Title: Kekasihku
Request by: someone (my friend ^^)
Update: 17 November 2009 dg judul ’Kisah cinta Rea’
Adaptasi dari kisah nyata dengan sedikit gubahan.
”My Love”
By Imah Hyun Ae
Langit senja memayungi kota S. Seorang cewek dengan mata sendunya menatap ke belakang. Matanya yang sedikit tergenang air tertuju pada satu sosok cowok tinggi tegap.
Seketika ingatannya kembali ke masa itu. Kisah di mana hubungan mereka bermula.
***
Suatu pagi yang cerah,di meja no.2 baris pertama, seorang gadis menekuk wajahnya. Nampak sekali betapa ia tak mendukung suasana ceria pagi itu.
”Pagi...” sapa seseorg.
Ia mengangkat wajahnya. ”Rea...” bisiknya. Masih dengan wajah yang tertekuk dia membalas, ”Pagi...”
”Tumben wajahmu suram hari ini,Na?”
Yang dipanggil ’Na’ hanya menghela napas.
”Kenapa sih?” tanya Rea penasaran.
”Idolaku,Re...” lirih Nana setelah sukses menempelkan wajahnya di meja.
”Kenapa memangnya?”
”Dia pacaran sama musuhku...”
Jeda sesaat.
”Suka-suka dialah. Itu kan haknya.” Sahut Rea akhirnya tanpa perasaan peduli sedikitpun.
”Tapi kenapa mesti cewek itu? Cewek yang lebih baik kan banyak!”
”Namanya juga cinta.”
Nana manyun. ”Ugh! Kalau pacaran sama yang lain sih nggak apa-apa. Ngagak masalah. Ini? Aduh~!”
Rea Cuma bisa menggeleng. Tak mau berargumen lebih banyak.
~*~
Keesokan harinya Nana telah berwajah ceria. Rea merasa aneh. Biasanya kalau Nana bete gara-gara idolanya sampai berminggu-minggu,batin Rea.
Si Nana yang melihat wajah bingung Rea, langsung cengengesan.
”Hei!”
”Hm?” sahut Rea.
”Aku dapat ide nih.” Masih crngengesan nggak jelas.
”Ide? Ide apa?”
”Bikin idolaq jadian sama cewek yang lebih baik. Kamu mau kan, Re?”
”Mau apa?” firasat buruk,batin Rea.
”Jadi pacarnya kak Erik?”
”Hah? Kok...”
”Tenang saja. Pasti dia mau! Dia kan idola di lapangan basket. Sedangkan kamu populer. Pasangan yang serasi deh. ”
”Tapi...”
”Kak Erik baik kok orangnya. Pasti naksir deh sama kamu yang bak malaikat,hehe...”
”Tapi kan...”
”Mau ya? Ya?” Nana memasang wajah memohon andalannya.
Rea mengangguk pasrah.
~*~
Hari terus berganti. Rea telah berkenalan dengan Erik kemudian menjadi teman. Lama-lama semakin akrab. Erik,entah karena apa telah putus dengan pacarnya. Nana yang menyadari adanya perkembangan yang sesuai harapannya terus tersenyum senang. Dan suatu hari harapoan Nana terwujud.
”... Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa mulai membutuhkanmu. Ingin selalu ada di sisimu. Ketika sadar, aku telah benar-benar mencintaimu. Rea, mau kah aku jadi kekasihku?”
Rea tertunduk malu. Sekilas terlihat kalau ia mengangguk. Senyum bahagia mengembang di wajah Erik. Sedangkan Nana yang entah sejak kapan mengintip keduanya,tiba-tiba berteriak heboh. Membuat wajah mereka semakin merona karena malu.
~*~
Hubungan tersebut terus berlanjut hingga sekarang.
Bayangan Erik yang melepaskan kepergian Rea yang memutuskan kuliah di kota P akhirnya menghilang. Rea yang sedari tadi melihat ke kaca belakang mobil menghela napas. Terdengar berat. Nana yang sejak awal duduk di samping Rea memperhatikannya.
”Kak Erik setia kok.” Ucap Nana menenangkan.
Rea tersenyum.
~*~
Tidak terasa semester 5 telah menyapa. Rea dan Erik tampak baik-baik saja. Bertemu saat liburan di kota S mereka. Atau saat Erik ada waktu senggang, ia akan mengunjungi Rea di kota P.
