Friday, August 6, 2010

cerpen: Satu Tangisan Terakhir

Title: One Last Cry

Update: 15 Maret 2010

Theme Song: One Last Cry –Yoochun version



“One Last Cry”

By Imah Hyun Ae



Chapter 1



My shattered dreams and broken heart

Are mending on the shelf

I saw you holding hands

Standing close to someone else

Now I sit all alone

Wishing all my feelings was gone

I gave my best to you

Nothing for me to do

But have one last cry

(One Last Cry – Yoochun version)



-Angga-

Menetes air mataku

Saat ku sadari cintaku jatuh padamu

Pada orang yang tak acuhkanku

Jutaan resah terangkai karenamu

Hanya kertas putih yang sedia temaniku

Meski tetap tak bisa hapus sepiku



Ku tatap angkasa yang menaungiku. Berusaha sembunyikan bulir air mata yang hendak jatuh. Jika bertemu dengan orang yang dirindukan selama ini, akankah kalian melakukan hal yang sama denganku? Menatapnya, berbicara sesaat saja lalu pergi? Mungkin tidak. Mungkin ketika kalian bertemu dengannya kalian akan tetap berdiri di depannya. Tak akan biarkan waktu berlalu lagi tanpanya. Mungkin juga kalian akan memeluknya. Mengatakan betapa rindunya kalian padanya. Setelah itu, sambil menangis haru, kalian menggandeng tangannya.

Aku tidak seperti itu. Akh, sebenarnya ingin. Tapi itu tidak mungkin. Dia, sudah terlalu jauh untuk kusentuh. Bahkan untuk sekedar didekati pun kini tak bisa lagi.

Setetes air mata mengalir di pipiku. Aku teringat pertemuanku dengan orang yang kucintai ini. Yang kucintai dari dulu hingga kini dan mungkin hingga aku tak bernafas lagi.

***

Aku amat sangat malas ke sekolah. Tak ada yang menarik. Hanya belajar, menatap papan tulis, mengerjakan soal, atau berdiskusi di depan kelas yang bagiku hanya menyulitkankku.

Seandainya bisa bekerja tanpa harus ada ijazah, aku pasti sudah sejak dulu berhenti sekolah.

Memang, di sekolah banyak juga teman-temanku. Mereka sama pemalasnya sepertiku. Jadilah, kami terlihat seperti sebuah gang yang menganggu anak-anak pintar di sekolah. Kami hobi membuat keramaian, tertawa keras tanpa alasan, dan juga menggoda gadis-gadis cantik di sekolah. Karena merasa paling tampan, aku sering dapat bagian menggoda noona alias kakak kelas kami.

Jangan kira cowok seperti aku ini tak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta. Dua kali aku mengalaminya, dan dua kali pula aku patah hati. Yang satu cinta pertamaku di SMP, perasaanku berakhir saat aku mendengar dia berkata pada temannya, “Mana mungkin aku menolak cowok setampan dia. Kaya lagi. Anak-anak lain pasti iri padaku.”

Aku patah tapi tak remuk. Karena setelah itu perasaan menyebalkan sekaligus menyenangkan ini datang lagi. Jatuh pada seorang gadis yang selalu sibuk dengan pelajarannya. Tak pernah menatap atau mencari perhatian seperti gadis-gadis lainnya. Seolah di dunianya cuma bukulah kekasihnya.

Aku memberikan cintaku padanya. Tanpa bersuara. Aku duduk di sampingnya, memperhatikannya yang asyik dengan bacaannya di perpustakaan ini. Aku akan berpura-pura membaca buku, dan ia tak mempedulikan kehadiranku. Aku suka caranya.

Aku menyampaikan perasaanku saat kelulusan. Mungkin terlambat. Mungkin hal ini kulakukan karena jika ditolak aku juga tak akan bertemu dengannya lagi. Pastinya aku memilih sekolah yang berbeda dengannya.

Perasaan itu benar-benar harus berakhir. Dia menolakku dengan alasaan dia ingin konsentrasi dengan sekolahnya.

Dan sekarang, aku dapat tantangan dari temanku. Merebut hati seorang kakak tingkat bernama Syntia yang sangat suka dengan permainan basket di sekolahku. Dia tak pernah melirikku, meski aku ini tinggi dan tampan. Kekuranganku cuma satu. Tak bisa main basket!

Untuk mendapatkannya, ya aku harus menjadi pemain basket yang mampu memukaunya. Jadilah, hari ini aku meminta bantuan seorang siswi yang sangat pandai dalam permainan itu di sekolahku. Kudengar dia akan jadi kapten basket putri untuk pertandingan musim panas nanti.

Aku menunggunya di tempat dia biasa memarkir sepedanya. Dia tak mengacuhkanku. Hmm… apa dia tak menyadari seorang cowok tampan sedang menunggunya.

