Sekali lagi dari short FF saya. Moga-moga kalian suka ya… ^^
---------------------------------------------------------
Title: Crying Heart
Oleh: Imah Hyun Ae
Disclaimer: murni khayalan saya di hari hujan yang lebat, ^^
CRYING HEART
Hujan lebat di luar sana Nana… Ikuti gerimis yang berturut-turut dan setiap hari membanjiri hatiku. Rintik kecilnnya ukirkan wajahmu yang basah tapi ceria di benakku.
***
Splash!
Kau menyiramku dengan genangan air hujan saat kita berhujan ria dalam perjalan pulang sekolah lima tahun lalu.
“Ya~!” teriakku kaget. Aku segera membalasmu. Kau menjulurkan lidah. Tertawa sambil berlari menghindariku. Aku mengejarmu.
Kita menari di bawah hujan hari itu.
Kenapa? Kenapa kau hanya memandangku sebagai teman? Bukankah sudah pernah kubilang, ‘Kau hidupku’? Apa kau tak mendengarnya? Apa kau lupa?
Tidak… kau tak mendengarnya, karena aku… mengatakannya dengan keras di hatiku saja.
Kulihat kertas tebal di tanganku. Hatiku sakit. Tulisan di sana menyakitiku.
Resepsi Pernikahan: Nana dan Enda
Hari: Rabu, 11 Agustus 2010
Tempat: Hotel Aquarius
Aku mengatup kedua bibirku dengan rapat. Perih itu makin membuat dadaku sesak.
Kabut menggantung di mataku. Aku tahu, sesaat lagi, butiran bening ini akan mengaliri pipiku.
Pagi kemarin…
“Kakak baru bangun?” tegurmu ketika aku membukakan pintu untukmu. Kau mengunjungi di waktu yang berbeda dari biasanya.
Aku hampir sebulan di luar kota. Jadi, sepagi ini kau menemuiku, apa karena merindukanku?
Aku mengangguk dan mempersilahkanmu masuk.
“Tumben kau sepagi ini ke tempatku? Ada hal penting? Atau kau merindukanku?” godaku.
Kau tergelak. “Umm… Sebenarnya aku ingin Kakak orang yang pertama tahu, setelah kedua orang tuaku tentunya.”
“Tahu? Tentang apa?” aku memandangmu antusias.
Kau tersipu, entah karena apa. Rona wajahmu terlihat sekali bahagia. Kabar baik kah? Aku menduga-duga.
“Aku… akan menikah…” lirihmu. Tapi senyum yang terukir di wajahmu menunjukan itu hal yang paling dinantikanmu selama ini.
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Sungguh?”
Kau mengangguk. Lalu mengeluarkan sebuah undangan.
“Aku sengaja mengatakannya setelah undangan ini jadi, hehehe…” kau menyerahkan undangan yang ada di tangan kanannya padaku. Dengan enggan aku mengambilnya. “Kakak terkejut kan?” tanyamu gembira.
Senyumku tak mampu terukir dengan sempurna.
Kau kembali tertawa. “Kakak mau kan menyanyi di pernikahanku?”
“Kalau aku tidak mau, kau akan marah?” tanyaku lambat.
Kau memandangku, sedikit terkejut. “Tentu saja. Kakak tamu utama di pestaku lho! Jadi Jangan sampai tidak datang! Aku akan membencimu selamanya!” ancamnya tak serius.
“Calon suamimu… apa aku mengenalnya.” Aku menghela napas. Tak sanggup mengingat kau akan menikah sebentar lagi.
Kau diam sesaat. “Kurasa Kakak kenal. Dia teman sekantorku.”
“Kenapa aku tidak tahu kau pacaran dengannya?”
Kau menggeleng cepat. “Kami tidak pacaran, Kak.”
Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa maksud kalimatmu.
“Dia mengajakku makan malam, dia bilang dia mencintaiku,” pandangan matamu berbinar. Apa itu kebahagian?
“Dan saat itulah dia melamarku,” bisikmu pelan.
“Saat itu juga kau meerimanya?”
Dengan malu-malu kau mengangguk.
Kenapa? Aku yang selama ini mencintaimu, di dekatmu, memperhatikanmu, kenapa kau memilihnya?
“Karena aku mencintainya…” ucapmu seolah mendengar pertanyaan batinku. “Makanya saat dia bilang mau menikah dneganku aku terima.”
“Kau tidak ingin mengenalnya lebih dulu?”
Kau menggeleng. “Kurasa sudah cukup mengenalnya, hehe…”
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.
“Aku mau bilang pada Kakak, juga memperkenalkannya pada Kakak, tapi waktu itu Kakak ada tugas di luar kota. Kuputuskan mengatakannya saat Kakak datang saja, tapi berubah pikiran, lebih baik saat undangan jadi saja, biar jadi kejutan, hehehe…” Senyum khasnya lagi-lagi mengembang. Senyum yang begitu kusukai, tapi hari ini amat melukaiku.
“Jadi…” ia menatapku penuh harap, “Kakak pasti datang dan menyanyi kan?”
Aku mengangguk pelan waktu itu...
Kuletakan undangan dan mendekat ke lemari pakaianku sambil menyekai butiran bening yang jatuh ke pipiku. Kuambil kemeja dan jas yang sudah kusiapkan untuk hari ini. Aku menghela napas berat dan mengenakannya.
Hujan sudah sedikit reda ketika aku tiba di tempat pernikahan itu berlangsung. Kulihat di pelaminan kau bersanding dengan seorang laki-laki yang sepertinya sangat periang. Aku mendekat perlahan.
“Kak Rendi?!!” pekikmu gembira. “Kukira gara-gara hujan kau enggan datang…” ucapmu lega ketika aku sudah di depanmu.
Aku tersenyum sebisaku. “Aku sudah janji kan?” kataku pelan. Kau mengangguk.
“Selamat…” aku menyalamimu dan juga suamimu. Akh… hatiku perih… masih tak terima bahwa kau telah menikah, Nana…
Kau tersenyum lebih gembira dari sebelumnya. “Terima kasih…”
Bagaimana caraku agar tak mencintaimu lagi, Na? Lukaku… semakin menganga lebar. Sekarang rasanya hati ini tak lagi perih, tapi juga berlumuran darah…
-end-
Hahaha, benar-benar pendek ya? ^__^
Aku tidak tahu lagi bagaimana memperpanjangnya. Karena setelah kucoba, ceritanya jadi menjemukan. Begitulah… makanya aku memutuskan seperti ini saja.
O, ya. Main-main ke ceritaku yang lain jugaya ^__^
No comments:
Post a Comment