Hubungan yang indah. Tapi,itu sebelum Rea bertemu seseorang di kantin kampus. Cowok bermata tegas dan tajam, berkulit putih, tinggi, dan tampan.
Hari itu Rea,karena keasyikan bicara sambil berjalan dengan Nana,ia tidak melihat seorang cowok ada berjalan dengan arah yang berlawanan dengan mereka. Tanpa sengaja Rea menabraknya.
”Maaf...” ucap Rea. Dan untuk beberapa detik lamanya mereka saling tatap.
Sejak saat itu Rea mengidolakan cowok itu. Mencari tahu tentang si cowok.
Cowok itu bernama Egi. Anak bahasa inggris. Angkatan 2006. Satu tahun lebih dulu dibanding Rea. Hal yang tidak terduga oleh Rea dan Nana adalah cowok itu ternyata juga mencari tahu tentang Rea.
Dilema. Itu yang Rea rasakan. Karena tanpa disadarinya ia telah begitu akrab dengan Egi. Selalu ditolong Egi kalau ada kesulitan. Membuat Rea merasa nyaman.
Bimbang,sebuah rasa yang muncul tanpa diminta. Saat ia bertemu Egi,ia teringat pada Erik. Saat ia bertemu Erik,seperti liburan kemarin, pikirannya justru melayang pada Egi.
Kebimbangan itu semakin menjadi ketika Egi,menyatakan cintanya hari itu. Di sebuah taman di dekat danau. Taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna kuning. Dan danau yang berwarna kebiru-biruan. Sangat indah.
”Bunganya mekar dengan indah ya?”
Rea mengiyakan sambil terus menatap hamparan bunga-bunga itu dengan penuh kekaguman.
”Bisakah kau memekarkan bunga di hatiku?”
Rea menoleh ke arah Egi dengan tatapan penuh tanya.
”Sejak pertemuan kita di kantin, pikiranku selalu dikelilingi sosokmu. Sekuntum demi sekuntum bunga-bunga menghiasi taman-taman hatiku. Dan itu karenamu. Karena itu bersediakah kau memekarkannya dengan menajdi kekasihku?”
Rea terdiam. Seketika sosok Erik hadir dibenaknya. Ia tertunduk. Ia tak mau kehilangan Erik,tapi tak mau kehilangan perhatian Egi. Juga kebaikan dan kelembutan sikapnya.
”Kau sedang bimbang?”
Rea mengangkat wajahnya. Terlihat Egi tersenyum padanya dengan tatapan lembut. ”Berarti amsih ada harapan kan? Aku akan menunggu. Kapanpun kau siap menjawab perasaanku.”
”Kak, aku...”
”Sudah sore,” potong Egi. ”Sebaiknya kita pulang,” sambungnya.
~*~
Siang yang terik. Tapi bagi Egi itu adalah hari termendung yang pernah dilihatnya. Karena hari itu, ketika ia mengantar Rea pulang ke kostnya,Rea telah memberikan jawabannya.
”... Tidak bisakah kita seperti ini saja, Kak? Aku senang bersama kakak. Tapi aku...”
Egi menghela napas.
”Maafkan aku, Kak.”
”Apakah ada sikapku yang kurang kau sukai hingga kau menolakku?”
Rea menggeleng.
Egi meremas jemari Rea dengan lembut.
”Aku benar-benar mencintaimu Rea. Kurasa kau tahu itu.” Ada kilatan kecewa di mata Egi.
”Maafkan aku kak. Benar-benar maaf.”
”Lagi apa?” sebuah suara mengagetkan Rea. Ia segera melepaskan genggaman tangan Egi.
”Kau siapa?”
”Erik. Pacarnya Rea.”
Egi mendengus. ”Jadi ini alasannya?”
Rea hanya diam.
”Apa dia lebih baik dariku?”
Tak satu katapun keluar dari bibir Rea.
Egi menatap Erik tajam. Beberapa detik kemudian dia pergi. Yang rea tak tahu bahwa setelah hari itu, kehidupannya akan berubah.
~*~
”Kau lihat saja, aku bisa membuatmu datang sendiri ke sisiku, Rea.” Ucap Egi dengan penuh keyakinan 2 hari kemudian. Dan keesokan harinya kabar Erik dipenjara atas tuduhan merampok tas seseorang sampai ketelinga Rea. Juga Nana yang tiba-tiba mendapat surat pemberhentian dari pihak universitas.
