Friday, August 6, 2010

cerbung: Kenangan tanpa nama 2

Chapter 2

Crazy of Love

-Rina-

Hampir sebulan yang lalu. Sabtu sore. Aku berjalan riang sambil memakan es krimku. Aku melangkah sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan ku lakukan bersama Leo. Senyum merekah di wajahku. Dia adalah kekasihku. kekasih terbaik yang pernah aku punya. Ia riang, ceria, ramah, penyayang, tulus, dan baik hati. Senyumya selalu menghangatkan jiwaku. Tawanya mampu menyirami kegersangan yang bertahta di hatiku.

Saat sedang asyik memikirkannya, handphone ku berbunyi. Di layar tampak fotonya yang sedang tertawa. Aku menjawab panggilannya.

”Hai, Rina...” sapaan seperti biasanya. Suara renyahnya mengukir sebuah senyum di bibirku. Ah, selalu begitu.



I can’t know what happiness is

There can’t be a happiness without you

Just don’t do farewells... just be my side

There can’t be a happiness without you

I now know that love is an important thing

There can’t be love without you

(Haeng bok ee ran by Hyun Joong~ ost.BBF)



”Hai...” sahutku.

”Kau di mana?”

”Jangan melangkah lagi.”

”Eh?”

”Aku ada di depan kakak sekarang?”

”Benarkah? Di mana?”

”Coba palingkan wajah kakak ke kanan.”

Leo memalingkan wajahnya ke kanan. Aku melambaikan tanganku. Ia balas dengan senyum lebarnya yang khas sambil menutup telpon.

Aku menyebrangi jalan. Dia juga begitu.

Kami sudah dekat ketika....

DOR!

Sebuah peluru mengenai Leo.

Saat aku hendak mendekat,kudengar sebuah tembakan lagi. Sakit! Kurasa sakit di lengan kiriku. Aku terdorong ke belakang. Pandanganku kabur. Kemudian gelap. Samar kudengar rintihan.

”Rina...”

Suara Leo. Aku ingin membuka mata tapi tak bisa.

~*~

-Hendra-

Seseorang berambut sebahu, ceria, dengan sebuah senyum selalu terukir di bibirnya, dan suaranya yang indah setiap kali berkata membuat hatiku bergetar. Tanpa ku sadari, entah sejak kapan aku telah jatuh cinta padanya. Perasaan tidak ingin kehilangannya mengganggu hari-hariku.

Pertemuanku dengan gadis itu ketika ia membeli es krim di sebuah mini market. Saat itu aku hendak membeli minuman dingin. Ia tak sengaja menabrakku yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dengan segera ia meminta maaf. Membungkukkan tubuhnya beberapa kali. Biasanya, tak peduli perempuan atau laki-laki, siapapun yang berani menubrukku, aku pasti langsung marah. Tapi kali itu berbeda. Mungkin karena suara merdunya, mungkin nada pernyesalan yang di tunjukkannya dari permintaan maafnya, mungkin karena matanya yang ketakutan kalau-kalau aku bentak, atau mungkin... sudahlah. Aku tak tahu sebabnya. Yang jelas tiba-tiba saja saat itu emosiku menguap. Pergi entah ke mana.



Baby, why are you doing this to me

Who’s fallen in love with you?

Don’t step back, saying you’re afraid

Just leave it up to me

How’s that, my lady

(Ring Ding Dong by.SHINee)



”Kau sendiri tidak apa-apa?” tanyaku tanpa sadar.

“Eh? Iya. Tidak apa-apa.” jawabnya sambil tersenyum. Kurasakan sejuta mawar mekar di hatiku.

Aku segera memalingkan wajah. Masuk ke dalam minimarket tersebut. Meninggalkan dia yang menatapku dengan bingung. Aku tak peduli. Tapi detik berikutnya ku sadari aku menyesal. Saat aku berbalik, sosoknya sudah tak ada.

Aku melangkah keluar. Kudapati dia yang masuk ke sebuah mobil. Tanpa berpikir panjang aku mengikutinya.