Dia menuju sepedanya.

Aku benar-benar menampakkan sosokku. Berdiri di depan sepedanya.

Dia menatapku bingung.

“Mengenalku?” mustahil kalau tidak.

Dia menangguk, masih dengan tatapan bingung.

“Tidak ingin bertanya kenapa aku ada di sini?”

“Kurasa bukan hal yang harus kuketahui.” Jawabnya langsung menohok hatiku.

“Biasanya para siswi selalu heboh kalau aku ada dan menatap mereka. Apalagi kalau berbicara. Apa kau tidak kagum atau suka padaku seperti mereka?”

Aku tahu ini melenceng dari niat awal. Tapi keterkenalanku juga penting. Selama ini aku tak pernah mendapatkan cewek yang tidak peduli padaku seperti cinta keduaku dulu.

Dia tersenyum. “Aku memang tidak seheboh mereka. Tapi aku juga bukan perempuan munafik yang pura-pura tak peduli padamu untuk mendapatkan perhatian lebih darimu. Kau mau tahu perasaanku sekarang?”

Dia mendekat. “Aku amat sangat gembira.” Kata-katanya berbeda dengan mimik wajahnya. Terlihat sekali dia mengejekku.

“Boleh aku lewat sekarang?” dia memegang stang sepedanya.

Perempuan ini!!!!

“Kenapa?” tanyanya melihatku yang melototinya.

“Kau barusan mengejekku, kan???”

“Ha? Apa ‘boleh aku lewat’ itu sebuah ejekan?”

Dia tertawa. Dia menertawakanku!!

“Sudahlah Angga. Jangan mempersulitku! Aku tak mau para penggemarmu meremukan tubuhku. Jadi biarkan aku pergi sebelum mereka melihatku berbicara padamu ‘berduaan’ seperti ini. OK?”

Dia tersenyum sebal padaku.

“Kau pikir aku kemari karena suka padamu?? Jangan ge-er ya!!”

“Siapa yang ge-er? Aneh. Ya sudah. Biarkan aku lewat.” Dia menuntun sepedanya ke kiri. Tapi aku menahannya.

Dia melemparkan tatapan sebalnya padaku lagi.

“Maafkan sikapku tadi. Aku kemari ingin minta bantuanmu.”

“Bantuan?”

Aku mengangguk. “Ajari aku main basket!”

“Apa begitu caranya meminta bantuan?” dia mendelik tak suka.

Arrggh…Aku membungkukkan tubuhku. “Saya mohon bantuan Anda.”

Tak terdengar jawaban. Apa aku harus berlutut agar dia mau???

*_*_*_*_*

-Ria-



Tiba-tiba dia ada di depanku. Seorang cowok yang tak bisa diharapkan. Kerjanya malas-malasan, dan tebar pesona pada siswi di sini. Aku heran, cowok tak bisa di harapkan begitu kenapa sebegitu di sukai teman-temanku? Karena dia tampan?

Aku sadar hati kecilku menangguk. Aku juga menyukai ketampanannya. Tapi aku tak seheboh mereka. Juga tak berpura-pura tak suka. Aku menempatkan diriku di tengah-tengah.

Jujur saja, aku sangat senang melihat dia di depanku. Jarak kami begitu dekat. Aku gembira sekaligus takut. Takut para penggemarnya melihat kami. Siapa yang bisa menjamin besok hari kehidupanku akan tenang??

“Kau pikIr aku kemari karena suka padamu?? Jangan ge-er ya!!”

Siapa juga yang berpikir kau akan menembakku??? Aku tahu aku bukan tipemu! Kau kan cuma mau sama yang cantik dan berkulit putih, berambut panjang, itu kan semua ciri-ciri pacarmu. Bukankah karena melihat kekasihmu cantik makanya para penggemarmu tak masalah? Jika kau mendekati aku yang senang berada di bawah matahari ini apa kata penggemarmu?? “Ya sudah. Biarkan aku lewat.” Aku menuntun sepedaku ke kiri. Tapi dia menahannya. Arrghh… anak ini!!!

Aku melemparkan tatapan sebalnya padanya.

“Maafkan sikapku tadi. Aku kemari ingin minta bantuanmu.”

“Bantuan?”

Dia mengangguk. “Ajari aku main basket!”

Eh? “Apa begitu caranya meminta bantuan?” aku mendelik tak suka.

Dia diam sesaat, kemudian membungkukkan tubuhnya 90 derajat. “Saya mohon bantuan Anda.”

Untuk apa? Untuk memikat gadis lagi? Aishh… “Kenapa tidak meminta bantuan pada yang lain? Bukannya masih ada siswa yang bisa mengajarimu? Kenapa harus aku?”

