Friday, August 6, 2010

cerpen: Apakah ini mimpi?

Update: 20 Februari 2010

Author: Imah Hyun Ae

Theme Song: Picture Of You by DBSK

“Is it Dream?”

By Imah Hyun Ae



-Hana-

Terik matahari memancar di atas langit. Keringat membanjiri tubuh. Aku berjalan ceria sambil membawa majalah yang baru kubeli. Majalah yang langsung menjadi kesayanganku. Tak boleh lecet sedikitpun! Tentu saja karena majalah itu berisi berita tentang idola koreaku, Shining Stars.

Kalian tahu, aku sudah menemukan nama korea yang pas untukku tahun lalu. Hyun Ae, artinya harapan dan cinta. Wah… secara resmi kupilih nama itu, hehehe…

Aku terus berjalan dengan bahagia. Tidak mempedulikan sekelilingku. Sebuah mobil, dengan kecepatan penuh memberiku peringatan. Tapi terlambat! Aku sudah tak dapat bergerak.

Ckiiiiiit!!!! Mobil merem sekuat tenaga, tapi….

Bugh!!!!

Kurasakan tubuhku terpental. Darah membanjiri tubuhku. Sakit!

Si pengendara mobil shok untuk sesaat. Tapi detik berikutnya dia langsung tersadar dan dengan gemetar keluar dari mobilnya. Melihat keadaanku.

Dibantu pejalan kaki di sekitar jalan itu, dia membopongku ke mobilnya. Ia kemudian membawaku ke rumah sakit.

~*~

Entah berapa lama aku terpejam, aku tak tahu. Saat mulai sadar aku merasa tubuhku sakit. Dan lemah. Kepala juga terasa begitu berat. Yang kuingat hanyalah sebuah peristiwa yang tak kupercaya. Mobil berwarna silver itu menabrakku, kemudian gelap.

Aku masih mendapati kegelapan di sekitarku. Apakah mataku belum terbuka?

Kudengar beberapa suara asing. Apakah aku sedang bermimpi?

Jika ini mimpi, kenapa begitu sakit?

Aku mencoba membuka mataku. Berat! Mataku terasa berat. Tapi aku ingin melihat di mana aku sekarang!

Kucoba sekali lagi. Seberkas cahaya masuk ke retinaku. Perlahan tetapi pasti penglihatanku semakin jelas.

Ruangan putih dan bau yang tak mengenakkan. Bunyi yang cukup menganggu berasal dari sebelah kiriku. Aku menoleh. Kutemukan alat pendeteksi detak jantung.

Jadi bunyi itu adalah detak jantungku? Batinku.

Kutemukan selang infus mengalirkan cairannya ke tubuhku.

Suara yang tak kukenal datang lagi.

Aku mencoba duduk. Ouch!!! Seperti yang kubilang, tubuhku terasa sangat lemah. Kuurungkan niatku.

Seseorang berpakaian putih, mungkin suster, dengan wajah oriental, mendekatiku. Ia tersenyum. Di belakangnya kulihat sosok wanita setengah baya. Matanya sayu. Terlihat sedih juga lelah. Siapa dia? Apa dia dokter yang merawatku? Pakaiannya bukan pakaian dokter. Hm… mungkin dia yang membawaku kemari? Ah, terserahlah. Nanti juga kutemukan jawabannya.

Suster itu sudah berdiri di sampingku. Memeriksa infus, kemudian tekanan darahku.

“…………………………?” apa yang dia katakan? Aku tak mengerti sama sekali!

Melihatku menatapnya bingung dan panik. Dia berkata lagi. “……………………………?” aku tetap tak mengerti. Yang kutahu bahasanya bukan bahasa indonesia , atau bahasa sehari-hariku. Tapi… ini meragukan! Mustahil!! MUSTAHIL!!!! Mana mungkin yang kudengar bahasa korea ????!!! Pasti gara-gara aku terobsesi dengan negeri gingseng itu otakku jadi kacau.

Aku memejamkan mataku. Mencoba memperoleh kesadaranku.

Sudah berapa lama aku di sini? Jangan-jangan karena terlalu lama tertidur jadi begini.

Aku membuka mataku lagi.

“Gwenchanayo??” suster itu mengatakan satu kata yang bunyinya seperti itu. Aku tahu kata itu artinya ‘tidak apa-apa’. Tapi… hei Hana!!! Sadarlah!!!!

“Suster, aku merasa ada yang salah dengan pendengaranku.” Aku memberitahunya sambil meringis.

“Nde??” suster mengeluarkan kata yang berbunyi seperti itu. Lagi-lagi!!! Tuhan…. Tolong jangan ambil pendengaranku T.T

“….? ……………….?” Aku tak mengerti!!!!! OH MY GOD!!!!!!

“Suster…” aku nyaris terisak, “pendengaranku…. Kenapa aku tak mengerti yang kalian ucapkan?!! Kenapa dengan telingaku suster???”

Suster terlihat panik dan kebingungan. Membuat kepanikanku semakin meningkat.

Wanita setengah baya yang sejak tadi memperhatikanku dan suster terlihat cemas. Dia mendekatiku. Mengelus kepalaku dengan lembut smabil mengatakan kata-kata yang tak kupahami lagi. Dengan berat hati harus kukatakan bahwa aku mendengar bahasa korealah yang meluncur dari bibirnya. TIDAAAAAaaaaaakkkkkkk!!!!!!!!!

