatiku benar-benar siap kehilanganmu.
Dua tahu lalu kau jatuh dari tangga ketika hendak menolongku. Kepalamu terbentur dan tak sadarkan diri. Beberapa hari berlalu, dan kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku.
“Minumlah.” Kevin memberikan secangkir teh hijau hangat padaku. Teh yang dulu sering kau buatkan untukku.
“Thanks, Vin,” ucapku sembari menyeruput teh itu dengan senyuman tersungging di bibirku. Aku melirik Kevin. Kulihat dia tersenyum lembut padaku. Senyum yang sama seperti senyumanmu. Aku melihatmu di dirinya, Kak…
Denting piano terdengar. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Jono tengah memainkannya. Ia memainkan lagu yang sering kau mainkan. Gaya saat memainkan piano sama persis dengan gayamu.
“Kau salah, Bang!” tegur Toni sambil tertawa. “Seharusnya begini.” Ia memainkan nada yang benar. Tawanya kembali terdengar ketika Jono salah lagi. Kedua matanya menyipit ketika giginya yang putih terlihat. Sama dengan cara tertawamu dulu.
Dadaku kembali menghangat.
Aku mencari sudut lain. Satu sosok sejak tadi tak terlihat.
Perlahan aku berjalan ke depan. Dia ada di teras. Menatap butiran hujan yang turun.
“Ini kesekian kalinya aku bisa melihat hujan,” ujer Hendra penuh kekaguman. Kutatap dua matanya. Sorot mata yang sama persis denganmu. Kau juga pecinta hujan. Hm… Apakah… aku masih terukir di bola matamu, Kak?
Sudah dua tahun lebih setelah kepergianmu. Sedih itu masih ada meski terkadang aku melihat sosokmu hidup lagi di diri mereka. Kevin yang dapat donor ginjalmu. Hendra yang dapat donor matamu. Jono yang dapat donor hatimu. Dan Toni yang dapat donor jantungmu. Orang tuamu bersedia mendonorkannya pada mereka. Dan sejak saat itu, mereka di angkat menjadi keluarga kalian. Adik angkatmu.
Mereka yang tanpa sadar telah berjalan menuju rumah kecil ini. Lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Apa kau yang menuntunnya, Kak? Apa kau tahu kalau aku akan pulang?
Aku menatap angkasa yang menjatuhkan butiran bening itu. Seperti melihatmu yang gembira memercikkan air hujan ini untukku. Terima kasih, Kak, atas semua cintamu. Terima kasih… karena kau menyalurkan cinta dan kasih sayangmu di diri mereka untukku. Benar-benar terima kasih, Kak Arga.
-end-
Hfff…. Rasanya aku seperti benar-benar mengenang orang yang sangat kucintai, hehehe.
Di tunggu komentarnya ^^

No comments:

Post a Comment