Dia mendongak. “Itu… karena kau lebih hebat dari mereka. Lagipula ini tidak gratis. Akan kubayar.”

Aku berpikir sebentar. “Baiklah. Tapi aku hanya bisa mengajari malam hari. Jam 7. Bagaimana?”

“Ok. Tak masalah.”

“Baiklah. Besok kita mulai latihannya.” Aku hendak pergi ketika teringat sesuatu.

“O! Angga?”

“Ng?”

“Apa kau bisa menjamin, kehidupanku tidak akan dikacaukan oleh fansmu?”

Dia diam.

“Aku paham. Akan kucari tempat latihan yang aman. Temui aku di sini jam 7. Jika terlambat, aku tak akan membantumu.”

Aku mengayuh sepedaku. Meninggalkannya.



*_*_*_*_*

-Angga-



Aku melihat jam berkali-kali. Jelas-jelas di sana menunjukkan pukul 07.30 p.m. Aishh… bukannya dia yang bilang jangan terlambat. Apa jangan-jangan dia mempermainkanku? Awas saja. Aku sudah rela menolak ajakan main game online bersama teman-temanku hanya untuk latihan dan memenangkan taruhan itu.

Aku masih menunggu. Tapi tetap saja tak ada tanda-tanda dia datang. Menyebalkan.

Aku melangkah. Menuju mobilku. Sekarang sudah di depan gerbang sekolah.

Aku melihat kiri dan kanan. Siapa tahu dia datang. Tapi nihil. Dia tak ada. Dengan kesal kulajukan mobilku.

“ANGGGAAAAA!!!!”

Kudengar seseorang memanggil namaku. Aku melihat ke kaca spionku. Terlihat dia yang mengayuh sepedanya. Dasar gadis ini!!! Aku menghentikan mobilku.

Dia berhenti tepat di samping mobilku. Napasnya terengah-engah.

“Maaf… Benar-benar maaf… ban sepedaku bocor saat mau ke mari. Terpaksa ke bengkel dulu.”

Aku berdecak kesal.

“Kau pakai mobil? Kalau begitu pergilah ke jalan XXX di sana ada lapangan basket yang tak terpakai lagi. Kau bisa lari di sana sampai aku datang.”

“Awas kalau kau tidak muncul!!”

Dia mengangguk lantas mengayuh sepedanya.

Perlahan aku melajukan mobilku. Mendahuluinya ke tempat yang dia maksud.

Tempat yang cukup sepi. Dan terlihat tak terawat lagi. Aku memilih duduk di mobilku. menunggunya.



“HEI!!!” suaranya. Kulihat dia sudah di sampingku. Aku mematikan mp3 ku. Dan keluar mobilku.

“Bukankah sudah kubilang kalau sudah sampai kau lari dulu??” dia menatap galak.

“Untuk apa? Kau ingin aku mati kelelahan?!”

“Apa kau mau olah raga tanpa pemanasan??? Aku pelatihmu!! Lari!!!”

Aishh…

Dia melotot. Memaksaku. “Baiklah!”

Aku mulai berlari.

“Sepuluh kali putaran!!”

Aku melakukannya. Setelah selesai lari dia memberiku arahan bagaimana mendribel yang benar. Bolaku tak terarah. Pergi ke sana ke mari.

“Hei!!! Ikuti ke mana arah bolanya!!”

“Sudah kuusahakan!! Bolanya saja yang menjauhiku!!”

“Kau yang membuatnya menjauhimu. Lakukan lagi!!!”

Hanya itu yang kulakukan. Dia melatihku sampai pukul 9 malam.

“Latihanlah di rumah. Jika tak punya bolanya, belilah.”

“Iya..iya!” Ck! Kau pikir aku bodoh.

“Sampai jumpa besok di sini.”

“Awas kalau kau terlambat.”

Dia tak menjawab. Langsung mengayuh sepedanya.

~*~

Setelah bisa mendribel, dia mengajariku menggiring bola dan memasukkan ke ring. Aku sudah mulai mahir. Latihan beberapa waktu saja lagi, aku akan bisa memamerkan kehebatanku ini pada Syntia dan teman-teman. Haha, fansku pasti bertambah banyak.

Di sekolah, aku dan Ria bersikap tak saling kenal. Jika di luar sekolah tak sengaja bertemu, jika tak ada yang ngenal kami, baru aku menyapanya.

Belakangan aku tahu dia bekerja setelah pulang sekolah di sebuah rumah makan. Menjadi pelayan di sana. Dia bekerja sampai pukul 6 malam. Aku tak sengaja melihatnya sedang membuang sampah saat itu. Lalu kutanyakan padanya saat latihan. Dia bilang dia bekerja paruh waktu di sana. Sekedar untuk tambahan biaya sekolah katanya.