Panik, aku menangis. Suster tersebut segera memanggil dokter.

Dokter perempuan di hadapanku berusaha setenang mungkin terhadapku. Tapi tetap saja itu tak berhasil. Aku tetap mendengar bahasa asing yang sama sekali tidak aku kuasai!

“AAAaaaaaaa………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aku histeris sambil menutup kedua telingaku.

Sebuah suntikan hinggap di tanganku. Beberapa detik kemudian aku lemas. Tertidur.

~*~

Sepertinya hari sudah menjelang senja. Kudapati rona jingga itu di dinding kamar ini. Aku baru saja tersadar dari suntik penenang yang diberikan dokter tadi.

Aku kembali menatap sekeliling. Kosong. Suster atau wanita setengah baya tadi tak ada di sini. Orang tuaku juga tidak ada.

Sekali lagi aku mencoba duduk. Meski tubuh lemah, kuusahakan juga.

Kutatap hembusan angin yang menyibak tirai jendela di sebelah sana .

Kupaksakan kakiku melangkah. Menuju keluar . tertatih aku melewati lorong yang dipenuhi orang-orang tak kukenal. Dan lagi-lagi berwajah oriental!!!

Aku mempertajam mataku. Terlihat dari nametag mereka huruf-huruf yang kukenal. Huruf hangul!!!!

Oh My God!!!! Aku pasti bermimpi sekarang!!!

Dengan cemas aku memperhatikan sekeliling. Huruf-huruf di sekitar sama semuanya. Huruf hangul. Dan di bawahnya baru bertuliskan bahasa inggris. Apa mataku juga bermasalah?? Atau jangan-jangan aku sedang bermimpi sekarang?!

Aku tahu wajahku pucat. Ketakutan dan kebingungan.

Aku bertanya pada seorang suster dengan bahasa inggris.

“Can you tell me where is this?” aku berharap bahasa Indonesia yang keluar dari mulutnya.

Dia menatapku. “Of course. This is hospital.”

“Apa namanya?” tanyaku terus dalam bahasa inggris. Ku harap dia menyebutkan nama yang berbau Indonesia . Amin…

“Rumah sakit internasional Seoul .” Jawabnya yang kembali dalam bahasa inggris.

Aku menatapnya tak percaya.

“Jadi… ini korea ?”

Suster itu mengangguk meski matanya menyatakan kebingungan.

“Benar-benar Seoul ?”

Suster itu mengangguk lagi. Kurasakan kepalaku berat. Lagi-lagi aku pingsan!! Aku harap, saat terbangun, aku benar-benar sudah tidak bermimpi lagi.

~*~

Ketika aku tersadar, aku sudah berada di kamar rawatku lagi. Dan seseorang duduk di sampingku. Aku tak mengenalnya. Yang kutahu dia seorang laki-laki.

Aku bergerak lagi. Berusaha duduk. Orang di sampingku terbangun.

***

-Yi Jung-

Aku menunggui adikku, Hyun Ae, yang terbaring di ranjang rawatnya. Sudah lama ia sakit. Sakit yang kutahu hanya bisa diperlambat tanpa bisa menghentikannya. Kanker otak. Aku terkejut lagi saat kudengar dia pingsan. Padahal baru kemarin dia pingsan, yang membuatnya di larikan ke rumah sakit ini.

Aku tegang. Menatap alat-alat yang berusaha membantunya untuk tetap bertahan hidup. Aku takut, dia akan pergi.

Apalagi umma bercerita saat dia terbangun dia terlihat bingung. Mengatakan kata-kata yang tak di mengerti olehnya dan juga si suster. Dia berteriak ketakutan. Membuat dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang.

Sepertinya dia keluar dari kamar ini setelah sadar dari suntik penenang. Dia pingsan di lorong tak jauh dari kamar. Suster yang menemukannya, bukan yang berbicara padanya tepatnya, mengatakan pada umma bahwa dia bertanya padanya di mana dia berada dengan bahasa ingris. Saat di bilang di rumah sakit internasional Seoul dia malah bertanya “jadi ini korea ?”

Dan saat di beritahu ini benar-benar korea dia pingsan. Ada apa dengannya?

Aku menungguinya di sisi ranjangnya. Tak terasa aku tertidur. Entah untuk berapa lama.

Lalu kurasakan sesuatu bergerak. Aku membuka mataku dan menemukannya duduk di ranjang. Dia terkejut melihatku.

“Dongsaeng, gwenchanayo? Apa ada yang sakit?” aku berusaha untuk membuatnya merasa nyaman. Kuberikan seulas senyum. Tapi dia justru menatapku penuh tanya dan ketakutan.

“Kau baik-baik saja? Akan kupanggilkan dokter.”

Aku beranjak.

***

-Hana-

Orang di sampingku terbangun. Dia bertanya padaku dengan, sial, lagi-lagi bahasa korea . Aku tak mengerti! Kubalas dia dengan tatapan bingung dan ketakutan. Dia berkata lagi. Kemudian pergi.

Tuhan… apa aku masih di dunia mimpi??? T.T

Tak lama dia datang bersama seorang dokter. Dokter itu berbicara padaku. Aku tak bisa menjawab karena tak tahu apa yang harus kujawab.