Rea segera pergi ke kantor polisi setelah menenangkan Nana yang sangat panik dan sedih. Terlihat Erik yang berada di balik jeruji besi.
”Kak...” panggilnya tertahan.
”Rea... Percayalah padaku, aku tidak akan melakukan hal itu.”
Rea mengangguk.
~*~
Rea melangkah keluar dengan lesu menuju kostnya.
Di ddepan kost, seseorang menghalangi langkahnya dengan berdiri di depannya. Rea mendongak. ”Kak Egi...” lirihnya.
”Aku sudah dengar tentang Erikmu.”
”Aku percaya padanya, Kak.”
Egi mengepalkan tangannya. ”Begitu...” gumamnya.
”Hm-mm... Kata polisi tinggal menunggu saksi kunci bicara, baru akan terlihat kebenarannya.”
”Saksi itu adalah aku.”
”Kalau begitu...”
”Aku bisa membuatnya bebas atau di penjara.” Egi tersenyum licik. Jantung Rea seakan berhenti berdetak.
”Jaga temanmu. Hari ini dia sudah dikeluarkan dari kampus kan?”
”Apakah...”
”Ah...kurasa kau belum mendengar kalau ibu kostmu tidak berlangangganan kue lagi padanya.”
”Kau...merencanakan semua ini?”
Egi tersenyum simpul. ”Mungkin besok teman terbaikmu akan dikeluarkan dari kostnya.” Setelah berkata seperti itu ia brlalu.
~*~
Benar saja. Nana pagi-pagi sekali menghubunginya. Katanya tanpa alasan yang jelas dia dikeluarkan dari kost. Ayah dan ibunya juga dipecat dari tempat kerja mereka.
Rea segera menuju rumah Egi. Rumah yang begitu megah dan tampak perkuasa. Rumah pengusaha nomor satu di negeri ini.
”Bisakah kau hentikan kegilaanmu sekarang?” tanya Rea langsung saat Egi datang menemuinya yang diminta menunggu di ruang tamu.
”Hanya kau yang bisa menghentikanku. Kalau kau tetap di sisinya, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada orang terdekatmu.” Egi tersenyum penuh angkuh.
”Maksud kakak?”
”Asal kau mau selamanya berada di sisiku, aku berjanji semuanya akan kembali ke keadaan semula.”
Hening. Sekian menit lamanya akhirnya Rea bersuara.
”Baiklah... Tolong hentikan sekarang.” suara Rea bergetar. Tapi Egi tak peduli.
”Kau bisa pegang janjiku seperti halnya aku memegang janjimu.”
~*~
Di kantor polisi. Rea menemui Erik.
”Kak... kita akhiri saja.”
”Apa maksudmu?” Erik kebingungan.
”Kau dan aku,sebaiknya kita akhiri saja.”
”Kenapa...?” suara Erik tercekat.
”Kau tidak pantas untukku.”
Luka tergambar jelas di mata Erik.
”Aku tidak sudi berhubungan dengan seorang kriminal,” sambung Rea.
”Bukankah... Bukankah kau percaya padaku.”
”Tidak! Aku... tidak bisa mempercayaimu lagi. Kau sudah bukan hal yang penting untukku sekarang.”
Rea berbalik. Air matanya mengalir. Ia lantas melangkah. Diikuti langkah Egi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
”Aku akan membenci kakak seumur hidup.” Kata Rea dingin.
”Tidak apa-apa.” Sahut Egi. ”Asalkan kau punya rasa terhadapku,tidak apa-apa.” Sambungnya sambil membukakan pintu mobil untuk Rea.
~*~
Keadaan kembali seperti semula. Surat pemberhentian nana di cabut, sehingga ia bisa kuliah laggi. Ia juga kembali ke kostnya. Ibu dan ayahnya pun kembali dipekerjakan. Ibu kost Rea juga sudha kembali berlangganan lagi. Dan erik pun di bebaskan.
Rea tiba di kost setelah di bawa Egi mengelilingi kota. Rea turun dari mobil sebelum Egi sempat membukakan pintu untuknya. Langkahnya terhenti ketika mendapati Erik tengah duduk di teras kostnya.
”Rea..” Erik tersenyum. ”Aku be..bas.” kata Erik tertahan saat mendapati sosok Egi.