Dan di sini, dia pelatihku.

Kali ini Ria yang menjadi lawanku. Satu lawan satu. Dia masih lebih unggul. Ya jelas lah. Dia kan pemain basket.

Kami berhenti saat merasa lelah. Ku ambil air mineral yang kubawa dari mobilku. Kuberikan padanya satu.

“Terima kasih,” katanya sambil menyambut botol yang kuberikan.

Aku mengangguk dan duduk di sampingnya.

“Hampir sebulan aku melatihmu. Tidak terasa ya…” katanya. Matanya menatap langit. Ah, ternyata langit penuh dengan bintang.

“Mm-mm…” aku mengiyakan. Aku juga baru sadar kalau selama itu dia melatihku.

“Kau belum memberitahuku apa alasanmu ingin bisa bermain basket?” dia mengalihkan pandangannya padaku.

“Mmm… Cuma ingin menambah jumlah fansku.”

“Benarkah?” dia tersenyum tak percaya.

“Alasan lainnya, agar dia, bisa dibilang orang yang kusuka, memperhatikanku.”

Dia mengangguk dan membulatkan bibirnya. Aku tahu dia mendengarkanku, makanya tanpa diminta aku mulai berbicara lagi.

“Dia suka dengan pemain basket. Jadi meski aku memenuhi kriteria cowok idaman semua wanita…”

Ria mendengus tak terima.

“Hei! Itu benar. Apa kau tak berpikir aku ini tipe cowok ideal banyak wanita??”

“Tidak! Buktinya gadis yang kau suka tak memperhatikanmu!”

Ugh! Itu benar. “Benar. Tapi setelah ini, dia pasti memperhatikanku.”

Ria tertawa. “Terserahlah…,” katanya, “ Semoga kau sukses mendapatkan perhatiannya.” Dia menepuk pundakku. Kemudian dia berdiri. “Sudah malam. Kau sudah bisa sekarang. Tinggal latihan lebih sering saja. Kurasa aku tak perlu melatihmu lagi. Bisa kuambil honorku sekarang?”

Eh??? Apa maksudnya latihan darinya sudah selesai? “Tapi… aku belum begitu mahir.”

“Sudah kubilang latihan lebih sering.”

“Baiklah…” Jawabku lemah. Hei? Kenapa jadi sedih begini?

Aku berdiri dan mengambil dompetku yang terselip di kantong celana. Kuserahkan beberapa lembar uang ratusan ribu padanya.

“Eh? Tak perlu sebanyak ini!”

“Anggap saja sebagai rasa terima kasih.”

Dia tersenyum tipis. “Ok.”

Aku mengangguk dan melangkah masuk ke mobilku. Menutup pintu dengan lemas. Lalu melajukannya.

*_*_*_*_*

-Ria-



Aku menghela naps. Kutatap uang di tanganku. Lumayan untuk tambahan bayar sekolah nanti. Akan kumasukkan ke bank besok.

Aku hendak berterima kasih saat kudapati dia sudah melajukan mobilnya.

Ya sudahlah.

Aku mengayuh sepedaku. Tapi kemudian berhenti. Menatap kembali pada lapangan basket di belakangku.

Besok, aku sudah tak ke sini lagi. Semua akan kembali ke rutinitas semula. Setelah kerja, aku akan main sebentar di lapangan basket di taman, bukan di sini lagi. Kenapa… rasanya tak rela?



*_*_*_*_*

Esok harinya.

-Angga-



Aku merasa malas ke sekolah. Rasanya mood ku sangat buruk. Kesal karena saat aku ingin sendiri para cewek menggerumbungiku.

Aku berbicara dengan mereka sebentar. Kemudian pamit pergi.

Aku menuju lapangan basket. Syntia ada di sana. Menatap penuh kagum pada mereka yang bermain basket.

Aku menuju ke tengah lapangan dan ikut bermain. Awalnya mereka tak mau, mereka pikir aku masih tidak bisa. Tapi…, shut!! Bolaku masuk dengan mudah. Tidak. Itu hanya karena mereka meremehkanku. Sekarang aku bisa tersenyum bangga. Para cewek yang menggerumbungiku tadi berteriak histeris di pinggir lapangan. Baru kusadari ternyata mereka mengikutiku.

Syntia terlihat terkejut. Kudapati dia mulai kagum padaku saat melihat ternyata aku cukup lumayan dalam pertandingan.

Pertandinan berakhir. Aku menuju ke pinggir lapangan. Syntia mendekatiku.

“Hei, Ngga? Aku tak pernah tahu kalau permainanmu lumayan.”

Aku tersenyum merendah. Ekor mataku menangkap sosok yang tengah berjalan di koridor. Sudut matu tak mau lepas darinya.