Aku mencari-cari sesuatu. Kemudian dengan isyarat tubuh seadanya aku meminta suster meminjamkan pen dan kertas yang dipegangnya.

Aku menulis dalam bahasa inggris dan kuharap dokter itu mengerti.

Aku menyerahkan tulisan itu padanya. Kemudian dokter wanita itu berkata pada suster dan orang asing itu. Setelah itu mereka pergi.

Saat mereka sudah keluar aku berkata pada dokternya.

“Docter, I don’t know how to tell you. I don’t know how I can be here. Yang terakhir kali kuingat aku ditabrak oleh sebuah mobil. Suster itu bilang ini korea , bagaimana bisa, sedangkan saat kecelakaan itu aku ingat benar bahwa aku masih di jalanan Bandung , Indonesia .”

Dokter itu menatap heran padaku. Dia mencerna bahasa inggrisku yang pas-pasan dan tak sesuai grammer bahkan tensesnya.

“Apakah kau ingat siapa dirimu?” dokter itu bertanya dengan lembut.

“Ya. Aku Hana.”

Dokter itu menatapku lagi. “Ingat siapa orang tuamu dan saudaramu?”

“Ingat.” Kusebutkan nama mereka.

Dokter itu bertanya lagi. Dan kujawab. Setelah pertanyaan selesai dia mengelus pundakku. “Jangan cemas. Kau akan baik-baik saja.” Dia tersenyum. Lalu keluar dari ruangan ini. Aku berharap semuanya segera berakhir. Ini menakutkan!

***

-Yi Jung-

Aku tidak tahu apa yang ditulis dongsaeng-ku. Tapi setelah membacanya, dokter meminta kami keluar. Aku menunggu dengan cemas. Sesekali aku melihatnya dari balik pintu. Mereka berbicara dengan pelan. Yang bisa kulihat jelas hanyalah wajah panik dongsaeng-ku.

Tak lama kemudian dokter keluar. Dia mengajakku ke ruangannya.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi yang bisa saya simpulkan adalah, dia kehilangan ingatannya. Dia merasa asing dengan sekitarnya. Bahkan Anda, keluarganya. Saya menanyakan tentang Anda dan orang tua Anda padanya. Dia memberi jawaban yang berbeda. Dia menyebut nama yang lain. Apa anda mengenal nama Yano, Nana, dan Ryo?”

Aku menggeleng. “Dia bilang Yano dan Nana adalah nama orang tuanya. Dan Ryo adalah adiknya. Dia tak ingat kalau dia tak punya adik melainkan kakak.

“Dia bilang dia sendiri bingung bagaimana bisa berada di sini, di Korea, padahal dengan sangat jelas dia ingat kalau dia kecelakaan saat berada di jalanan Bandung , Indonesia . Apakah dia pernah punya mimpi atau khayalan sendiri tentang dirinya dan keluarganya?”

“Saya rasa tidak, Dok!”

“Saya khawatir, yang dia ingat sekarang adalah mimpinya. Bahkan saat saya menanyakan apakah dia bisa berbahasa Indonesia , dia mengangguk dan mengatakan kata-kata Indonesia yang katanya artinya ‘aku rasa aku bermimpi sekarang’. Saat saya mencoba bertanya dengan bahasa Korea , dia menatap saya dengan bingung. Dan itu bukan kebingungan yang dibuat-buat.”

“Maksud dokter adik saya benar-benar kehilangan ingatannya.”

“Belum bisa dipastikan. Kita lihat besok. Saya harap orang tua anda dan teman-teman dekat adik Anda bisa datang. Mungkin di antara mereka ada yang dia ingat.”

Aku mengangguk. Kemudian pamit.

***

-Hana-

Esok harinya.



Kali ini bertambah lagi orang yang datang. Wanita yang kemarin, seorang paman, laki-laki yang menjagaku, satu orang yang ku kenal wajahnya, seorang lagi tidak, dan seorang gadis yang sebaya denganku.

Mereka satu-per satu bertanya padaku, siapa mereka dan apakah aku mengenal atau merasa kenal dengan wajah mereka. Aku menjawab sesuai yang kutahu. Dengan jujur aku bilang bahwa aku tak kenal mereka. “Tapi….” Mereka menatap penuh harap, “rasanya wajahnya mirip sekali dengan member Shining Stars. Dia mirip dengan JunHo.”

Mereka saling pandang.

“Kau tidak ingat nama kami?” seseorang yang mirip dengan JunHo, member Shining Stars, bertanya padaku.

Aku mengangguk.

“Apa kau ingat kapan kau mengenalku?” Tanya seorangnya lagi.

Aku menggeleng. “Aku baru bertemu kalian di sini. Aku tak mengenal kalian. Hanya yang kutahu dia mirip dengan member Shining Stars.”

“Hyun Ae-ah!” kata yang mirip JunHo, “Kau benar-benar melupakanku! Kami!! Jung Min,” dia menunjuk dirinya, “dan Young Jia,” dia menunjuk laki-laki di sebelahnya, “Sahabatmu! Apa perlu kupanggilkan yang lain agar kau ingat? Kita pernah liburan ke pulau Jeju bersama dengan Yi Jung hyung!” ucap Jung Min.

Aku menatapnya bingung. Yi Jung menepuk pundak Jung Min dan berbisik. “Bukankah sudah kukatakan dia asing dengan bahasa Korea !?”

