Friday, August 6, 2010

cerbung: Kenangan tanpa nama 5

Chapter 5

Begin...



Hendra melepas jaket hitamnya. Mengambil kunci di saku celanya. Lantas menuju kamar Rina berada.

Ia membuka pintu itu. Rina berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Mungkin tidur, pikir Hendra.

Ia meletakan kalung yang di ambilnya di sisi kanan bantal Rina. Menatap gadis itu sesaat. Kemudian pergi.

Rina membuka matanya saat pintu kamar telah di tutup Hendra. Dia duduk sambil menghela napas. Pandangannya jatuh pada kalung bermotif sederhana yang ada di sisi kanan bantalnya.

Ia pandangi kalung itu. Kemudian mengalungkannya di lehernya.

Pandangannya beralih ke pintu. ”Terima kasih...” lirihnya.

Sementara Leo dan Angga masih di posisi semula. Menatap rumah Hendra dengan tatap tajam mereka.



Pagi kembali menyapa. Hendra kembali mengantarkan sarapan pagi untuk Rina. Rina memperhatikan Hendra dari tempat tidur. Tak sengaja ia melihat tangan kanan Hendra, memar dan terluka.

Rina menatapnya, berharap Hendra menjelaskan padanya kenapa tangannya sampai seperti itu. Tetapi Hendra justru memalingkan wajahnya. Tak ingin menatap Rina. Ia hendak melangkah pergi ketika tanpa sadar tangan Rina menahannya.



Every day and night with you

I take your hand

Every day every night everywhere

Now we feel connected and verified

Now, let the story begin



Every day and night with you

The heat and sparks form without cooling down

Every day every night everywhere

Now our contact increases

Now, you and I begin

(Begin by. DBSK)



Rina melepas perban yang membalut luka di lengannya. Ia balutkan pada tangan Hendra.

Hendra masih dengan posisi tak menatap Rina. Ketika balutan yang Rina buat selesai, ia langsung pergi. Rina hanya bisa menatap punggungnya yang lagi-lagi menghilang di balik pintu kamar itu.



Hendra menatap layar laptopnya. Tampak di sana sosok Leo yang masih berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Ia pikir Leo masih di rawat di sana. Segera saja ia menuju ke rumah sakit itu dengan sebuah pistol terselip di pinggangnya.

Tiba di rumah sakit, ia langsung mencari kamar Leo. Ia langsung menodongkan pistol. Ia yakin di balik tirai biru itu sosok Leo masih terkulai tak berdaya. Sayangnya kenyataan berbeda. Leo sudah tak berada di sana.

Segera saja ia berlari. Melajukan mobilnya ke rumahnya.

Sementara itu, Leo yang melihat Hendra yang keluar dari kediamannya segera beraksi. Ia masuk ke dalam rumah itu.

”Rina?!” panggilnya keras. ”RIN??!!!” teriaknya.

“RINA?!!”

~*~

-Rina-

Aku masih berbaring di tempat tidur ketika kudengar sebuah suara yang tak asing lagi.

”RIN!!!” panggil suara itu. ”RINA!!! Jawab aku??!!!” sebuah teriakan disertai ketukan pintu yang keras.

”Kak Leo...” lirihku. ”Apakah itu kau?”

”Rina?!!!” suara di luar menjawab. Benarkah itu dia...?

”Kak Leo!!!” sahutku keras sambil berlari menuju pintu. Menggedor-gedornya keras agar Leo tahu aku di sini.

”Rina, kau di dalam?”

”Hm-mm!”

”Tunggu sebentar.”

Ku dengar ia seeprti mencari sesuatu. Kemudian...

BUGHH!!! BUGHH!! BUGHH!!

Pintu perlahan terbuka. Ku dapati sosok Leo di depanku. Aku langsung lemas. Terduduk di lantai. Ku pikir aku tak akan bertemu dengannya lagi.

Leo memelukku. Hangat itu benar-benar nyata. Aku bukan bermimpi.

Ia melepas pelukannya. ”Ayo!!” katanya sambil menarik tanganku.

Pertama kalinya aku keluar kamar. Aku berhenti melangkah. Kuedarkan pandanganku. Dapat ku lihat segala isi yang ada di ruang tengah rumah ini. Lampu-lampu, rak-rak, dan sebagainya. Pandanganku terhenti pada sebuah foto. Hendra, nama itu tertulis di sana. Sebuah perasaan tak asing merasuki hatiku.



What if

I met you first

No, if I didn’t know you

These thoughts are useless

For I’m already living in the deeply set times of you

(What If by Super Junior)



Leo menarik tanganku lagi. Menuju pintu depan.