Ia lewat di depanku. Senyum masih tersungging di bibirku. Ia berlalu begitu saja. Serasa ada keanehan di hatiku. Aku tahu apa arti dari rasa itu. KESAL.

Bukankah memang begitu biasanya? Di sekolah dia tak mempedulikanku. Kenapa harus kesal?

~*~

Pulang sekolah, perasaanku benar-benar belum membaik. Aishh….

Aku tengah di jalan, sengaja tak pulang, kuharap moodku membaik.

Tak sengaja aku melihat sosok yang kukenal. Kulihat dia sedang memeriksa sepedanya. Apa bannya bocor?

Aku merapat. Keluar dari mobilku.

“Ahhh… putus!” gumamnya.

“Apanya yang putus?”

Dia mendongak. “O?” dia terkejut melihatku. “Angga?”

Aku mengangguk ragu. Salah tingkah. “Ada apa dengan sepedamu?”

“Ah, rantainya putus. Rasanya di sebelah sana ada bengkel. Aku ke sana dulu.”

“Biar kutemani.”

Dia menatapku bingung. “Mobilmu bagaimana? Jalanan di sebelah sana kan sempit?”

“Ah? Benar juga.”

“Sampai jumpa.”

Dia berlalu. Dan lagi-lagi aku merasa tak seharusnya membiarkanya pergi.

~*~

Aku memainkan bola di halaman depan rumahku. Tapi pikiranku tidak fokus. Kuputuskan untuk ke tempat latihan. Siapa tahu dia di sana.

Dengan segera aku ke sana. Kosong. Tak ada dia.

Aku memainkan bola tak bersemangat.

Pukul 9 tepat kuputuskan untuk pulang.

*_*_*_*_*

-Ria-

Aku melihatnya berhasil bermain basket dengan baik. Apa dia sedang pamer dengan gadis yang dia maksud?

Kulihat Syntia mendekat. Berbicara sesuatu. Angga tampak tersenyum cerah.

Apa dia gadis itu? Sepertinya dia berhasil mendapatkan perhatian darinya.

Aku putuskan terus melangkah. Itu sudah bukan urusanku.

~*~

Pulang sekolah aku menuju bank. Memasukkan uang yang diberi Angga tadi malam. Saat mau ke tempat kerjaku, rantai sepedaku putus.

Sebuah suara menegurku. Aku mengenal suara itu. Dengan ragu aku mendongak. “O? Angga?”

Dia mengangguk. Terlihat salah tingkah. “Ada apa dengan sepedamu?”

“Ah, rantainya putus. Rasanya di sebelah sada ada bengkel. Aku ke sana dulu.”

“Biar kutemani.”

Aku menatapnya bingung. “Mobilmu bagaimana? Bukankah jalanan di sebelah sana sempit?”

“Ah? Benar juga.”

“Sampai jumpa.”

Aku berlalu. Tapi kutahu hatiku menjerit kegirangan. Kupikir setelah latihan dia akan menganggapku orang asing. Ternyata…^^

~*~

Malam hari, usai bekerja, aku tak menuju taman. Karena besok ada ulangan bahasa inggris, kuputuskan tidak bermain ke sana.

Baru beberapa menit aku memahami materi di buku tulisku, pikiranku sudah mengembara.

Apa dia masih latihan di tempat itu?

Ria! KONSENTRASI!!! Besok ulangan.

Aku membaca lagi.

*_*_*_*_*

-Angga-



Aku mainkan bola basketku. Memikirkan tentang Ria yang tak kunjung datang ke tempat latihan. Apakah benar-benar berakhir?

Seminggu sudah berlalu. Ria yang selalu melintas di depan kelasku saat istirahat, menjadi hal yang paling kunantikan. Berharap aku bisa mempunyai keberanian bertanya padanya akankah dia datang ke tempat latihan dulu. Tapi sayangnya aku tetap diam.

Masalah taruhan aku tak mau melanjutkannya lagi. Moodku sudah hilang. Syntia juga nampaknya tak begitu tertarik. Sudahlah. Yang utama adalah Ria!

Aku menghentikan permainanku. Aku duduk di kursi di dekat lapangan. Memutar-mutar bola yang ada di tanganku.

“Angga?” seseorang menyebut namaku dengan ragu. Aku mendongak dan menemukan sosoknya sudah berdir di depanku.

“Kau latihan di sini?” tanyanya.

Aku mengangguk. Sebuah senyum terukir di bibirku. Juga hatiku ^^

Dia duduk di sampingku. Keadaan kami terlihat canggung.

“Kau sendiri? Kenapa hari ini ke mari?”

“Aku baru bisa main hari ini. Di taman kurang seru, kuputuskan ke mari. Tidak disangka kau ke sini juga.” ^^

Aku tersenyum. Bahagia.