”Kenapa ke sini? Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu!”
”Aku...”
Rea berbalik. ”Kita pergi,” katanya pada Egi. ”Kalau lama-lama di sini aku bisa muntah.”
Rea melangkah. Tapi Erik segera mencengkram lengannya.
”Apa maksud semua ini?”
”Seperti yang kakak lihat aku memilih Kak Egi.” Rea memandang tajam Kak Erik. ”Dia jauh lebih segalanya di banding kakak.”
Perlahan,cengkraman Erik melonggar. Rea segera melangkah. Masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju.
Rea memandang bayangan Erik lewat kaca spion dengan berurai air mata.
~*~
Satu tahun berlalu. Meski bersama Rea selalu menjawab Egi dengan kata-kata singkat dan dingin. Bahkan terkadang tidak mau bicara sama sekali. Awalnya Egi bertahan. Tetap bersikap baik. Tapi lama-kelamaan ia bosan.
Nana, yang semula tak habis pikir kenapa Rea memutuskan Erik dan memilih Egi, yakin kalau Rea tak bahagia. Rea telah ebrubah jadi gadis pemurung. Sering terlihat pucat dan lesu.
Setiap kali ditanya,Rea hanya berkata dirinya baik-baik saja.
Egi yang jengah dengan sikap Rea kembali mengancam Rea kalau dirinya menyakiti orang yang dekat dengannya. Tapi Rea justru balik mengancam dengan berkata, ”Lakukan saja jika kau ingin melihatku benar-benar mati.”
Erik tak mengindahkan ancaman Rea. Dia mengusik kehidupan Erik dan keluarganya.
”Kau yang melakukannya?” tanya Rea lewat telpon saat mendengar kabar tentang keluarga Erik.
”Akan kuhentikan jika kau berhenti bersikap dingin padaku.” Kata Egi dengan santai. ”Sekarang kau di mana? Akan ku jemput dan kita bicarakan masalah ini.”
”...”
"Halo? Rea?"
Rea tak menjawab. Juga menutup telpon.
5 menit kemudian terdengar lirih suaranya,"Aku... membencimu..."
Tak lama kemudian pandangannya berkunang-kunang.
Bruk!
Egi terdiam. Kecemasan menyelimuti hatix. Segera ia mencari Rea. Dari kampus kemudian ke kostnya.
"Rea? Re? Rea? Jawab aku! Apa kau di dalam?" panggil Egi sambil mengetuk pintu kamar dengan berisik.
Tak ada jawaban.
Ia mencoba menghubungi hp Rea. Tersambung. Deringnya terdengar dari kamar Rea.
"Mungkin lagi tidur, Kak." kata tetangga di samping.
Egi mundur ke belakang dan mendobrak pintu kost Rea.
Pintu berhasil di dobrak.
Terlihat sosok yang tak sadarkan diri dengan tangan kiri berlumuran darah.
~*~
Empat hari sudah Rea di rumah sakit. Dokter mengatakan masa krisisnya telah lewat. Ia tertolong.
Nana dan Egi menghela napas lega. Atas kuasa Egi,sejak 4 hari yang lalu Erik dilarang masuk ke rumah sakait.
Keesokan harinya Rea sadar. Tetap tak ingi berbicara dengan Egi.
Setelah kondisinya pulih Egi membawa Rea ke taman dekat danau. Tempat dia menyampaikan perasaannya ke Rea dulu.
Dengan wajah bertekuk Rea berdiri di antara bunga-bunga yang kuning itu.
Ekspresi Rea berubah ketika melihat ada Erik di taman itu. Pandangan keduanya bertemu.
Egi menghampiri Erik dan membawanya mendekati Rea. Ia manyatukan tangan keduanya.
"Kau..."
"Maafkan aku," kata Egi, "sudah memisahkan kalian. Aku pikir aku bsia baik-baik saja meski hatinya bukan untukku. Aku pikir aku bisa membahagiakannya. Ternyata... Maafkan aku." Egi memandang Rea,kemudian berkata, "Sekarang aku tahu, kau bahagia jika bersamanya." Egi tersenyum lalu berbalik meninggalkan Erik dan Rea.
***
Rea menatap sosok di depannya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya.
Akhirnya keduanya bersama kembali. Kali ini,mereka tidak akan berpisah lagi.
~The End~
No comments:
Post a Comment