Hahai!!!
Author datang lagi,wkwkwk.
Moga-moga kalian suka dengan cerita yang ini ea ^^
Inspirasi saat teringat beberapa film. Hehe...
*author: cengengesan*
Langsung aja ea
Happy reading ^0^
Title: Mungkin ini takdir
Author: Imah Hyun Ae
Disclaimer: imajinasi saya 2 hari lalu
"Mungkin Ini Takdir"
Sakit. Hatiku,ada satu luka baru tertoreh setelah 6 kali ini tak sengaja ku dapati dia jalan dengan seorang cewek cantik berambut panjang yang belakangan kutahu bernama Mella. Anak dari SMA Putri.
Aku hendak menemuinya ketika tak sengaja kudengar mereka menyebut-nyebut namaku.
Aku menatapnya di sudut ini. Bersembunyi. Masih berusaha tak percaya dengan apa yang dia katakan pada teman-temannya barusan.
"Kalau kau merasa begitu, kenapa tak kau katakan saja padanya? Aku rasa dia akan mengerti?"
Ku lihat dia menggeleng. "Mana boleh begitu! Sebagai laki-laki yang baik,bukankah aku seharusnya tetap di sisinya?" katanya.
"Dan diam-diam berhubungan dengan gadis lain di belakangnya? Itu jauh menyakitinya!" sahut Joni.
Dia terdiam. Semakin membuat nyeri hatiku.
"Seandainya dia yang memutus, akan lebih baik." lirihnya. Satu jarum menusuk dalam hingga ke palung hatiku.
Hening sesaat.
"Bagaimana dia bisa memutusmu kalau kau masih bersikap baik padanya?" kali ini Hendra bicara.
"Aku...Aku hanya tidak ingin di pandang jahat karena meninggalkannya ketika dia sakit."
Herry mendengus. "Apa bedanya dengan diam-diam berhubungan dengan gadis itu?"
"Seandainya kau pernah ada di situasi sepertiku, kau akan memahami posisiku!"
"Kevin?" panggil Joni.
"Ng?" Kevin mendelik.
"Apa Mella tahu kau masih bersama Hana?" Jono bertanya hati-hati.
"Ya." Kevin mengangguk. "Ku ceritakan padanya, dan dia bisa mengerti."
"Dia benar-benar menyukaimu rupanya." desis Yano.
"Aku pun begitu mencintainya." Lirih Kevin.
Jantungku juga hatiku terasa sakit. Dia yang selalu terlihat baik dan peduli ternyata...
Aku berjalan perlahan meninggalkan mereka. Tak ingin mendengarkan kelanjutan pembicaraan mereka.
Dulu q pikir aku seberuntung Aya (dorama One Litre of Tears) dan juga Kouru (di film Taiyo No Uta), atau seperti Song Hye Kyo di dramanya Endless Love. Atau di filmnya My Girl and I.
Tapi kini aku tahu, aku tak seberuntung mereka.
Ku tutup rapat bibirku, menahan agar air mataku tak jatuh.
-------
"Hana?" panggil Kevin ketika aku masih bergeming di kursi sampingnya.
"Kau baik-baik saja?" ia terlihat cemas. "Apa hatimu kembali sakit?"
Berhenti bersikap peduli padaku! Jangan bohongi aku lagi, Kevin! Tunjukan saja betapa lelahnya kau menjagaku!
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?"
Aku menatapnya. Mencari tahu apakah dia benar-benar tulus peduli padaku.
Apa aku yang harus melepasmu lebih dulu? Apa aku bisa, Vin?
Kevin mengangkat alisnya. Bingung. "Kenapa?"
Aku menggeleng. Lalu menghela napas untuk cegah air mataku yang hendak jatuh.
"Bagaimana... kalau kita jalan-jalan saja?" tawarku. Kupaksakan diri untuk terlihat ceria.
Mungkin untuk yang terakhir kali, Vin, batinku.
Kulihat matanya bicara, 'lagi?'.
"Akhir-akhir ini kau hobi jalan-jalan, ya?" ia tersenyum. Matanya tertuju pada HP-nya, menulis sesuatu.
"Aku takut, aku tak bisa bersamamu lagi nanti."
Tangannya seketika berhenti di atas keypad.
"Maaf kalau selama ini aku terlalu egois padamu, Vin."
"Eh? Tidak. Kau tidak egois Hana." Kevin tersenyum lembut. Lagi-lagi dadaku terasa sakit, sadar bahwa itu hanya senyum palsunya.
"Aku janji setelah ini kita pulang. Kau bisa pergi dan melakukan apa yang kau suka." :)
"Kau ini." dia mengacak-acak rambutku.
Aku menatapnya. Kevin, apa jika aku tak sakit kau akan tunjukan isi hatimu yang sebenarnya?
--------
Kami menuju Sungai kesukaanku. Tak ada yang kulakukan di sana.