*_*_*_*_*

-Ria-



Ulangan berakhir. Usai kerja aku langsung ke taman. Berniat main basket di sana. Sayangnya konsentrasiku kacau. Pikiranku terus mengembara ke tempat latihan yang dulu.

Aku berhenti, dan memutuskan pergi ke sana. Apa dia ada di sana? Jangan terlalu berharap Ria!

Tiba di sana ku lihat dia sedang duduk.

“Angga?” panggilku ragu.

Dia mendongak.

“Kau latihan di sini?”

Dia mengangguk. “Kau sendiri? Kenapa hari ini kemari?”

“Ah, aku baru bisa main hari ini. Di taman kurang seru, kuputuskan kemarin. Tidak disangka kau ke sini juga.” ^^

Kudapati senyum lembutnya. Senyum yang langsung basuh rinduku akan sosoknya.

*_*_*_*_*

-Angga-



Setelah itu, kami bermain basket bersama lagi. Satu lawan satu. benar-benar menyenangkan. Bersamanya terasa lebih mudah menemukan kecerian. Dia teman terbaikku. Pertaruhan yang aneh sudah kuakhiri. Dan tebar pesona sana-sini juga. Cukup Ria melihat padaku, aku sudah puas. Apa aku lagi-lagi jatuh cinta? Cinta yang sesungguhnya? Hahaha, entahlah… mungkin saja YA.

Ria selalu melintas di depan kelasku. Membuat daftar kegiatan harian (menunggu dia melintas) di kehidupan SMAku tak sia-sia. Tak peduli kebodohan apa yang kulakukan di depannya, asal dapat membuat dia tersenyum, aku akan melakukannya. Ria, ini cinta, aku tahu. Aku ingin menggenggammu, tapi mungkin kau tidak mau. Aku akan sabar sampai hari itu tiba. Kuharap, aku tak akan terluka.

~*~

Hari berlalu. Kami sudah masuk kelas tiga SMA. Sudah saatnya fokus pada kelulusan dan tes masuk universitas.

Kami belajar bersama-sama. Lebih sering di rumahnya. Ayah dan ibunya sangat ramah. Kadang, jika tidak bisa kami akan bertanya pada tetangganya yang pandai. Selama ada dia, kurasa sepanjang hari adalah hari terbahagia dalam kehidupanku.

Aku dan dia tetap berstatus sebagai teman sekolah. Teman dalam belajar. Aku tak ingin lebih. Jika ‘lebih’ itu justru membuat jarak yang dekat ini menjauh, aku lebih baik begini.

Tiap hari seperti itu. Saat libur aku coba buat alasan untuk bisa bertemu. Dia hanya bersedia jika aku berkata bertemu untuk mengingat pelajaran-pelajaran yang telah lalu, tak mau membuat waktu berharga untuk hal-hal yang tak begitu penting. Makanya, aku bilang aku mau belajar bersama-sama. Haha…

~*~

Musim berganti dan ujian pun tiba. Aku sama gugupnya dengannya. Kami saling menguatkan satu sama lain.

“PASTI BISA!!!” kataku.

Dan dia membalas,

“SEMANGAT!!”



Kemudian tiba saatnya untuk menyiapkan masa depan masing-masing. Ujian nasional telah terlewati, kami lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Kini saatnya menyiapkan diri untuk masuk universitas.

Aku dan dia belajar keras. Dia yang ingin masuk di arsitek dan aku yang ingin masuk di kedokteran.

Kami saling mendukung satu sama lain.



Hari ini adalah pengumuman universitas. Kami membaca koran yang akan memajang siapa saja yang lolos seleksi. Dan… untunglah kami sama-sama di terima di universitas yang kami pilih masing-masing.

Aku mengajaknya merayakan keberhasilan kami bersama-sama. Untuk kali ini karena sudah tidak ada beban lagi, dia bersedia keluar bersamaku. Tak terkira betapa senangnya aku.

Aku mengajaknya ke bioskop, ke café, ke book shoop (dan membelikannya satu buku yang menurutku diinginkannya), kemudian ke taman. Kemudian aku mengajaknya ke pantai. Dia berkata “Semoga bisa bertemu di lain waktu.”

Ya, karena dia memilih universitas di luar kota. Begitu juga denganku. Kami berbeda tempat. Jadi mungkin sulit untuk bertemu. Tapi kuharap dia mau memenuhi permintaan yang entah sejak kapan kuharapkan dia penuhi.

Kutatap dia. Tiba-tiba saja detak jantungku jadi lebih cepat. Dia masih memandang laut di depan kami. “Saat itu…”

Dia menoleh. Menatapku. Detak jantungku semakin cepat.