Jung Min menatapku. “Apa kau mengerti yang kukatakan barusan?” tanyanya dalam bahasa yang dipahamiku. Aku menggeleng.

Young Jia berkata dengan bahasa inggris yang mencemaskan. “Kamu tidak mengenal kami? Hanya merasa dia mirip dengan member idolamu?” kali ini dengan ekpresi berlebihan.

Aku mengangguk.

“Aish… kau membuatnya takut, hyung!” Jung Min menjitak kepala Young Jia. Dia meringis. Senyum terukir di wajahku.

Apa begini lebih baik? Sepertinya tidak buruk, batinku.

Dokter kembali menananyakan siapa namaku. Aku jawab “Hana”.

“Apa Anda ingat dengan nama ‘Hyun Ae’?”

Aku menatapnya. Bagaimana dia tahu itu nama korea pilihanku. “Itu nama Korea yang kupilih sendiri untukku.”

Mereka menatapku tak percaya.

“Biasanya… kupakai… untuk nama tokoh di FanFic dan juga nama Facebookku.”

Mereka menghela napas berat. Saling tatap.

Kemudian wanita setengah baya yang menatapku sedih sejak tadi mengeluarkan album foto, foto diri mereka ada di sana , bersama denganku. Bagaimana mungkin?!!!

Di dalamnya ada tulisan hangul.

“Do you remember?” dokter itu bertanya. Aku kembali menggeleng.

“Aku tahu gadis ini berwajah sama denganku,” kataku sambil menunjuk sosok yang kumaksud, “Tapi aku merasa tak pernah berfoto di sini dan bersama mereka.”

Kulihat kesedihan semakin terpancar di wajah mereka.

Mereka kemudian meninggalkanku, bersama dengan album foto itu. Mereka berdiskusi di luar. Entah apa yang mereka bicarakan.

Kemudian Dokter itu masuk dan mengatakan bahwa wanita setengah baya dan paman itu adalah orang tuaku. Aku nyaris tertawa. Bagaimana mungkin!???

Dia bilang, namaku bukan Hana seperti yang kuingat, tapi ‘Hyun Ae’-lah namaku sebenarnya. Tidak mungkin!!!!

Dokter bilang benar aku punya saudara. Tapi bukan adik laki-laki, melainkan Kakak laki-laki. Dan dia bernama Yi Jung. WHAT????

Jung Min dan Young Jia adalah sahabatku, dan benar, kami sama-sama mengidolakan Shining Stars. It’s imposible!!!

Dokter menambahkan aku kehilangan ingatanku dan kemungkinan orang-orang yang kuingat, Bandung , dan negaraku, adalah bagian dari imajinasiku yang tidak hilang, sehingga aku percayai hal itu sebagai kenyataannku. Ouch! Bagaimana bisa???

Yang lain sudah pulang. Tinggal oppa dan umma (aku diharuskan memanggil mereka begitu mulai sekarang) yang menungguku.

Mereka sudah tertidur. Tapi mataku masih dalam keadaan 100 watt. Aku berpikir, bagaimana bisa selama 20 tahun hidupku, Indonesia dan Bandung cuma di dunia mimpi???? Aku ingat betul bagaimana aku tumbuh besar. Lingkunganku. Sekolahku. Teman-temanku. Kegilaanku pada idolaku. Kesenanganku dalam menulis cerita. Itu pasti bukan mimpi. Tak ada mimpi yang selama itu. Kejadian saat inilah yang mimpi. Benar kan ? Aku benar kan ?

Argh… aku bisa gila. Kuharap aku bisa tidur sekarang. Dan saat terbangun aku sudah di dunia nyataku lagi.

~*~

Kondisiku sudah membaik dan aku diperbolehkan pulang. Ke rumah yang tak pernah kuingat bahkan kuakui sebagai rumahku. Terlalu mewah.

Oh, Tuhan, aku masih di dunia mimpi rupanya.

Sepanjang jalan tadi aku melihat ruas-ruas jalan dengan antusias. Ada perasaan sedih sebenarnya. Juga bingung. Sekarang aku tak tahu apa yang harus kupercayai. Kehidupanku di Indonesia atau cerita mereka tentangku yang di Korea .

~*~

Hari berlalu. Aku lebih sering bicara dengan Jung Min oppa, karena dialah orang yang bisa kuajak bicara. Young Jia oppa, bahasa inggrisnya mencemaskanku. Juga membingungkan. Dia lebih parah dariku.

Kemarin aku bertemu dengan sahabatku yang lain, Jae Jin, Changmin, dan Jin Ki . Mereka menjengukku. Mereka berharap aku kembali ingat dengan semua kenangan yang pernah ‘Hyun Ae’ dan mereka buat. Bermain di taman bermain, ke villa, permainan truth or dare yang selalu berhasil membuat Young Jia oppa terjahili. Jika itu kenyataanku, aku pun ingin mengingatnya. Huhuw… aku ingin punya kenangan indah seperti itu T.T

~*~

Suatu hari mereka mengajakku ketempat-tempat yang kata mereka pernah dikunjungi bersama. Mereka membuat kenangan yang sama lagi. Berfoto ria. Saling canda. Main petak umpet juga dan banyak lagi.

Ah, betapa bahagianya jika ini memang nyata. Kenangan ini, meski cuma mimpi, akan kuingat selamanya.