Namun langkah kami langsung terhenti ketika satu sosok bermata dingin menodongkan senjatanya. Leo mengangkat tangannya tanda menyerah.

Bugh!!!

Sosok itu memukul Leo dengan pistolnya. Cukup keras hingga mampu membuat Leo pingsan seketika.

”Jangan...” desisku sambil menghalangi. aku terdoromg dan duduk ketakutan.

Sosok itu langsung menarikku dengan paksa. Memasukkan ku ke dalam mobil BMW silver miliknya.

Dia bagian dari masa laluku. Orang yang pernah kucintai. Tapi bersamanya aku tak berhasil menemukan bahagia. Aku meninggalkannya. Mengabaikan, bukan, berusaha melupakan janji yang pernah kubuat padanya.

Tapi, dia semenakutkan sekarang. Dia yang kukenal dulu begitu menyayangiku meski tatap tajamnya membuatku kehilangan keberanian.



I still think of the times with you

But I must learn to let go

I can’t dwell on the past; it’s time to move on

‘Cause they are just nameless memories

(Memories without a name by Heo Young Saeng)



***

Epilog



Langkah Angga yang terseret menyadarkanku. Ia menodongkan pistolnya ke arahku.

”AAAAAAAAaaaaa....!!!!!!!!” aku berteriak ketakutan dengan mata terpejam.

DOR!!!

Persendianku lemas.

Tuk!

Sesuatu terjatuh ke tanah.

Brugh!!

Ku buka mataku perlahan. Terlihat olehku sosok Angga yang memegang dada kirinya. Pistolnya telah jatuh ke tanah.

Di belakangnya kulihat seseorang yang ku kenal, Hendra, menodongkan pistolnya. Dia masih hidup?

Kusadari air mataku mengalir untuknya.

Angga menatapku. Kali ini tatapannya sangat lembut. Kembali aku menagis tertahan saat ku dengar lirih katanya, ”Aku mencintaimu... selamanya... Rina...”



Even if you are far from where I am

If you should leave, you musn’t tell me

I may be a fool but, I will not forget you

Your back turned is something I will never want to see

(If You Can’t by Park Jung Min)



”Angga...” air mata mengalir dari sudut mataku. Angga terkulai tak berdaya. Satu hal yang ku tahu pasti, dia sudah tiada.

Hendra membuang pistolnya. Perlahan mendekatiku. Dia meringis sambil memegangi dada kirinya.

”Tidak apa-apa...”dia memelukku. Tangisku kembali pecah. ”Tenanglah...” dia mengusap rambutku lembut. Napasnya terdengar lelah.

Sirine polisi terdengar. Tak lama kemudian kulihat sosok Nata, sahabat Leo, datang.

***



Rina tak pernah mau masuk ke ruang rawat Hendra. Jika ia ingin melihat keadaan laki-laki itu dia hanya memilih menatap sosoknya dari luar kamar. Atau bertanya dengan suster yang baru keluar dari kamarnya.

Bukan ingin mengacuhkan. Hanya saja, dia perlu waktu untuk menata hati. Karena sebuah cinta, tanpa ia sadari, telah ia jatuhkan pada Hendra.

Hendra pun hanya mampu menatap sosok Rina. Dia tak berani mendekat. Merasa tak pantas.

Saat ini Rina menatap dua gundukan di depannya. Angga dan satunya Leo, dua orang yang pernah dicintainya ini dimakamkan di pemakaman yang sama. Rina mengunjungi mereka beberapa kali selama sebulan ini.

“Maafkan aku…” ucap Rina setiap kali berada di depan makam mereka.

***

Suatu hari di supermarket.

Duk!!!

Rina tak sengaja menambrak sosok di depannya.

“Maaf…” katanya segera.

“Aku… sengaja.” sebuah suara yang tak asing berasal dari orang yang berdiri di depannya.

“Eh?” Rina langsung mendongak. Dengan jelas ia melihat sosok di depannya.

Hendra?? Batinnya meneriakkan nama itu.

Ia lekas berlari.

Hendra mengejarnya.



please, do not go far away

please, do not go far away

where I can’t find you

do not go so far away

do not go so far away



It can’t happen like this

It can’t be

come back to me please!



To me please…



I beg of you…

don’t leave, don’t leave…

(If You Can’t by Park Jung Min)



Ia berhasil meraih tangan Rina. Ia menariknya ke pelukannya.

“Kau boleh membenciku. Tapi kumohon… jangan acuhkan aku…” bisiknya di telinga Rina. Bulir air mata menggenang di pelupuk mata Rina.

“Karena aku mencintaimu, ku mohon jangan acuhkan aku.”

Rina terisak sekarang. Memeluk erat sosok di depannya.



~TAMAT~

gimana?

No comments:

Post a Comment