“Saat itu…,” ulangku, “jika saat itu aku sudah sukses, maukah kau ada di sisiku selamanya?”

Dia menatapku bingung.

Aku semakin gugup. Akankah perasaanku ini hancur lagi seperti tahun-tahun yang lalu?

“Lima tahun,” lanjutku, “aku janji lima tahun lagi aku akan datang menemuimu. Jika saat itu tiba, maukah kau menikah denganku?”

Dia memandangku.

“Aku mencintaimu, Ria. Jika saat ini aku masih bernaung di bawah ayah dan ibuku, aku janji lima tahun nanti aku akan berdiri di kakiku sendiri. Aku janji kau tak akan menyesal menungguku.”

Dia masih diam. Sial!! Kegugupanku semakin menjadi.

“Aku… sudah hampir dua tahun ini mencintaimu. Bahkan kau bisa pastikan, lima bahkan dua puluh tahun yang akan datang, perasaanku tak berubah. Aku… aku pasti masih mencintaimu.”

Dia tersenyum tipis. Kutemukan wajahnya bersemu merah. Apakah itu artinya dia merasakan hal yang sama denganku?

“Berjanjilah… bahwa kau akan menungguku.” Pintaku. Dia mengangguk. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku benar-benar bahagia! Dialah penyemangatku! Ria, tunggulah aku!!!

~*~

Enam bulan pertama aku dan dia masih saling komunikasi. Tapi setelah enam bulan itu aku kehilangan sosoknya. Aku mencarinya. Dua tahun berlalu tanpa menghasilkan apapun. Di bulan berikutnya justru mengejutkanku. Dia berhenti kuliah karena orang tuanya mneningal dunia. Saat ini dia tinggal dengan bibinya di tempat yang jauh dariku.

Aku menyesal tak berada di sisinya saat itu. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membayarnya di lain waktu.

Bersama janji itu, aku meneruskan kuliahku. Di waktu yang kosong, dan jika memungkinkan kugunakan untuk mencarinya.

~*~

Delapan tahun berlalu. Aku tak bertemu dengannya. Aku telah lulus dan bekerja. Reuni SMA yang kuharap bisa menjadi jalanku bertemu dengannya ternyata hanya mimpi belaka.

Nyaris aku menyerah. Ketika hari ini, setelah reuni itu, saat aku mengunjungi suatu kota untuk seminar, aku melihat sosok yang begitu mirip dengannya. Kembali, aku tak bisa melepaskan mataku darinya.

Aku mengikutinya masuk ke sebuah book shop.

Aku berdiri di samping kanannya. Menatap wajahnya lekat. Wajah yang begitu aku rindukan. Napasku tertahan. Denyut jantungku juga.

Seperti merasa ditatap olehku, dia menoleh. Buku yang dipegangnya terjatuh.

“Hai…” sapaku. Nyaris menangis.

“Angga…” lirih suaranya seperti ditelan angin.

“Lama tak bertemu,” ujarku.

“Mm-mm…” dia mengiyakan sambil mengambil bukunya yang jatuh. Sekilas kulihat judul buku itu. Buku itu untuk ibu hamil. Tenggorokanku tercekat. Kemudian mengering saat mendapati jari tangannya tersemat cincin pernikahan. Apakah… aku terlambat? Apakah… dia tak sanggup menungguku?

“Sudah berapa tahun ya?” tanyanya canggung.

Ria, apa kau tahu hatiku gerimis sekarang?

Aku mencoba bersuara. “8 tahun,” lirihku. Air mataku nyaris jatuh.

“Ah, aku bayar buku ini dulu,” katanya lalu menuju kasir.

Aku mengikutinya.

Kami keluar dari book shop itu. Ia mengajakku ke taman yang tak jauh dari book shop tersebut.

Lima menit kami terdiam. Seolah terbawa ke masa lalu. Aku dan dia menghela napas bersamaan. Hal itu membuat kami tertawa canggung.

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku.

“Baik. Seperti yang kau lihat. Kau?”

“Setelah bertemu denganmu, aku tak tahu apa yang kurasakan.”

Dia memandangku. “Maaf…” lirihnya.

“Apa… aku bisa menagih janjiku sekarang?”

Dia terlihat terkejut.

*_*_*_*_*

-Ria-

Seperti merasa ditatap, aku menoleh. Buku yang kupegang terjatuh saat mendapati wajah lembut itu.

“Hai…” sapanya.

Dadaku langsung sesak. Darah serasa berhenti mengaliri tubuhku. “Angga…” lirih kusebut namanya.

“Lama tak bertemu,” ujarnya.

“Mm-mm…” aku mengiyakan sambil mengambil bukuku yang jatuh. “Sudah berapa tahun ya?” tanyaku canggung.

“8 tahun,” lirihnya.

