Friday, August 6, 2010

cerbung: Kenangan tanpa nama 1

Update: 14 Februari 2010 dan 17 Februari 2010

Adaptasi: dari MV SS501 collections. Pas lihat MVnya jadi pengen memnggambarkan kisahnya dalam bentuk cerita ^^



“Memories Without A Name”

By Imah Hyun Ae





Chapter 1

Why…



-Rina-

Aku terperangkap dalam sebuah mobil BMW silver. Di belakang kemudi tampak laki-laki bermata tajam dengan garis kesedihan tampak di wajahnya. Aku tergugu. Di antara tegang dan takut yang berkecamuk.

Lima menit sudah aku di dalam. Sambil menangis tertahan memukul-mukul jendela mobil yang tertutup rapat. Udara mematikan mencekamku. Laki-laki itu semakin mendekatkan pistolnya padaku. Memaksaku diam.

Sambil menahan tangisku aku melihat ke jendela. Berharap dunia yang sedang kujalani ini hanya mimpi.

Satu sosok yang ku kenal duduk di belakang kemudi sebuah mobil hitam. Seseorang yang merawat dan menjagaku beberapa minggu ini.

Ku lihat ia menoleh ke arahku. Bola matanya membesar. Dengan segera ia memacu mobilnya. Mengejar mobil yang membawaku yang tiba-tiba berbelok ke kiri dengan kecepatan penuh. Mobil tiba-tiba berhenti mendadak di sebuah parkiran kantor yang sudah tak dipakai.

Laki-laki yang bermata dingin itu keluar dari mobil. Di ikuti oleh laki-laki yang ku kenal. Keduanya sama-sama menodongkan pistol. Seseorang keluar dari mobil yang tidak kusadari. Dia... kekasihku. Aku bernapas lega. Untunglah dia tidak apa-apa.

Dia juga menodongkan pistol. Ke arah lelaki yang kukenal. Tapi lelaki bermata dingin langsung menodongkan pistolnya padanya. Lelaki yang ku kenal masih kukuh menodongkan pistolnya pada lelaki bermata dingin itu.

Biar ku bertitahu kalian siapa mereka. Lelaki bermata dingin itu adalah Angga. Lelaki yang ku kenal adalah Hendra. Dan kekasihku, bernama Leo.

Bersama dengan ketegangan yang menyelimuti seluruh tubuhku aku keluar dari mobil. Napasku jelas sudah tak teratur. Angga yang menyadari aku keluar dari mobil langsung menodongkan pistolnya padaku.

”Kenapa....? KENAPAAA????” tanyaku padanya. Tangisku pecah.

Ia hanya menjawab dengan tatapan dingin.

”Kenapa kau lakukan ini padaku???” sekali lagi aku bertanya. Dan jawaban yang kudapat adalah sebuah tembakan. Aku memejamkan mataku. Ku dengar suara jatuh ke tanah. Sebuah tembakan terdengar lagi. Seseorang ku dengar merintih. Anehnya itu bukan aku.

DOR!

Sebuah tembakan terdengar lagi. Dengan ragu ku buka mataku. Kudapati ia yang sedang menodongkan pistolnya ke Leo. Kakinya berdarah.

Pandanganku langsung kabur. Butiran air mata membanjiri pipiku. Aku tahu sekarang,tembakan pertama mengenai Hendra. Ia langsung jatuh ke tanah. Darah mengalir dari dada kirinya. Mungkin mengenai jantungnya. Tembakan kedua mengenai Leo. Mengenai dada kanannya. Ia merintih. Tembakan terakhir dari Leo. Mengenai kaki kanan Angga. Angga langsung terduduk.

Kurasakan persendianku lemas. Aku seperti kehilangan nyawa-nyawaku. Hendra yang tak bergerak sama sekali. Leo yang menatapku seolah untuk yang terakhir kali.

Aku menangis tanpa suara sekarang. Leo roboh dan matanya masih menatapku. Aku tahu aku sesegukan sekarang.

Angga yang meringis menahan sakit di kakinya perlahan berdiri. Mendekatiku. Sisa tenaga yang kupunya hanya bisa menolongku merangkak mundur. Terhenti di pojok dinding parkiran. Aku masih menangis. Menutup kedua telingaku. Ia semakin dekat. Dan ingatan tentang mereka itu menyeruak keluar. Kenangan tanpa nama itu menyesakkan butiran-butiran air di kelopak mataku. Membuatnya terjatuh. Sekali lagi air mata membanjiri pipiku.

***
comment...

No comments:

Post a Comment