Kami masih istirahat di taman yang sepi. Untunglah…. Aku mengatur napasku, begitu juga dengan mereka.

“Sudah lama kita tidak seperti ini,” kata Jung Min oppa.

Jae Jin onnie menatapku. “Bagaimana? Apa kau merasakan dejavu?”

Ini untuk kesekian kalinya dia menanyakan hal itu. Sejak dari awal perjalanan kami. Yi Jung oppa tidak ikut karena ada kesibukan. Seandainya bisa dibatalkan, dia akan membatalkannya katanya.

Aku memilih diam. Aku tak mengingat apapun. Justru menempatkan peristiwa ini di memori kenanganku, yang akan selalu kubuka setiap waktu di sadarku nanti. (ah, aku masih yakin ini mimpi)

Jin Ki oppa menyikut Jae Jin onnie. Membisikkan sesuatu. Kemudian kudengar dia meminta maaf padaku.

“Kami ingin kau segera mengingat kejadian yang terekam di foto yang kau lihat kemarin.”

Foto itu. Foto penuh kecerian di antara mereka. Ku bilang ‘mereka’ karena aku memang tak pernah ada di sana . Yang ada di sana adalah ‘Kim Hyun Ae’ bukan aku, ‘Hana’.

“YAA!!!!” kudengar changmin oppa berteriak. Kulihat Young Jia berlari membawa keripik kentangnya Changmin. Dia berteriak dengan bahasa korea . Mungkin meminta Young Jia oppa mengembalikannya.

Ku dengar Jin Ki oppa bergumam. Jae jin onnie dan aku hanya tertawa melihat tingkah kekanak-kanakkan mereka.

“Kau tak perlu memaksa apa yang tak bisa kau ingat,” bisik Jung Min oppa. Aku menoleh. Aku tak tahu sejak kapan dia di sampingku. Sial! Lagi-lagi jantungku berdebar hebat! Ini selalu terjadi jika aku di dekatnya.

Jung Min oppa tersenyum. Mengelus kepalaku dengan lembut. “Jangan memaksakan diri. Jika bagimu ini mimpi, maka biarkan dalam mimpimu kami membuat kenangan indah bersamamu, Hana.”

Nyaris menangis aku mendengar kata-katanya. ‘Hana’, untuk pertama kalinya nama asliku disebut, dan itu keluar dari bibirnya. Oppa, gomawo…

“Berjanjilah, jika kau terbangun, kau akan tetap mengingat mimpi indah ini.”

Aku mengangguk. “Ku harap oppa bermimpi hal yang sama denganku.” Air mata benar-benar jatuh di pipiku.

Dia mengangguk sambil mengusap air mataku.

“Lihat, si playboy beraksi,” kata Changmin pada Young Jia. Jin Ki dan Jae Jin menoleh ke arah kami.

“Ya!!!” Jung Min oppa berteriak. “Siapa yang kalian bilang playboy???”

Changmin dan Young Jia segera bersembunyi di belakang Jin Ki dan Jae Jin.

“Aish….” Jung Min oppa mengeluh kesal. Ekspresinya imut sekali. Seperti anak kecil yang merajuk. Membuatku gemas. Kejadian ini tak akan pernah kuhapus dari ingatanku! Aku janji!

***

-Jung Min-

Hampir dua bulan sudah. Ingatan Hyun Ae tak kembali. Aku sering bersamanya, karena bersamanya terasa menyenangkan. Rasanya aku bertemu teman dari Negara asing. Mengajarinya beberapa kata-kata korea , dan juga mengenalkannya pada budaya dan tempat-tempat wisatanya. Hehehe.... ^_^

Kemarin, tanpa diketahui yang lain, aku bertanya padanya, “Hana, kau orang dari Indonesia yang pertama kali kukenal. Senang bisa bertemu denganmu.”

Dia tersenyum. Sangat manis. Lebih manis dari Hyun Ae. Tapi, bukankah mereka orang yang sama?

“Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku tahu bagaimana kau bisa mengenal Shining Stars? Mereka kan dari korea? Apa dari mereka yang paling kau sukai?” tidakkah ini seperti sebuah wawancara eksklusif? Hehe :D

Dia mengangguk. Bercerita dengan antusias. Dia bilang dia mengenal Shining Stars dari majalah asia di negerinya. Awalnya, Cuma kenal wajah saja. Tak tahu seperti apa suara mereka.

Kemudian, saat membeli lagi, dia mendapatkan bonus dvd dan di dalamnya ada mv mereka, perasaan cinta itupun dimulai.

“Dan yang kusukai dari mereka, adalah saat mereka berlima bersama. Menyanyi, menari, bahkan kejahilan, asalkan mereka bersama, itu adalah saat yang paling kusukai.”

“Lalu, member mana yang menarik perhatianmu lebih dulu?” aku rasa ini benar-benar sebuah wawancara.

“JunHo oppa. Dia tampan, dan pandai menari. Dia seorang leader yang kukagumi. Aku semakin menyukainya saat tahu dia disebut apotik berjalan. Dia begitu mencemaskan member yang lain. Benar-benar seorang leader.”

“ Ada member lain yang kau sukai juga?”

Dia mengangguk. Wajahnya memerah.

Aish…“Siapa?”

“Tae Kyung.”

“Apa ada hal yang kau lakukan untuk menunjukkan betapa kau menyukai mereka? Selain mengoleksi lagu dan foto.”