Hanya memandang sungai sambil merebahkan kepalaku di bahunya. Dia diam saja. Terlihat jenuh.
"Vin?"
"Hm?" ia berusaha terdengar antusias.
"Maaf, sudah merepotkanmu."
Dia mengangguk.
Kukeluarkan HP-ku dan sedikit menjauh darinya.
"Ada apa?"
"Boleh aku memfotomu?"
Dia mendengus setengah menahan tawa.
"Kevin?" panggilku. Dia menoleh.
Chep!
Aku mendapatkan pose terbaiknya.
Chep!
Chep!
Chep!
Aku terus memfotonya.
"Kau aneh." katanya sambil menghindari kamera HP-ku.
"Jangan menghindar, Vin. Kali ini saja, biarkan aku memfotomu sepuasku."
Dia tertawa,"Kenapa?"
"Agar aku bisa melihatmu ketika kau tak di sisiku."
"Hmf…ada-ada saja," gumamnya. Kemudian membiarkanku memfotonya sebanyak yang kumau.
"Sekarang kita foto sama-sama."
Aku meminta bantuan pada seseorang untuk memfoto kami.
Aku duduk di samping kanan Kevin dan membentuk setengah hati pada tangan kananku. Ku raih tangan kirinya. Memintanya membentuk setengah hati pula. Kemudian kusatukan dengan tanganku.
"Satu," orang yang memfoto kami mulai menghitung.
"Vin?"
"Hm?"
"Dua."
Aku menoleh ke samping kiriku.
"Aku mencintaimu..." bisikku. Kevin menatapku.
Aku mengalihkan pandanganku ke kamera lagi.
"Tiga."
Aku tersenyum lebar.
Chep!
Orang yg memfoto kami mendekat dan menyerahkan HP-ku. "Terima kasih."
Dia mengangguk dan berlalu.
Aku berdiri. Dan terjatuh. Tiba-tiba saja sakit menyerang hatiku. Aku mual seketika.
"Hana?"
Aku hendak menjawab. Tapi malah muntah. Berkali-kali. Darah membanjiri tangan dan bajuku.
"Kita ke rumah sakit!" Katanya lalu menggendongku. Membawaku ke mobilnya.
------------
Ini minggu ke dua aku di rawat di rumah sakit ini. Penyakitku sudah mencapai stadium 3. Cara untuk sembuh dari penyakit pengerasan hati ini satu-satunya adalah adanya donor hati untukku.
Kevin masih setia menungguiku. Namun, hari ini tak sengaja aku mendengar dia menelpon Mella.
"Maaf, Mel. Tapi kali ini pun kita tidak bisa jalan-jalan. Hana… dia masih di rumah sakit."
Senyap sesaat.
"Baiklah, ku usahakan di ulang tahunmu lusa, aku datang."
Senyap…
"Hm-m. Terima kasih atas pengertianmu. Bye."
Aku segera kembali mendorong kursi rodaku ke kamar rawatku.
----------
"Tak perlu menjagaku lagi, Vin!" kataku ketika di hari ulang tahun Mella dia menyempatkan diri mengunjungiku.
Aku sudah memutuskan.
"Eh?" ia tampak terkejut.
"Tak perlu mengkhawatirkankug."
"Apa maksudmu?" ia terlihat bingung.
Aku masih duduk di kursi rodaku tanpa menatapnya. "Aku tahu kau sudah lelah bersamaku. Aku tahu perasaanmu sudah bukan untukku. Maaf, karena baru menyadarinya sekarang. Dan.. Terima kasih banyak gomaweo karena masih bersabar padaku. Aku tak akan menyusahkanmu lagi, Vin." Aku membungkukkan tubuhku. "Terima kasih untuk segalanya, Vin."
Ia mematung di posisinya.
Aku mendongak. Memberikan senyuman 'Aku bai-baik saja' padanya.
"Aku benar-benar minta maaf..." lirihnya penuh sesal.
Aku menggeleng. "Mungkin ini memang takdirku. Jadi, jangan merasa begitu bersalah. Itu membuatku semakin sakit," lirihku.
"Ma-"
"Bukanx hari ini kau ada janji?" potongku.
Dia lagi-lagi terkejut.
"Jangan mengecewakannya, Vin." Ku alihkan pandanganku keluar jendela. "Pasti sekarang dia menunggumu dengan cemas."
"Benar-benar maaf…" bisiknya. Beberapa detik kemudian kudengar ia melangkah pergi.
Air mataku sudah jatuh sejak aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Dan setelah dia pergi, air mataq jatuh kian deras.
Ku buka foto yang sejak tadi kugenggam. Foto kami yang menyatukan tangan berbentuk hati di sungai waktu itu. Membuat isakku kian keras sekarang.
---end---
Bagaimana? Beri komentarmu ya? Jangan jadi ‘silence reader’! hehe ^^
No comments:
Post a Comment