Dada dan hatiku terasa sakit. Benar-benar merasa bersalah jika dia masih menungguku. Aku baru saja menikah dengan seseorang yang kucintai dua tahun lalu. Orang yang selalu ada saat senang dan dukaku. Orang yang hadir dengan segala kelembutannya. Aku merasa nyaman bersamanya. Dan Angga, entah sejak kapan aku menganggapnya sebagai masa lalu.

“Ah, aku bayar buku ini dulu,” kataku lalu menuju kasir.

Dia mengikutiku.

Kami keluar dari book shop itu. Aku mengajaknya ke taman yang tak jauh dari book shop tersebut.

Lima menit kami terdiam. Aku dan dia menghela napas bersamaan. Hal itu membuat kami tertawa canggung.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Baik.” Jawabku tak nyaman, “Seperti yang kau lihat. Kau?”

“Setelah bertemu denganmu, aku tak tahu apa yang kurasakan.”

Aku memandangnya. “Maaf…”

“Apa… aku bisa menagih janjiku sekarang?”

Aku menatapnya. Terkejut, meski kutahu kemungkinan itu: menungguku hingga saat ini.

“Angga…” lirihku. Aku benar-benar menyesal. “Maaf… benar-benar maaf…”

Segurat luka terbias di wajahnya.

*_*_*_*_*

-Angga-



“Angga… Maaf… benar-benar maaf…”

Sial!!! Kenapa hanya karena kata-kata itu hatiku sakit!

“Maaf…”lirihnya lagi.

Aku menggigit bibir bawahku. Aku harus terlihat tegar. “Kau…” tenggorokanku kembali kering, “Sudah menikah?” suaraku seperti di telan angin.

“Eh?” dia mengangguk lemah.

“Apa kau bahagia?”
Dia mengangguk pelan. Takut menyakitiku, mungkin.

Aku terdiam. Sekali lagi hatiku teriris. Entah berapa luka yang terukir di sana. Ingin bertanya lebih tapi ketakutanku jauh lebih kuat. Aku takut terluka semakin dalam.

“Benar-benar maaf…” ucapnya.

“Tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf. Aku yang terlambat datang padamu. Seandainya lebih cepat….“

Kembali dia menunduk. Terlihat merasa bersalah sekali.

“Dulu… 8 tahun lalu… pernahkah kau berharap di lima tahun kemudian menikah denganku?” pertanyaan itu tak sadar kulontarkan padanya. Ah, tapi sebenarnya aku ingin tahu.

Dia mengangguk sambil menggigit bibirnya. Setetes air matanya jatuh ke tangannya.

“Itu cukup melegakanku.” Aku berusaha tersenyum. “Bayimu… “ aku mengehela napas saat dia mengangkat wajahnya. Aku menatapnya lembut. “Sudah berapa bulan?”

Dia menatap perutnya sesaat. “4 bulan.” Katanya setengah berbisik. Di peluknya perutnya. Kutemukan sinar bahagia di matanya.

“Sepertinya aku harus pergi.”

Aku melangkah, tapi tiga langkah kemudian aku berbalik, “Maaf karena di saat sulit itu aku tidak ada di sisimu.”

“Eh?”

“Saat kecelakaan ayah dan ibumu.”

“Ng-ng…” dia menggeleng. “Tidak apa-apa.” Dia tersenyum. Senyum yang selalu menghangatkan hatiku.

“Senang bertemu denganmu lagi.”

Dia mengangguk.

“Sampai jumpa.”

Ia mengangguk lagi. “Sampai jumpa.”

Aku segera berbalik. Benar saja, air mataku jatuh sekarang. Bahagiaku sudah pergi. Dia mengulurkan tangannya pada orang lain.

“Semoga saat itu kau sudah menemukan pasanganmu.” Ucapnya. Aku tersenyum luka, melambai padanya tanpa berbalik. Melangkah meninggalkannya.

~*~

Hujan di musim semi jatuh membasahi tubuhku.

Basahi hatiku

Air mata tak mau berhenti

Apakah bisa, resahku dan hatiku tak lagi untukmu?

Bisakah aku menghilangkan perasanku padamu?

Jika esok atau lain waktu kita bertemu, apa aku masih punya kekuatan untuk menyapamu, Ria?



I was here

You were there

Guess we never could agree

While the sun shines on you

I need some love to rain on me

Still I sit all alone

Wishing all my feelings was gone

Gotta get over you

Nothing for me to do

But have one last cry



One last cry

Before I leave it all behind

I goota put you out of my mind

For the very last time

Been living a lie

I guess I'm down, I guess I'm down

I guess I'm down...

I guess I'm down...

To my last cry...

(One Last Cry –Yoochun version)

~Tamat~
oke ga?

No comments:

Post a Comment