Dia berpikir sebentar. “Selain mengoleksi lagu dan foto, baju bertuliskan nama mereka atau gambar mereka, aku membuat cincin berukiran nama mereka.”

“Benarkah?”

Dia mengangguk malu-malu.

“Satu di jari manis kananku, dan satunya di jari manis kiriku.”

“Kau memakai keduanya?”

Dia tersenyum malu. Membuatku gemas.

“Aku juga membeli gelang yang bertempel huruf S-Stars dan bintang mengapit huruf itu.”

“Sungguh?”

Dia mengangguk. “Awalnya aku mau yang bertuliskan nama member. Tapi tak bisa kupakai semua. Harus ku lepas dan pasang lagi, jadi kuputus kan membuat S-Stars saja. Serasa semua member bersamaku.”

“Hm… sebagai kenang-kenangan, mau mendengarkan permainanku? Ini K-pop yang kusukai. Meski ini bukan lagu Shining Stars kuharap kau suka.”

Aku beranjak, mendekati piano yang ada di rumahnya.

“Aku sangat suka lagu Why have I fallen for You, Tea for Two, Begin, My Little Princess, dan One. Ini lagu-lagu DBSK, kau kenal?”

“Mm-mm. Mereka juga grup yang kusuka.”

“Kalau begitu, mau dengar yang mana?”

“Kau bisa semuanya?”

“Begitulah…”

“Wow…” dia terlihat kagum.

“Bagaimana kalau One saja?” aku menawarkan.

Dia mengangguk. Matanya berbinar bahagia.

~*~

Dan hari ini aku mengunjunginya lagi. Sekalian menemaninya check up. Dia terlihat baik meski rona pucat di wajahnya masih terlihat.

Sebelum pergi aku memberinya sebuah kejutan. Aku menyematkan kejutan itu di jari manis kanannya. Benar, kejutan itu adalah sebuah cincin yang berukir namaku dan namanya. Kau tidak tahu betapa hatiku menjerit kegirangan saat memberikannya padanya!!!

Kemudian kupakaikan lagi kejutan berikutnya di tangan kanannya. Sebuah gelang berukirkan S-Stars yang hanya ada di korea. Sangat cantik ketika gelang itu ada di pergelangan tangannya.

“Gomawo oppa. Terima kasih banyak.” Ia sesegukan. Aku tahu dia sangat menyukai hadiah ini.

Aku merengkuhnya kepelukanku. Hatiku lagi-lagi heboh begini!!

~*~

Aku menemaninya ke rumah sakit bersama Young Jia. Dokter mengatakan kondisinya membaik. Dia berpesan agar Hyun Ae menjaga kesehatannya . Juga meminum obat yang dia berikan.

Saat Hyun Ae bersiap-siap untuk pulang, Young Jia menarikku keluar.

“Aku melihat yang kau lakukan pagi tadi. Kau mewujudkan apa yang dia ceritakan. Tidakkah kau ingat bahwa kita diminta untuk membuanya mengingat semua ingatannya yang hilang? Tingkahmu pagi tadi seolah membenarkan bahwa dia seorang ‘Hana’, bukan ‘Hyun Ae!”

“Aku…” aku berpikir sesaat. “Aku merasa kasihan padanya. Dia seperti tersesat. Dia mengingat dirinya adalah ‘Hana’ tapi orang-orang menuntutnya menjadi ‘Hyun Ae’. Tidakkah kau lihat saat aku tak menganggabnya sebagai ‘Hana’ dia begitu kesepian dan kebingungan? Kita menganggapnya ‘Hyun Ae’ kita, tapi itu justru membuatnya merasa tak nyata. Dia butuh seseorang membenarkan ingatannya, hyung. Dan lihat, dia jauh lebih terbuka saat aku menganggapnya sebagai ‘Hana’.”

Young Jia diam.

“Dia menganggap dirinya sedang bermimpi sekarang, hyung. Jadi biarlah, selama dia belum terbangun dari mimpinya, biarkan aku menganggapnya sebagai ‘Hana’.”

“Aish… terserahlah!”

Young Jia berbalik dan aku mengikutinya. Kami menuju ruangan di mana Hyun Ae tadi berada. Raut wajahnya terlihat berbeda. Ada apa?

***

-Hana-

Aku mendengar pembicaraan Jung Min dan Young Jia. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Siapa aku? ‘Hana’ atau ‘Hyun Ae’? Ugh! Aku mulai kehilangan jati diriku sekarang.

“Sudah?” Jung Min oppa bertanya. Aku mengangguk.

Dia menatapku. Dan kutahu pasti itu adalah tatapan kasihan. Kenapa aku kesal??

“Sepertinya ada yang sedang badmood.” Kudapati dia melirikku lewat kaca spion. Aku masih diam.

“Hana, apa kau punya mimpi melihat live perform mereka?”

Aku mendelik sekilas.

Dia kemudian menelpon seseorang.

“Baiklah, kita ke gedung sekarang.”

Dia membawa mobil menuju tempat yang tak ku kenal. Ada banyak orang di sana . Kami naik hingga ke lantai 4. Sebuah ruangan dengan kaca besar di depan. Aku dan mereka masuk ke dalam. Ada beberapa orang di dalam.