Hampir tiga bulan setelah pertemuan itu. Dan selama itu pula aku mengikutinya. Menyelidiki semua kegiatannya. Mengikuti ke mana saja dia pergi. Sampai suatu ketika aku tahu mobil yang selama ini mengantar dan menjemputnya bukanlah mobil keluarganya, melainkan kekasihnya.

Perasaanku jadi aneh. Ada marah, benci, kesal, jengkel, cemburu, bercampur jadi satu. Ingin sekali kulenyapkan laki-laki yang selalu bergandengan tangan dengan pelangiku. Begitu juga dengan laki-laki yang menebar pesona padanya serta mengganggunya.

Suatu sore menjelang malam, Rina, begitu nama gadis itu, berjalan sendiri menuju toko tak jauh dari rumahnya. Saat ia pulang ku lihat dua orang pria mabuk menghadang jalannya. Ia tampak ketakutan. Sebelum aku sempat menolongnya kekasihnya yang kebetulan lewat (mungkin berniat berkunjung ke rumahnya) sudah menolongnya. Pria mabuk itu lari setelah di pukul olah laki-laki itu yang belakangan ku tahu bernama Leo.

Tapi aku belum puas. Aku mengejar dua pria mabuk tersebut dan menghajar mereka habis-habisan. Ku keluarkan pisau yang terselip di sakuku. Ku arahkan ke mereka.

Tanpa peduli mereka hidup atau mati, aku meninggalkan mereka. Salah mereka karena telah mengganggu Rina-ku.

Hari ini aku menatap layar laptopku sambil memainkan pistol di tangan kananku. Di sana tampak wajah Leo. Aku tahu tatapanku penuh kebencian padanya. Benci karena dia yang di pilih oleh Rina.

Kemudian aku melangkah. Mengambil jaket hitamku juga kunci mobilku.

Aku menunggu di sisi jalan. Aku tahu ini adalah tempat biasa mereka kencan. Pistol melekat erat di tangan kiriku.

Sepuluh menit kemudian kulihat Rina. Ia melambai ke seberang jalan. Leo tampak tersenyum lebar. Ku keluarkan pistolku. Senyum itu akan sirna sekarang.

5, 4, 3, 2, 1....

Dor!

Peluru di pistolku mengenai bahu kirinya.

Di dalam mobil aku tersenyum puas.

~*~

-Angga-

Perasaan sayang bisa berubah jadi benci. Itu yang kurasakan saat ini. Itu semua bersumber dari gadis yang hingga kini masih ku cintai. Rina.

Ia, saat aku benar-benar mencintainya, memutuskanku. Mengatakan bahwa aku terlalu mengekangnya. Over protective. Selama bersamaku ia merasa tak bahagia.

Aku tahu itu. Dan aku berusaha. Semampu dan sekuat tenagaku. Tidakkah ia sadari itu?

Padahal aku sudah bilang padanya, ”Mari kita cari bahagia bersama-sama”. Saat itu ia mengiyakan.

”Meski lelah, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku!” ia mengangguk. Lantas menunjuk kelingking kanannya padaku. Kebiasaannya ketika berjanji. Seperti anak kecil. Tapi aku menyukai hal itu.

Aku mengikat kelingkingku dengan kelingkingnya. ”Ku pegang janjimu!”

Janji itu, mungkin hanya sebuah angin lalu baginya. Tak perlu dipenuhi. Tidakkah ia sadari kalau dialah yang membawakan harapan, bahagia, dan cinta padaku yang selalu sendiri? Tidakkah ia berpikir seperti aku, bahwa dirinya terlahir untukku. Dan aku terlahir untuknya. Meskipun aku mati, jika lahir kembali aku pun kembali jatuh cinta padanya.



It’s you

I don’t need anyone else, it’s only you

Even if you ask again, it’s only you

Even if you already have another lover

I can’t forget you

(It’s You by. Super Junior)



Tidakkah ia pikir bahwa dirinya adalah yang pertama juga terakhir yang kucintai di dunia ini??