“Hari ini tidak ada latihan, makanya sepi. Meski mereka tidak lengkap, kuharap kau menyukainya.”

Dia menghidupkan musik dan beberapa orang yang ku kenal sebagai member Shining Stars mulai menyanyi dan menari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya mematung dan memandang dengan takjub apa yang kulihat. Mereka sesekali bercanda. Meski tidak mengerti apa yang mereka katakan, tingkah mereka cukup berhasil membuatku tertawa.

Mereka menari lagi. Kali ini seperti pertarungan siapa dance terbaik. Jung Min memberi gerakan dan member Shining Stars menirunya. Wow… hanya kata itu yang mampu kuucapkan saking kerennya!!

~*~

“Aku baru tahu kalau Jung Min oppa bisa dance. Keren!”

Jung Min tersenyum.

“Tadi ekspresi oppa yang tak mau kalah lucu sekali. Oh, ya, oppa, bagaimana oppa bisa masuk ke gedung managemen mereka?”

“Ayahku manager manajemen ini, karena tahu aku fans mereka, ayah mengajakku ke mari dan mengenal mereka. Sejak saat itu kami berteman. Kalau saja kau ingat, kau sudah pernah ke mari dan bertemu mereka langsung sebelumnya.”

“Eh? Maaf…”

“Sudahlah, kita bahas hal lain saja. Eh, bagaimana kalau kita ke sungai Han?”

“Mmm…. Boleh.”

Tuhan, jika ini memang mimpi, biarlah. Aku ingin tetap di sini lebih lama lagi. Boleh kan ?

Gomawoyo Jung Min oppa!

~*~

Hari sudah malam. Yi Jung oppa masih sibuk. Ayah dan ibu juga begitu. Mereka meminta Jung Min oppa menemaniku di rumah. Mereka terlalu cemas, sehingga memaksa biar ada seseorang yang sigap yang menjagaku. Ah, terserahlah. Ini cukup menyenangkan.

Kami duduk di ruang keluarga dan berbicara banyak hal. Tanpa kusadari dia telah tertidur. Aku menatapnya sesaat. Pelan-pelan aku melangkah menuju kamar. Mengambil selimut. Kemudian ke ruang keluarga lagi. Dia masih terlelap.

Perlahan aku menyelimutkan selimut itu padanya. Kupandangi lagi wajahnya.

Sebuah kata yang kutahu artinya meluncur dari bibirku. Aku tahu dia tak akan menjawab karena dia tak mendengarnya.

“Saranghaedo dwelkayo oppa?”

Diam.

Aku melanjutkan memandangi wajah tampanya. Wajahnya yang tenang dan begitu polos. “Jeongmal… saranghae oppa,” kataku lagi, lalu pergi ke kamarku.

~*~

Sesaat sebelum Jung Min pulang, di depan pintu rumah dia menarikku mendekat ke arahnya. Dia membisikan kata yang membuat waktuku terhenti seketika.

“I give you permissioin foir love me,” bisiknya. Dia menjauh sedikit. Tersenyum sekaligus mengedip jahil padaku. Kemudian pergi. Aku tahu saat itu wajahku memerah.

Kenapa aku berpikir dia tidur tadi malam? Malunya….

~*~

Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Tubuhku terasa sakit. Yi Jung oppa yang baru pulang pagi tadi cemas melihatku yang tiba-tiba pucat.

Dia segera membawaku ke rumah sakit.

Aku menangis. Sakitnya tak bisa kutahan lagi. Yi Jung oppa terus memintaku bertahan.

Kami tiba di rumah sakit akhirnya.

Tapi aku merasa napasku sesak. Mataku berkunang-kunang. Kemudian gelap.

~*~



Aku membuka mata. Kudapati diriku di ruangan serba putih lagi. Sosok yang kukenal menatapku cemas. Dia ibu, ayah, dan adikku. Di mana aku?

“Ini…” lirihku. Aku lemas… Aku sudah terbangun dari mimpi rupanya.

Mereka menatapku.

“Ibu, ayah… berapa lama aku tidur?”

Mereka saling tatap.

“Kau sudah bisa berbahasa Indonesia ?” Tanya Ryo, adikku.

Eh?

Ryo lalu menceritakan tentang aku yang siuman dua bulan lalu. Dia bilang aku mengatakan kata-kata asing. Entah apa. Mengaku sebagai ‘Hyun Ae’ dan berasal dari ‘ Seoul alias Korea Selatan’. Kemudian dokter memfonisku kehilangan ingatan tentang mereka dan juga cara berbicara dalam bahasa Indonesia karena kecelakaan itu. Setelah sehat aku diperbolehkan pulang. Mereka terpaksa menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi denganku, karena hanya itu satu-satunya bahasa yang kupahami.

Aku menatap tak percaya. Kutanyakan bagaimana aku bisa berada di rumah sakit lagi.

Dia bilang aku meringis kesakitan. Menggigil dan berkeringat dingin. Lalu tiba-tiba pingsan saat di perjalanan menuju rumah sakit.

“Untunglah kau tidak apa-apa sekarang,” kata ayah.

“Hana kami sudah kembali,” kata ibu sambil menyeka air matanya.

Aku terheran-heran sekaligus takjub.

Jadi yang kualami selama dua bulan ini bukan mimpi? Aku bertukar jiwa dengan Hyun Ae yang sesungguhnya. Jadi benar kalau selama dua bulan itu aku pernah bersama orang korea? Jadi… Jung Min oppa dan yang lainnya nyata? Juga… pertemuan dengan member Shining Stars??? YAYY!!!!!

Aku tersenyum kegirangan sendiri. Tapi tiba-tiba aku tersadar bahwa Jung Min oppa selama dua bulan itu masih menganggapku sebagai Hyun Ae yang tersesat. Apa dia sekarang menyadari bahwa Hyun Ae yang tersesat itu adalah aku, ‘Hana’?

Aku teringat cincin dan gelang yang diberikannya. Aku melihat tangan kananku. Cincin dan gelang itu tak bersamaku. Sedih rasanya. Tapi… aku melihat sesuatu yang melingkari jariku. Seperti sebuah cincin, dan di jari manisku tertulis sebuah nama kami. “Min♥Hana”, sama dengan ukiran di cincin yang Jun Min oppa berikan.

Jantungku nyaris tak berdetak. Kulihat pergelangan tanganku. Seperti dilingkari sesuatu. Aku membalik tanganku, membuat telapak tangannya menghadap ke atas. Di pergelanganku terlihat sebuah tulisan. “S-Stars”, lagi-lagi ukirannya sama. Seperti ukiran gelang yang diberinya.

Ini tidak mungkin, tapi ini nyata!!!! NYATA!!!!

Aku mungkin tak membawa kedua hadiah itu ke sini, tapi mereka terbawa bersamaku. Terukir nyata dikulitku. Seperti sebuah tanda lahir.

Dulu, aku tak pernah percaya bahwa hal-hal yang kita lakukan sekecil apapun akan berhubungan dengan masa depan kita. Tapi sepertinya, aku harus mempercayainya sekarang.

***



Sementara itu di rumah sakit internasional Seoul .



­-Jung Min-

Aku, Young Jia, Changmin, Jin Ki, Jae Jin, Yi Jung hyung, dan orang tuanya menatap tak percaya pada Hyun Ae yang ada di depan kami. Dia menangis di pelukan ibuya sambil bercerita tentang dirinya yang menurutnya bermimpi tiba-tiba berada di Indonesia. Kuulangi INDONESIA !!!

Dia di panggil ‘Hana’ di sana . Bukti-bukti dia memang pernah ada di sana nyaris membuatnya percaya kalau dia adalah ‘Hana’ dan kehilangan ingatannya. Dari foto-foto keluarga, teman, dan alumni!!! Dua bulan, dia masih mendapati dirinya di sana , membuatnya nyaris percaya kalau hidupnya selama 20 tahun di korea ini cuma mimpi.

Dia lega karena akhirnya terbangun dan mendapati appa, umma, oppa, dan kami, orang-orang yang di kenalnya di Korea , ada di depannya.

Aku tersenyum. Teringat tentang Hana. Ini sulit dipercaya tapi ini adalah kenyataan. Hana dan Hyun Ae, dua gadis yang tertukar jiwa. Apa dia baik-baik saja di sana ? Apa dia sudah sadar?

~*~



Yi Jung hyung menyerahkan sebuah cincin dan gelang padaku. Cincin dan gelang yang kuberikan pada ‘Hana’. Ah, dia meninggalkannya. Tidak! Mungkin tak bisa di bawanya pergi.

“Ini bukan untuk adikku, aku tahu itu. Makanya aku kembalikan.”

“Gomawo, hyung.” Aku mengambilnya.

Yi Jung pamit pergi.

Saat dia pergi aku meraih ipodku. ‘Picture of You’ milik DBSK mengalun.



As much as the sun that rises above you,

I'll keep you safe as much as you've waited for me, with this glaring heart,

All the dreams I've prayed for,

They're going towards you with my sincere scent



Kupandang kedua benda yang tak bisa Hana bawa, pandanganku beralih ke langit.

Hana, apa kau ingat? Saat itu kau menganggap semua ini mimpi dan aku menganggap kau tersesat, di taman, hari itu aku berkata

“Kau tak perlu memaksa apa yang tak bisa kau ingat,” aku berkata sambil mengelus kepalamu dengan lembut. “Jangan memaksakan diri. Jika bagimu ini mimpi, maka biarkan dalam mimpimu kami membuat kenangan indah bersamamu, Hana.”

Hana, apa aku sudah melakukannya?

Apa kau mengingat ‘mimpi’ itu? Sekarang buatku, semua yang terjadi adalah kenyataan. Kata-katamu dan aku yang mengijinkanmu mencintaiku adalah kenyataan. Aku merindukanmu di sini. Apakah di sana kau merindukanku?

***



Nun jauh di sini, seorang gadis terlihat berdiri di balkon rumahnya sambil memandang langit. Headset terpasang di telinganya. Alunan lagu ‘Picture of You’ DBSK mengalun. Memberi kehangatan di hatinya. “Oppa…,” bisiknya, “bogoshipda.”



Angin seolah menyampaikan kata rindu itu pada orang yang dimaksud. Karena setelah kata itu selesai diucapkan, di ujung sana Jung Min tersenyum.



As much as the sun that rises above you,

I'll keep you safe as much as you've waited for me, with this glaring heart,

I love you, I love you,

You're the most beautiful in this world,

This dream-like heart,

More than the air I breathe...





~Tamat~



comment ya...^^

No comments:

Post a Comment