Aku tanyakan padanya lewat tatapan mata saat kata putus itu terucap di bibirnya. Ia hanya menunduk dan berkata, ”Maaf... Maaf, Ngga. Benar-benar maaf...” ia membungkuk. Kemudian menatapku. Lantas pergi tanpa mengatakan sepatah katapun!

Apakah ia tahu, bahwa setelah hari itu aku memikirkannya. Nyaris gila. Membayangkan dia yang duduk di kursi sepan meja kerjaku. Kenangan-kenangan lain yang tertinggal menggeliat di otakku. Aku benar-benar merindukannya.



How can I forget all the special memories of you?

I still remember, my little princess

What I’m feeling must be love

It’s hard to hide it

When a smile appears on my face

I start to miss you

Before the day even ends

What should I do?

(My Little Princess by. dbsk)



Aku ingin menjadi angin yang bisa memeluknya dengan bebas. Menjadi bumi di mana ia pijak sekarang. Aku ingin dia kembali padaku. Aku ingin dia tak melupakanku.

Aku berdoa. Tapi doaku tak terkabulkan. Ia justru berlari ke orang lain. Berlari pada laki-laki yang bisa menatapnya dengan lembut lewat mata teduh yang di milikinya. Lelaki yang bisa membuatnya tertawa.

Aku tahu, selama denganku ia tak pernah tertawa seperti bersama laki-laki itu. Ia tak pernah tersenyum selebar itu. Aku tahu aku terlalu kaku untuknya. Tapi aku benar-benar mencintainya. Bahkan mungkin lebih dari laki-laki itu. Lebih dari sinar mentari yang sering kulihat. Lebih dari suara yang kudengar. Lebih dari udara yang kuhirup!



Tonight on the same day

It feels like you are here

I’m calling you again like a fool

(When We Will be Together by. dbsk)



Rina, gadis itulah yang melelehkan salju yang membekukan hatiku, tapi kemudian dia juga yang menurunkan salju. Membuatku kembali beku. Jadi kurasa cukup adil jika aku tak bisa memilikinya, maka orang lain pun tak bisa memilikinya juga.

Aku memainkan pistolku. Di gang sempit yang cukup tersembunyi aku menanti kehadirannya. Ia yang seperti biasa akan bertemu dengan laki-laki itu di ruas jalan ini.

Lima menit menunggu. Aku melihat sosok laki-laki hangat itu, Leo. Ia tampak tersenyum lebar ke seberang jalan. Pasti dia melihat Rina.

Benar saja. Di seberang sana ku lihat Rina melambai. Lalu melangkah mendekatinya sambil tersenyum gembira.

Aku mengarahkan pistolku. Kemudian melepaskan pulurunya. Ku lihat Leo roboh. Apakah peluruku mengenainya? Bukankah seharusnya mengenai Rina?

Bruk!

Rina roboh ke belakang. Darah mengalir dari lengan kirinya.

~*~

Leo memegang bahu kirinya. Sambil meringis ia bergeser mendekati Rina.

”Rina...” panggilnya lemah.

Rina tak menjawab. Matanya tertutup. Leo berusaha memanggil sekali lagi tapi tenaganya telah habis. Ia pingsan.

Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu terlihat kaget. Hendra yang baru saja berada di antara mereka langsung mendekat. Tatap sedihnya tertuju pada Rina.

Perlahan ia mendekat. Mengangkat tubuh Rina. Lantas membawanya ke mobilnya. Tak peduli dengan sosok Leo yang terkulai tak berdaya di aspal.

Orang-orang yang melihat Hendra membawa tubuh Rina pergi berpikir kalau Hendra adalah kenalannya. Mereka fokus pada Leo. Seseorang di antara mereka langsung menelpon ambulan. Lima menit kemudian ambulan datang dan membawa Leo.

Sementara Angga, ia telah pergi sebelum sempat melihat Hendra pergi membawa Rina.

***

comment lagi ya...

No comments:

Post a Comment